Menjadi 'Kita'

126 6 0
                                    

Pagi ini, Meldina tampak sibuk mematut diri di depan cermin kamarnya. Sedari tadi ia berulang kali mengecek penampilannya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Cek sepatu bersih, seragam rapi tidak kusut karena baru disetrika, rambut oke dengan kunciran kuda menyisakan helaian poni yang menutupi keningnya. Sedangkan wajahnya, masih seperti biasanya, bentuk sedikit oval, hidung mancung yang disentuh oleh riasan bedak sederhana dan lipbalm agar bibirnya terasa lembab. Secara keseluruhan semuanya sempurna versi Meldina.

Tidak biasanya memang Meldina terlihat antusias terhadap penampilannya. Biasanya juga ia selalu tampil apa adanya dan cenderung cuek. Tapi hari ini istimewa. Sangat istimewa. Karena ia akan bertemu dengan Abenta, cowok pujaan hatinya. Tidak apa - apa kan mengakui cowok itu pujaan hatinya? Meskipun bukan pacar.

Meldina tersenyum puas dan segera beranjak meninggalkan kamarnya. Di meja makan ia bertemu dengan kakek dan neneknya. Ya, ia tinggal dengan kakek dan nenek dari pihak ibunya. Sedangkan orang tuanya tinggal di luar pulau jawa. Baru pindah beberapa tahun yang lalu karena pekerjaan yang mengharuskan keluarganya pindah. Meldina memilih tetap tinggal bersama kakek dan nenek dikarenakan ia tidak mau dan belum siap meninggalkan kota kelahirannya. Mungkin nanti setelah lulus, ia akan menyusul ke tempat orang tuanya berada.

"Pagi Kek, pagi Nek," sapanya.

"Pagi. Sarapan dulu Mel, ada nasi goreng sama telur ceplok kesukaan kamu."

Nenek Asih menyodorkan sepiring nasi goreng dengan telur ceplok diatasnya ke hadapan Meldina.

"Makasih Nek."

Setelah itu hening. Tidak ada lagi percakapan. Meldina sibuk menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya begitupun dengan kakek dan neneknya.

Mereka bukan keluarga yang dingin. Bukan juga sedang ada permasalahan makanya tak ada satupun percakapan yang keluar di aktivitas sarapan pagi, melainkan kakek Meldina, Broto melarang keras perbincangan di saat makan. Kata beliau bercakap-cakap di saat makan bisa merusak selera makan dan sekaligus tidak sopan.

Usai sarapan, Meldina berpamitan untuk pergi ke sekolah. Dengan mobil angkot jemputan seperti biasanya, ia pulang pergi ke sekolah.

Setelah turun dari angkot, ia berjalan di sepanjang jalan menuju lapangan bola yang berjarak kurang lebih 50meter dari sekolahnya. Sesekali ia menoleh ke belakang dengan perasaan gugup dan berdebar. Menunggu kehadiran seorang Abenta. Ini akan menjadi kali kedua ia bertemu dengan Abenta. Setelah pertemuan pertama yang membuatnya seakan luluh dengan pesona cowok itu. Menciptakan perasaan asing yang baru pertama kali ia rasakan.

Kali ini ia penasaran, apa yang membuat Abenta mengajaknya bertemu. Padahal dalam sepekan lebih ini selama perkenalan, dia tidak ada basa basi untuk mengajaknya bertemu. Yah, walaupun selama itu juga Meldina berharap mereka bertemu. Tapi mengingat pertemuan yang akan berlangsung sekarang, membuatnya benar - benar gugup.

Tak lama kemudian terdengar deru motor yang mendekatinya. Ia menoleh ke belakang tubuhnya. Ia berhenti berjalan. Terpaku. Tertegun. Terserah kata apa yang mewakili aktivitas nya sekarang. Yang jelas, hatinya berdebar, jantungnya berpacu. Ia menahan nafas melihat sosok cowok dengan motor matic mendekatinya. Iya motor matic. Kenapa bukan Ninja Kawasaki atau sejenisnya? Jangan tanya Meldina alasannya. Karena ia juga tidak tahu. Tanya saja sama penulis cerita ini.

Abenta tidak sendiri, ia bersama dengan teman cowoknya. Mungkin satu sekolah dilihat dari seragamnya yang sama. Mereka berhenti tepat di hadapan Meldina yang masih terpaku di tempat. Meldina mungkin lupa untuk bernafas seiring dengan motor Abenta yang sudah dimatikan mesinnya.

"Hai."
Abenta menyapa Meldina dengan kaku. Membuat teman di belakangnya yang masih duduk di jok motor berdecak.

Meldina akhirnya menarik nafas pelan. Menyembunyikan kegugupan yang menerpanya.

PUPUS (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang