Hallo...Hallo...Hallo...
Kembali lagi dengan lanjutannya...
Koment ?
Voted ?
Just happy reading all readers.....
**********************************************************
"Wow, ini indah sekali Anna." seru Wati saat Anna memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya beberapa hari yang lalu. Wati memegang jemari Anna dan menyentuh cincin itu dengan telunjuknya. "Berlian? Ya ampun." ujar Wati dengan kagum tanpa mengalihkan pandangannya dari cincin itu. "Apakah Leo melamarmu?" Kini Wati mendongak menatap Anna yang tersipu malu.
Anna menggelengkan kepalanya. "Belum." jawabnya singkat.
"Apa?" Wati menegakkan punggungnya terkejut. Ia meletakkan tangan Anna dipangkuannya. "Bagaimana bisa? Aisshh...anak itu. Apalagi yang ditunggunya? Dasar Leo! Awas saja kalau ketemu nanti." Wati mengumpat dengan jengkel.
Anna menarik tangannya lalu tertawa. "Ah kau ini."
"Bukan begitu Anna. Aku ingin kalian bisa bersatu dalam ikatan perkawinan nantinya. Aku mencintai kalian. Dan aku tahu siapa Leo. Ia tidak akan seserius ini terhadap wanita. Yeah, meskipun dulu ia sering gonta-ganti pasangan." Wati mengedikkan bahunya. "Tapi..." Tangan kanan Wati terangkat. "Kau tenang saja, karena sejak ia mengenalmu, Leo benar-benar berubah. Sungguh. Aku tidak pernah melihatnya ketakutan saat kau pingsan dulu."
Anna mendengarkannya dengan penasaran. Ia masih ingat bagaimana tatapan Leo yang penuh kekhawatiran padanya.
"Waktu aku kembali dari membeli makan siang, aku melihatmu tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Aku bingung, karena tak ada seorangpun di sini. Yang aku ingat adalah aku harus segera menghubungi Leo. Untunglah Leo segera datang dan membopongmu ke dalam kamar." Wati menghela napas saat menceritakan kembali kejadian itu.
"Aku masih ingat, bagaimana Leo memanggil-manggil namamu dan tangannya menggosok-gosok telapak tanganmu yang dingin. Wajahnya penuh kekhawatiran yang amat sangat. Berkali-kali ia menanyakan padaku apa yang menyebabkanmu tak sadarkan diri. Tentu saja aku tidak tahu. Aku sama khawatirnya dengan Leo."
Kini Wati meraih kedua tangan Anna dan menggenggamnya dengan erat. "Aku ingin kau bahagia bersama Leo." ucap Wati sembari menatap wajah Anna yang penuh senyuman, lalu ia melepaskan tangan Anna dan berdiri dari tempat duduknya. "Dan aku sudah tidak sabar menunggu hari itu." Wati tersenyum lebar sembari mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Ia menoleh kearah Anna yang masih duduk di bangku sofa. "Aku akan memikirkan rancangan apa yang akan aku buat untuk resepsi pernikahan kalian nanti."
Anna mendelik lalu tertawa senang. "Apa-apan kau. Leo belum melamarku." seru Anna dengan wajah bersemu merah. Wati ikutan tertawa.
"Kita lihat saja nanti Anna." ujar Wati sembari berjalan meninggalkan Anna dengan tawanya yang membahana.
Anna tersenyum mengingat perbincangannya dengan Wati beberapa hari yang lalu. Ia menjulurkan tangan kanannya dan melihat cincin yang bertengger manis di jari manisnya. 3 berlian di atasnya menandakan aku, kau dan Intan, begitu kata Leo malam itu. Anna tersenyum. Ia tahu ia akan bahagia bersama Leo.
Sudah lama Anna tak merasakan perasaan yang begitu mendalam terhadap seorang pria hingga Leo muncul. Laki-laki itu bahkan tak peduli dengan segala statusnya yang mungkin bagi sebagian orang dianggap begitu menakutkan.
Semula iapun ragu dengan kesungguhan Leo. Bagaimana mungkin ia yang seorang janda, sudah mempunyai anak dari perkawinannya dengan Sammy, ditambah lagi usianya yang lebih tua dari Leo, mendapatkan seorang laki-laki yang masih single, belum pernah menikah, seorang pengusaha muda yang sukses dan lebih muda darinya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Enggannya mencinta
RomanceTrauma tentang masa lalunya membuat Anna berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan makhluk yang namanya lelaki sampai ia bertemu dengan Leo yang telah memporak-porandakan hidupnya dan cintanya.
