5. Secepat itukah?

105 12 0
                                    

Rara sedang berbaring di sofa dan abangnya ia duduk dibawah sibuk dengan stik ps nya.

"Bang"

"Hmm"

"Abangg ih"

"Apasi Ra"

Rara beralih dan duduk disamping Elvin. "Mama sama papa sibuk kerja terus, pulangnya selalu malem"

"kita harus ngerti Ra, mama sama papa kerja juga buat kitakan? Buat biaya sekolah buat kebutuhan kita" ucap Elvin.

"Tapi bang, gue pengen kita kumpul gitu"

"udahlah gausah bahas itu"

Elvin memang tidak suka jika Rara membahas orangtuanya. Elvin mengerti, bahkan Elvin sama seperti Rara ingin berkumpul dengan kedua orangtuanya. Tapi apa boleh buat mereka sibuk kerja, terkadang pergi keluar kota.

Drtt..drtt

Handphone Rara bergetar, ada notifikasi masuk entah dari siapa. Rara membuka hpnya ternyata mamanya yang mengirim pesan.

Ra nanti kamu siap-siap, bilang abang kamu juga. Nanti mama jemput

Rara mengernyit bingung, ia mematikan kembali layar ponselnya.

"Bang"

"Hmm"

" Mama suruh kita siap-siap"

"Mau?"

"Gatau" Rara beranjak bangun. "Gue kekamar dulu"

Di sisi lain pun Bobby sedang memainkan stik ps nya. Tiba-tiba wanita separuh baya memasuki kamarnya, ia menghampiri Bobby. "Sayang Ayah nyuruh kamu siap-siap sekarang"

Bobby berdecak kesal ia sedang asik bermain game malah terganggu oleh Bundanya. "mau kemana si bun?"

Susi Bundanya mengelus kepala Bobby, "udah siap-siap sekarang bunda tunggu dibawah, jangan lama" titahnya.

"Iya" ketusnya.

Terdengar suara ada yang membuka pintu, Rara menoleh kearah seseorang yang baru saja masuk kekamarnya, dia adalah Gita Mamanya.

"Udah siap sayang?" Rara mengangguk.

"yaudah ayo kamu duluan ke bawah, mama kekamar abang dulu"

Gita menghampiri kamar Elvin, terlihat disana Elvin sedang tidur disofa kamarnya.

Astaga Elvin-batinnya.

Gita mengguncang-guncangkan tubuh Elvin "Abangg"

"Hmm"

"Kamu ini gimana si, mama udah mau berangkat masih aja tidur. Tadi kan mama udah bilang kalo kamu sama Rara siap-siap"

"Elvin gaikut ngantuk ma"gumamnya sambil mata yang masih terpejam.

"yaudah mama pergi sama Rara"

"Hmm"

Gita menuruni anak tangga, terlihat disana ada anak keduanya yang sangat cantik.

"Papa mana?"tanya Rara.

"Papa nanti nyusul kita, ayo berangkat"

"Abang?"tanya Rara.

"Abang kamu ngantuk, jadi gaikut katanya" Rara mengangguk.

Rara ini memang anak yang baik, ia tidak pernah membantah kedua orangtuanya. Sikapnya disekolah memang sangat berbeda, disekolah ia terlihat tidak mempunyai adab dan sopan santun.

Bobby sudah berada di sebuah lestoran yang tak lain milik zian, yaitu ayahnya. Seorang pelayan menghampiri mereka, "tuan mau pesan apa?"

"Nanti saja, saya lagi nunggu kerabat saya"

"Baik tuan, permisi"

Bobby terlihat bingung dengan apa yang Ayahnya katakan tadi. Bobby hanya fokus memainkan ponselnya,

Terlihat seorang separuh baya dan seorang gadis cantik memakai dres selutut rambutnya ia gerai sehingga menambah aura kecantikannya berkalikali lipat.

"Tuh Gita dateng mas" ucap Susi.

Gita yang melihat keberadaan susi, langsung menghampiri mereka.

"Hai sus udah lama ya kita gaketemu"ucap Gita.

Sedari tadi Rara hanya menatap sinis Bobby yang masih fokus pada hp, "eh ayo duduk silahkan" ucap Zian, ayah Bobby.

"Oh iya terimakasih"

Bobby mendonggakkan kepalanya, terkejut melihat gadis yang ada dihapadannya sekarang.

"Wah ini anak kamu, udah besar makin ganteng aja"ujar Gita.

"Anak kamu juga cantik, ganyesel kita adain perjanjian dulu"ujar Susi.

Perjanjian? ,batin Rara

Perjanjian apa, gajelas. Batin Bobby.

Terlihat wirawan menghampiri mereka, " zian, maaf saya datang telat"

"Tenang saja kamu ini"

"Kita langsung ke intinya aja"ucap Zian.

"Jadi gini, kita kan pernah buat Janji Susi dan Gita sedang mengandung. Dan kita akan jodohkan anak kita berdua, kalian kan sudah besar sekarang"

"Jadi gimana Bob?" Ucap Zian.

Bobby mengernyit bingung apa yang dikatakan ayahnya."Maksud ayah?"

"Bunda sama ayah kamu sepakat menjodohkan kamu dengan anak pak wirawan"

WHAT?
Rara syok bukan main, begitupun dengan Bobby.

"Maksudnya gimana ma, pa? Masa aku di jodohin sama cowok yang selalu ganggu aku" Gurutu Rara

"Ma, aku sama dia?" Ucap Rara menunjuk Bobby.
Mereka semua menggangguk terkecuali Bobby.

Rara menggelengkan kepala. "Tapi ma-" lirih

"Udah sayang" ujar Gita meyakinkan putrinya itu.

"Rara pasti mau kok jeng susi secarakan Bobby orangnya ganteng" Ucap Gita dengan

"Gimana Bobby kamu mau?" Rara hanya memejamkan matanya berharap Bobby menjawab apa yang sesuai ia harapkan.

tanpa berpikir panjang "Iya saya mau Om" Rara terlonjak kaget, Rara berpikir Bobby tidak akan menerima perjodohan ini.

"Baiklah semuanya sudah sepakat, kita bicarakan tanggal pernikahan nanti"

"Lebih cepat, lebih baik bukan"ucap Zian.

"Boleh, makin cepat makin bagus"

Shit!

Rara frustasi kenapa kedua orangtuanya sangat keras kepala.
Rara masih SMA bagaimana jika teman-temannya tau? Menikah saat SMA?! Tidak terbayangkan olehnya.

INDIRATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang