Prasangka

115 7 0
                                    

Setelah pernyataan cinta Abenta. Ah bukan. Tidak ada kata Cinta, yang ada hanya ajakan untuk berpacaran. Ya ajakan pacaran Abenta pada Meldina, membuat hari - hari Meldina selama seminggu ini terasa bahagia. Meski mereka berkomunikasi sering lewat ponsel dan jarang bertemu namun sama sekali tidak mengurangi perasaan bahagia di hati Meldina.

Kadang ia berpikir, setelah mereka berpacaran intensitas pertemuan mereka akan menjadi lebih sering layaknya pasangan - pasangan lainnya. Namun semua itu tidak terbukti antara ia dan Abenta. Buktinya selama seminggu ini Abenta tidak pernah mengajaknya bertemu, hanya pesan singkat dan telepon lah yang sering mereka lakukan. Kadang ia takut kalau Abenta hanya mempermainkannya. Namun, rasa takut tersebut segera tertepiskan oleh rasa bahagia berkat telepon dari Abenta. Pesan singkat dan telepon yang terlalu sering itu hanya sekedar berisi perhatian - perhatian kecil yang mungkin untuk sebagian orang terasa sepele. Tapi tidak untuk Meldina. Perhatian - perhatian kecil tersebut walau sekedar lewat pesan singkat mampu membuat senyum Meldina terukir dengan lebar. Ah... Mungkin kata orang itu lah yang namanya jatuh cinta sejuta rasanya. Hal sepele pun terasa sangat berarti.

Namun ada yang berbeda dengan apa yang dirasakan Meldina terhadap salah satu sahabatnya.

Lea. Semenjak Meldina mengumumkan statusnya dengan Abenta dihadapan sahabat - sahabatnya, sikap Lea terasa ada yang salah. Berbeda dengan Fita yang langsung menggodainya, teman - teman lainnya yang memberi dukungan. Tapi tidak dengan Lea. Ia cenderung diam. Bahkan selama beberapa hari ini, ia merasa Lea seakan menghindarinya. Meldina jadi bertanya - tanya pada dirinya, apakah ada sesuatu yang salah dengannya? Ataukah Lea sedang ada masalah? Atau ini ada hubungannya dengan statusnya dengan Abenta?

Dulu saat Lea menceritakan tentang Abenta pada dirinya, Lea terlihat begitu bersemangat dan matanya bersinar cerah. Mungkinkah Lea menyimpan perasaan pada Abenta yang notabennya masih tetangga yang sudah dianggap saudaranya?

Terakhir ia mendengar bahwa Lea telah berpacaran dengan salah satu sahabat Abenta. Ia tidak begitu kenal dengan sahabat Abenta itu. Jadi kesimpulannya, mengapa sikap Lea terhadap dirinya berbeda? Apa itu hanya perasaannya saja?

Untuk memenuhi rasa penasarannya, ia bertanya pada Fita yang kebetulan sedang duduk di pojokan kelas sambil mengerjakan PR.

"Kebiasaan lo Fit, ngerjain PR di sekolah."

"Biarin deh. Males gue ngerjain di rumah, ga ada contekan."

"Kapan generasi muda bakal maju kalo penerusnya aja hobi nyontek."

"Udah diam aja lo Mel. Gue lagi sibuk nih, keburu bel masuk. Urusin aja tuh Pangeran lo itu."

Saat ini memang jam istirahat pertama setelah pelajaran Matematika yang berlangsung dua jam yang lalu. Sungguh pusing memikirkan angka - angka tersebut. Tapi jujur Meldina sedikit lebih menyukai pelajaran Matematika sekarang ketimbang waktu Sekolah Dasar dulu. Ya iyalah dulu kan pernah sering dapat nilai dibawah lima karena ia terlalu pusing menghitung luas, keliling dan volume bangun ruang. Buat apa juga sih menghitung yang begituan, tidak jadi arsitek ini. Begitulah pemikirannya dulu sampai sekarang, mungkin.

Berlanjut ke percakapan Meldina yang akan serius dengan Fita.

"Emang Abenta kenapa kok suruh ngurusin?"

Waktu ia bertanya seperti itu pada Fita, ia berusaha menahan senyum bahagianya. Ia tidak ingin dianggap cewek gila karena keseringan senyum. Entahlah, mengapa dengan Abenta bisa membuatnya seperti ini? Mabuk kepayang, senyum - senyum tidak jelas.

Fita terlihat tidak peduli pada Meldina dan tetap fokus mengerjakan PRnya. Tapi ia melirik sedikit ke arah Meldina dan tahu kalau Meldina berusaha menahan senyum. Sungguh ia tidak habis pikir, Meldina ataupun Abenta sama saja. Seperti pemula yang baru saja jatuh cinta. Ya kalau Abenta sih wajar karena dia baru sekali ini berpacaran, tapi Meldina. Terhitung sudah tiga kali ini, Meldina menjalin hubungan dengan cowok.

"Ck! Kalo mau senyum ya senyum aja ga usah ditahan - tahan. Ntar lo kentut lagi."

"Apaan sih lo Fit? Siapa juga yang mau senyum, orang gue cuma ngulum bibir biar ga kering lagi," sangkal Meldina yang tidak bisa menyembunyikan rona merah pada pipinya. Ia malu karena sudah ketahuan. Eh.. berasa kaya maling aja pakai acara ketahuan.

"Ga usah nyangkal. Sama aja lo kaya Abenta, suka senyum - senyum ga jelas."

Mendengar kalimat Fita mengenai Abenta, tidak bisa lagi Meldina menyembunyikan senyumnya.

"Emang kenapa dia suka gitu?"

"Pake nanya lagi. Ya karena lo lah. Orang kasmaran itu bikin kaya orang gila ya?"

"Mungkin."
Dan Meldina benar - benar menampakkan senyum lebarnya. Bahkan ia merasa pipinya panas mendengar dari Fita kalau Abenta sering senyum karena dirinya. Ternyata bukan hanya ia sendiri yang merasakan euforia romantisme ini. Ah bahagianya.

"Udah ga usah senyum terus. Kering ntar tuh gigi," celetuk Fita membuyarkan lamunan bahagianya.

"Gimana sih lo Fit, tadi suruh senyum. Sekarang senyum dilarang. Labil banget."

"Suka - suka gue. Eh tapi ada perlu apa lo sama gue, kayanya waktu lo nyamperin gue tadi kaya ada sesuatu yang serius."

Meldina menggigit bibirnya. Apakah tidak apa - apa ia bertanya soal Lea pada Fita? Mengingat Fita sama Lea itu sahabat dekat bahkan waktu masih jaman di kandungan. Ia takut menyinggung perasaan Fita.

"Ini soal Lea."

Fita berhenti menulis dan menatap Meldina intens.

"Emang kenapa sama Lea?"

"Tapi lo jangan tersinggung ya? Dan jangan bilang - bilang sama Lea ataupun sama yang lainnya."

"Oke."

"Gini Fit, gue ngerasa kalo sikap Lea berubah sama gue semenjak gue pacaran sama Abenta. Kira - kira lo tau ga penyebabnya?"

"Oh itu. Perasaan lo aja kali Mel. Ga usah diambil hati, besok - besok juga baikan lagi."

"Masa sih? Apa dia ga suka kalo gue pacaran sama Abenta? Mungkinkah Lea ada rasa sama Abenta?" Tanya Meldina hati - hati takut menyinggung.

"Ngaco lo Mel. Abenta tuh adiknya Lea. Mereka kan saudaraan, ya meskipun saudara jauh sih. Tapi ga tetap ga mungkinlah, Lea sendiri kan udah ada cowok."

"Iya kali Fit, masuk akal juga. Mungkin perasaan gue aja," gumam Meldina. Ia sebenarnya merasa belum puas dengan jawaban Fita. Tapi ia tidak boleh berprasangka buruk, apalagi sama sahabat sendiri.

"Udah ga usah dipikirin. Mending lo pikirin Abenta aja deh," ucap Fita sambil menaikkan alis menggoda Meldina.

"Ih apaan sih Fit. Rese lo."

Meldina menopang dagu dengan tangan, pikirannya berkelana memikirkan persahabatannya dengan Lea yang terasa berbeda. Lea yang dulu akrab dengannya, sekarang seperti menghindarinya. Bahkan kini Meldina sering melihat Lea bersama Sinta, adik kandung Abenta. Belum lagi sikap Sinta yang sering menatapnya dengan tatapan tak bersahabat. Meldina menghela nafas berat.

Beep..
Meldina merogoh saku bajunya, dan mendapati pesan singkat dari Abenta, dan itu membuatnya tersenyum.

"Pulang nanti aku antar ya?"

Batin Meldina terlonjak senang. Baru kali ini Abenta akan mengantarnya pulang. Ia jadi tidak sabar menunggu waktu pulang.

Tbc

PUPUS (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang