Part 7

41 11 2
                                    

Malam ini begitu gelap, hanya cahaya lampu saja yang mampu membuat malam ini begitu bercahaya.

Rani sudah selesai membersihkan dirinya, kemudian, ia pergi untuk tidur dan tak lupa juga ia berdoa supaya tidak mendapat mimpi buruk.

Tak lama ia tidur, tepat pada sekitar jam 12 malam, Rani merasa bahwa hawa dikamarnya ini sangat panas sekali. Ia pun gelisah dan kemudian terbangun dari tidurnya.

Lalu, ia pergi ke bawah untuk mengambil air minum. Sebenarnya Rani takut, tapi dia mencoba memberanikan diri untuk turun ke bawah agar ia bisa sambil mencari udara segar.

Tiba-tiba, muncul cahaya putih dari arah jendela belakang. Rani sangat terkejut dan ia mencoba mendekati jendela itu untuk melihat apa yang terjadi, pelan-pelan ia berjalan untuk memastikan bahwa yang dilihatnya itu aman atau tidak.

Setelah ia sampai di jendela, cahaya putih itu masih ada. Ternyata cahaya itu mengarah pada pondoknya, kemudian ia penasaran pada apa yang terjadi dengan pondoknya hingga cahaya putih itu pun mengarah pada pondoknya itu.

Takut. Itu yang dirasakan oleh Rani sekarang, apalagi orang tua dan pembantunya sudah tidur, ia tidak bisa berteriak untuk memberi tau mereka tentang apa yang terjadi.

Tapi semakin Rani penasaran, ia semakin memfokuskan dirinya dan berdiam cukup lama ditempat itu untuk menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Seketika dari dalam pondok, muncul bunga-bunga dan segala macam binatang yang keluar dari lukisannya itu, lukisannya hidup. Ia tidak menyangka akan hal itu, dengan mata kepalanya sendiri ia melihat semua kejadian itu.

Satu per satu hasil lukisannya bercahaya, hingga pada akhirnya ketika semua lukisannya sudah hidup, cahaya putih itu mulai perlahan-lahan menghilang, tetapi pondoknya masih tetap terdengar suara binatang yang hidup dari lukisannya itu.

Rani pun kembali ke atas untuk tidur, ia berlari menaiki anak tangga dan melemparkan dirinya di kasur. Kemudian, menelungkupkan kepalanya ke bantal miliknya, ia harap semua ini hanyalah mimpi semata. Karna tidak mungkin lukisan itu hidup dengan sendirinya.

🍁🍁🍁

Keesokan harinya, Rani bangun cepat, kemudian membersihkan dirinya dan pergi sarapan ke bawah.

Kali ini ia ingin pergi cepat ke pondok, untuk memastikan bahwa yang dilihat nya semalam itu hanyalah mimpi atau nyata adanya.

Setelah ia selesai sarapan, ia bergegas pergi menuju pondok, dengan langkah perlahan dan degup jantung yang berdetak begitu kencang. Mukanya pucat pasi dan ia pun sambil melafalkan sebuah doa.

Sebelum masuk ke dalam pondok itu, ia membuang nafas dengan kasar untuk menghilangkan rasa takutnya itu. Kemudian, dibukanya pintu pondok perlahan-lahan.

Ia pun langsung mundur seketika, saat ia melihat anjing yang kemarin sudah menunggunya di depan pintu, ia kemudian tersenyum. Tapi masih dengan senyum terpaksa, karna ia masih saja takut hingga saat ini.

Rani pun memasuki pondok dan melihat seisi pondok itu, semua yang ia lihat semalam memang nyata. Lukisan miliknya itu hidup, bunga yang dilihatnya semalam pun ada dipondok ini, dan sekarang jumlahnya bertambah banyak.

Ketika matanya menjelajahi semua sudut pondok itu. Ia melihat seorang gadis kecil yang berlutut dan membenamkan kedua kepalanya di lututnya itu, sepertinya dia sedang ketakutan atau mungkin menangis.

Apa dia gadis kecil yang kemarin? Batin Rani.

Untuk memastikannya, Rani pun mendekat secara perlahan, tapi entah kenapa ia sekarang malah ketakutan. Ia memikirkan bahwa gadis didepannya ini bukanlah seorang manusia.

"Hei," ucap Rani sambil menepuk pundak gadis itu.

