Enggannya mencinta 9

18.7K 699 6
                                        

Hi readers....

Seperti sebelum-sebelumnya....jangan lupa ya....

Kritiknya....

Sarannya....

Votenya....

Happy reading....

============================================================

Perlahan Anna membuka matanya yang berat yang langsung menghadap ke arah jendela kaca besar yang buram terkena curahan air hujan. Ia berusaha mengingat-ingat tentang apa yang terjadi sebenarnya sehingga ia bisa tertidur di kamar tidur tamu. Bau minyak kayu putih menyergap hidungnya. Lambat laun ia mulai mengingat apa yang telah terjadi dengannya dan tak terasa airmatanya meleleh.

"Kau sudah sadar?" 

Sebuah suara yang berat dengan nada kelegaan membuat Anna memalingkan wajahnya dan menatap seraut wajah lelah yang kini tersenyum padanya. 

"Leo?" bisiknya, dan tanpa berpikir panjang Anna segera memeluk tubuh Leo yang duduk di sampingnya. Tangisnya kembali pecah. 

Di sini, di dada bidang ini, Anna merasakan kenyamanan yang luar biasa. Seolah-olah semua beban yang ada di pundaknya terangkat begitu saja saat ia menyusupkan wajahnya lebih dalam, mendengarkan detak jantung Leo yang berdetak teratur, membuatnya memejamkan matanya diiringi isakan tangisnya yang tak mau pergi.

Leo, demi melihat Anna menangis seperti itu, makin mengeratkan pelukannya. Tangan kanannya menggosok-gosok punggung Anna mencoba menenangkan.

"Ssst...tenanglah. Ceritakan padaku apa yang telah terjadi?" bisik Leo di telinga Anna.

Anna masih sesenggukan. "Dia...Dia ada di sini." gumam Anna dengan gelisah.

"Dia? Siapa Anna? Siapa yang kau maksud?" tanya Leo dengan nada kuatir.

"Dia Sammy. Sammy...Sammy tadi datang kemari bersama seorang wanita. Sepertinya dia adalah istrinya." 

Leo melepaskan pelukannya dan menatap wajah Anna yang basah oleh airmata.

"Sammy? Sammy mantan suamimu?" tanya Leo terkejut. Anna mengangguk pelan dan kembali terisak.

"Dia sedang membeli bunga. Dan kami tidak sengaja bertemu di sini." ujar Anna dengan ketakutan yang nampak di wajahnya.

Leo menarik kedua tangan Anna lalu menggenggamnya erat. "Sudahlah. Jangan terlalu kau pikirkan. Lebih baik kau istirahat saja." 

"Tapi aku takut, Leo." Anna menundukkan kepalanya.

"Takut apa? Kan ada aku di sini."

"Aku takut Sammy akan datang ke sini lagi dan mengambil Intan." Tiba-tiba Anna mendongak menatap Leo dengan wajah ketakutan dan gelisah. "Ya Tuhan...dimana Intan? Intan dimana Leo?" Anna melepaskan genggaman Leo dan berusaha bangkit dari tempat tidur.

"Anna, tenanglah. Intan masih di sini." ujar Leo sembari menarik tubuh Anna kembali kedalam pelukannya.

"Tapi Leo...."

"Tenanglah. Aku sudah menyuruh Wati untuk menjaga Intan. Kau tidak perlu kuatir." hibur Leo dengan membelai rambut Anna yang lembap oleh keringat. "Tenanglah sayang." bisik Leo.

Anna mengangguk-anggukkan kepalanya di atas bahu Leo sambil memejamkan matanya, berusaha mengusir pikiran buruk yang melintas dibenaknya. Bulir airmatanya menetes meski tak sederas tadi.

"Aku tidak bisa membayangkan kalau harus kehilangan Intan, Leo. Aku tidak akan bisa hidup." ujar Anna lirih dengan bibir bergetar. Jantungnya berdetak tak karuan saat bayangan kehilangan Intan menguasai pikirannya.

Enggannya mencintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang