Memasuki awal semester genap, para murid SMK Pertiwi kembali disibukkan dengan rutinitas biasanya, yaitu mengikuti berbagai mata pelajaran dan ulangan harian. Di SMK Pertiwi ini hanya terdapat tiga jurusan keahlian, yaitu TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan), TW (Teknik Welding/ teknik Las), dan Jurusan Akuntansi.
Hari ini kelasnya Meldina, yaitu XI TKJ 3 terdengar gaduh yang disebabkan oleh kumpulan cowok yang tengah bermain bola di dalam kelas. Pantas saja suasana terdengar gaduh dikarenakan Guru mata pelajaran Kewirausahaan mereka tidak dapat hadir, sehingga hanya diberi tugas mencatat. Sementara kumpulan cowok tengah asyik bermain bola sambil sesekali bercanda, beberapa anak cewek ada yang tengah bergosip ria, bermain hp dan ada juga yang tengah sibuk mencatat. Meldi terlihat serius mencatat materi di papan tulis. Ia selaku sekretaris kelas, mau tidak mau menuliskan materi tersebut di papan tulis agar dapat disalin teman - teman lainnya.
Duarr
Meldi yang tengah serius menulis, dikagetkan oleh suara bola memantul di papan tulis yang sebelumnya menyerempet lengan kanannya. Meldi terlihat geram menahan amarah. Sudah sejak awal Meldi memperingatkan agar tidak bermain bola di dalam kelas, namun ucapannya hanya dianggap angin lalu oleh teman - teman cowoknya.
"Sorry Mel, ga sengaja!" Teriak Aras, cowok berperawakan jangkung tanpa ekspresi berdosa.
Meldi menatap Aras dengan tatapan emosi.
"Kalian!! Kalau mau main bola keluar sana!! Kalian bisa hargain gue dikit ga sih?!! Gue capek - capek nulis disini, kalian malah ribut sendiri!!" Teriaknya."Kita kan udah bilang sorry Mel, ga usah marah gitulah," tambah Handa temannya Aras.
"Ga usah marah lo bilang!! Oke fine, kalo kalian ga bisa diam gue panggil guru BP sekarang!!"
Meldi beranjak dengan langkah kesal sembari menenteng bola. Ia berjalan ke arah ruangan guru BP. Tak ia hiraukan teriakan teman - teman cowoknya. Ia sudah sangat kesal. Kerja kerasnya seperti tak dihargai. Kalau bukan tuntutan sebagai sekretaris, mana mau ia susah - susah mencatat di papan tulis.
Meldi kembali ke kelas bersama Pak Bani selaku guru BP yang terkenal sabar. Murid - murid yang tadinya ribut, langsung terdiam melihat kedatangan guru BP tersebut bersama Meldi."Kata Meldi, kalian ribut dikelas. Tolong diam dan hargai teman kalian ini. Kalau sampai saya dengar kalian ribut dan bermain bola di kelas lagi, saya tidak segan - segan untuk menghukum kalian. Mengerti?!" Terang Pak Bani.
"Mengerti pak," jawab mereka serentak.
"Ya sudah lanjutkan mencatatnya dan jangan gaduh," tambah pak Bani sambil beranjak meninggalkan kelas XI IPA3."Huuuuuuuuu!!!!" Teriak anak - anak cowok pada Meldi setelah pak Bani pergi.
"Dasar tukang ngadu!" Teriak Aras.
Meldi tak menggubris teriakan tersebut. Ia melanjutkan mencatat di papan tulis. Belum sampai satu paragraf, ia menulis bel tanda istirahat pertama telah berbunyi. Anak - anak bersorak riang. Mereka langsung berhamburan menuju kantin untuk mengisi perut - perut mereka yang keroncongan. Meldi hanya bisa menghela nafas panjang, antara lega dan kesal.
Meldi menghampiri mejanya dan mendaratkan pantatnya dikursi."Kantin yuk Mel," ajak Dewi teman sebangkunya.
"Ga ah Dew, lagi males," jawab Meldi sambil membereskan peralatan tulisnya.
"Males mulu kerjaan lo."
"Biarin ah. Lagian gue ga laper."
"Oh ya udah, gue kantin duluan ya? Gue mau nyamperin Lea sama Maria dulu di kelas mereka."
"Oke."
"Lo ga ke kantin Na?" Tanya Dewi pada Ratna yang duduk di bangku belakang.
"Kantin. Tunggu bentar gue ambil duit dulu di tas," jawab Ratna cepat.
Lea sama Maria memang berbeda kelas dengan dengan Meldi, Dewi dan Ratna. Lea dan Maria berada di kelas XI TKJ 2, kelasnya tepat di sebelah kelas Meldi.
Sementara teman - temannya tengah berada di kantin, Meldi menelungkupkan kepalanya di bangku, berusaha tidur. Ia memang hobi tidur kalau sedang istirahat, jadi mumpung kelas sepi enakan juga tidur.
Dalam tidurnya, Meldi bermimpi tentang sosok cowok yang samar - samar tersenyum padanya. Wajah cowok itu tidak terlalu jelas, namun senyumnya terlihat jelas. Senyum mempesona yang mampu membuat tubuh Meldi tertegun. Ia terpesona. Sungguh.
Sosok itu mengarahkan tangannya ke Meldi, seperti ingin menggapai Meldi. Namun saat Meldi ingin menggapai balik tangan tersebut, sosok tersebut tiba - tiba mengabur dan hilang. Meldi terperanjat dan mendadak udara disekitarnya seperti menipis. Meldi merasa sesak. Meldi lalu membuka matanya. Lantas ia memegang dadanya yang tiba - tiba merasa nyeri.
Mimpi macam apa tadi? Kenapa mimpi itu terasa begitu nyata hingga mampu membuat perasaannya gundah.Siapa ya kira - kira sosok dalam mimpi Meldi? Oppaku kah? 😁
Sorry banyak banget typo. Sudut pandang penulisnya kurang jelas ya? Mohon maklum, belum pengalaman. Mohon komennya agar kedepannya lebih baik.
Salam manis dari penulis amatir yang kelewat amatiran..
_meirhy_

KAMU SEDANG MEMBACA
PUPUS (End)
RomanceBagaimana jadinya jika seorang cewek pendiam harus terjerat asmara manis masa SMA dengan seorang cowok cuek? Akankah cewek tersebut sanggup menanggung cinta yang terasa seperti bertepuk sebelah tangan meskipun keduanya dalam status pacaran? "Sebe...