Gadis itu terkejut, lalu mengangkat kepalanya dan kemudian melihat Rani.

"Kamu kenapa?" ucap Rani dengan suara sedikit gemetar.

Gadis itu, masih saja melihat Rani dan tidak mengucap sepatah kata pun. Berbeda dengan kemarin, kali ini tatapan gadis itu sangat sendu.

Rani yang melihat hal itu sangat kasian padanya, walaupun sekarang perasaan Rani sedang campur aduk.

"Kamu jangan sedih, kamu mau bunga?" ucap Rani sambil mengambil satu tangkai bunga, kemudian memberikannya pada gadis itu.

Gadis itu mengambil bunganya, tapi malah ia letakkan kembali di sampingnya. Kemudian, ia menundukkan kepalanya.

Rani bingung ia harus bagaimana lagi.

"Kamu mau makan?" tanya Rani, karna ia pikir gadis ini sedang kelaparan. Sebab, dari kemarin hingga saat ini gadis tersebut ada di pondok Rani.

"Kamu sedih ya? Mau main sama anjing ini? Dia lucu lho, kamu mau pegang bulunya, lembut banget, kamu punya anjing ga dirumah?"

Kemudian, gadis itu menatap Rani dan menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Rani tadi.

"Ayo kita main, kamu jangan duduk diam disini terus, jangan menyendiri. Aku mau kok jadi teman kamu," ucap Rani sambil tersenyum manis ke arah gadis itu.

Gadis itu pun menatap Rani, kemudian tatapannya mulai bersahabat , tidak seperti tadi.

"Ka..kak seri..i..us?" ucapnya dengan terbatah-batah.

"Iyaa, mulai sekarang kita jadi teman, kamu ga usah takut lagi."

Gadis itu pun langsung menghambur ke pelukan Rani. Ia yang dibuat seperti itu langsung terkejut, dan kemudian ia membalas pelukan gadis itu.

Akhirnya, Rani merasa lega karna gadis itu sudah mau berbicara dan tersenyum kepadanya, jadi Rani tidak perlu takut lagi.

Setelah itu, Rani dan gadis itu bermain bersama anjing tadi. Rani pun akhirnya menyadari, bahwa anjing itu adalah hasil dari lukisannya yang hidup. Ia pun merasa senang, karna bisa memiliki hewan peliharaan. 

Rani dan gadis itu mulai menata bunga yang ada di pondok itu, dan kemudian ia memperlihatkan kemampuan melukisnya  pada gadis itu. Gadis itu tersenyum, dan matanya berbinar melihat lukisan Rani.

Ia mengacak-acak rambut gadis itu, karna gemas padanya. Ia merasa senang, karna bisa memiliki seorang teman yang bisa menjadi penghiburnya, dan juga pemberi warna baru dihidupnya. Keduanya memang terpaut usia yang sangat jauh, tapi itu tidak menjadi masalah bagi Rani untuk berteman.

"Kamu mau makan?" tanya Rani kembali pada gadis itu.

"Ga kak, nanti aja, aku ga lapar."

"Kamu yakin?"

"Iya yakin kak."

"Yaudah nanti kakak tetap bawakan kamu makanan kok, kakak juga akan bawakan kamu pakaian supaya nanti kamu bisa ganti. Oiya, kamu mau tinggal di pondok ini atau dirumah kakak?"

"Di pondok aja kak, aku lebih nyaman tinggal disini."

"Ok deh."

Rani pun pamit pulang kerumahnya karna langit sudah hampir gelap. Ia takut bila berlama-lama di pondok, hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.

Akhirnya, semenjak saat itu setiap pagi Rani selalu saja ke pondok dan pulang pada sore hari. Semua kehidupannya sudah berbeda, ia bahagia karna keajaiban yang ia rasakan dalam hidupnya.

Sekarang, ia merasa menjadi orang yang beruntung karna dapat merasakan hal itu, beban yang ia alami pun seketika menghilang dari ingatannya.














Halooo
Gimana sama part ini?

Hebat ga sih kalau lukisan kita juga hidup kaya Rani, haha kalau didunia nyata gitu, adanya kita dibilang ga waras sama orang

Oke jangan lupa vote dan comment ya teman teman, karna itu sangat berharga untukku

-BrigitaJaunty

Pondok Keramat (SELESAI) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang