Halloooooooo readers......
Komentnya ?
Votenya ?
Happy reading yaaaa.....
****************************************
Apa maksud semua ini Leo? Apa maksudmu? Apakah kau mempermainkanku? Tapi kenapa? Kenapa kau tega membohongiku? Disaat aku mulai bisa merasakan jatuh cinta lagi, disaat aku mulai percaya dengan seorang lelaki, disaat aku bisa membangun rasa percaya diriku akan kehadiranmu di sisiku, kini kau telah membuat semua mimpi-mimpi itu lenyap dalam sekejap.
Butir-butir panas meleleh di kedua pipi Anna. Hatinya begitu hancur sejak kehadiran gadis itu siang tadi. Semua cercaan gadis itu akan dirinya begitu melekat dalam pikirannya.
"Kau itu seorang janda. Camkan itu!"
Anna memejamkan matanya yang panas. Ia menghela napas dalam-dalam, merasakan dadanya yang sesak. Tubuhnya gemetar. Bukan karena dinginnya udara malam yang menerpa tubuhnya yang sedang duduk di sebuah kursi di balkon kamar tidurnya, tapi rasa sakit yang begitu menusuk hatinya.
Ya Tuhan, kenapa semua ini harus terjadi padaku? Apa yang salah terhadap diriku? Apakah aku begitu bodohnya hingga percaya begitu saja dengan rayuan Leo? Apakah Leo memang pembohong yang ulung? Tapi kenapa Wati begitu percaya dengan Leo? Ataukah mereka berdua berniat menghancurkanku? Menghancurkan hatiku hingga berkeping-keping?
Anna menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak! Tidak mungkin Wati berbuat begitu terhadapku. Aku sangat mengenalnya. Aku sangat mempercayainya. Aku saja yang sangat bodoh. BODOH!
Anna mengepalkan tangannya dengan erat hingga terasa sakit di telapak tangannya, lalu memukulkannya di sandaran kursi. Bodoh!, geramnya lirih kepada dirinya sendiri. Airmatanya kembali membasahi pipinya yang putih.
Angin malam menerpa tubuhnya lagi. Derit serangga bersahutan menyanyikan lagu yang begitu menyayat hati mengiringi kepedihan hati Anna. Anna terisak. Dihapusnya airmatanya yang mengalir tiada henti dengan punggung tangannya.
Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus bertanya langsung kepada Leo siapa sebenarnya gadis itu? Benarkah ia sudah bertunangan dengan Leo? Tapi kalau aku menanyakan hal itu, bisa saja Leo mengelak. Kalau aku tidak bertanya, aku tidak akan menemukan jawabannya. Tapi....
Aaaarrrggghhh!!!! Anna meremas rambutnya frustasi. Apa yang harus aku lakukan?, desisnya dengan kesal. Anna bangkit dari tempat duduknya dan berjalan dengan lunglai menuju ranjangnya lalu duduk di tepi. Dibukanya laci yang ada di samping tempat tidurnya lalu mengambil kotak berwarna merah itu dan dibukanya perlahan. Cincin bermata berlian itu begitu indah, nampak berkilauan terkena sinar lampu yang ada di ruangan itu. Anna membelai cincin itu dengan jarinya.
"Leo." gumamnya menyebut nama laki-laki yang begitu ia cintai. Jantungnya bagai ditusuk pedang yang sangat tajam, begitu nyeri hingga Anna menekan dada kirinya dengan kuat. Butir-butir panas itu kembali menetes. Matanya terpejam, membayangkan segala kenangan indah bersama Leo.
Aku harus melupakanmu. Aku harus bisa melupakanmu. Gadis itu benar. Aku harus tahu diri. Aku tidak pantas untukmu. Gadis itulah yang lebih pantas bersanding denganmu. Cantik, tubuhnya semampai, dan yang lebih penting adalah bahwa gadis itu masih melajang. Bukan seperti aku yang seorang janda.
Heh! Benarkah menjadi seorang janda begitu menakutkan? Aku menjadi seorang janda juga bukan kemauanku. Kalau saja Sammy menghargai cinta kami dan tidak mengikuti kemauan mamanya, mungkin aku sudah bahagia. Punya keluarga kecil yang aku impikan, dengan sebuah rumah mungil yang ada tamannya di belakang rumah dengan air terjun buatan yang gemericik memecah kesunyian malam. Impian yang kandas ditengah jalan sebelum semuanya terealisasi. Kini impian yang akan aku raih bersama Leo pun kandas sebelum dimulai.
Anna menyeka airmatanya. Ia memasukkan kembali kotak perhiasan itu kedalam laci mejanya lalu merebahkan tubuhnya yang lelah. Anna memejamkan matanya berusaha mengusir bayangan Leo dan semua kenangan indah bersamanya meski terasa sulit.
***********************
"Ma, kenapa mata mama bengkak?" tanya Intan yang menatapnya dengan menelengkan kepalanya saat mereka sedang sarapan pagi bersama.
Anna mengerjap-ngerjapkan matanya yang memang terasa berat. Ia tadi melihat bengkak di matanya saat bercermin. Semalam begitu berat baginya. Dan kini pertanyaan putrinya itu cukup membuatnya terkejut.
"Oh... eh... ini, semalam mama tidak bisa tidur, jadi matanya bengkak deh." jawab Anna mengeles pertanyaan putrinya itu. Intan hanya mengatakan oh saja dan Anna merasa sedikit lega.
"Ma, kemaren om Leo ke sini." kata Intan yang membuat Anna tersedak. Ia lalu memukul-mukul dadanya pelan dan segera minum segelas air putih. "Kenapa ma?" tanya Intan dengan wajah lugunya yang khawatir. Anna menggerak-gerakkan telapak tangannya yang menandakan bahwa ia baik-baik saja.
"Ah, mama tidak apa-apa, sungguh." ucap Anna sembari menarik napas dalam-dalam.
"Om Leo mau mengajakku ke taman bermain, dia akan mengajak keponakannya yang katanya seumuran denganku. Tapi aku bilang ke om Leo kalau aku harus minta ijin dulu sama mama. Boleh tidak aku pergi kesana ma?" tanya Intan dengan wajah memohon.
Anna memandangi putrinya itu dengan lembut. Kalau saja situasinya tidak seperti ini mungkin ia dengan senang hati mengijinkan Intan untk pergi bersama Leo.
"Apa kau senang pergi dengan om Leo?" tanya Anna mencoba memancing reaksi Intan.
"Senang sekali. Om Leo orangnya baik. Dia suka bercanda. Aku sangat senang kalau om Leo jadi papaku. Benar kan ma, om Leo akan jadi papaku kan?"
Deg! Jantung Anna serasa mau copot mendengar pernyataan putrinya itu. Ya Tuhan, kau belum tahu siapa Leo sebenarnya. Kau masih terlalu kecil untuk tahu semua itu, batin Anna miris.
"Habiskan sarapanmu." Anna berkata dengan lirih mencoba mengalihkan pertanyaan putrinya.
"Tapi aku boleh pergi kan? Nanti om Leo akan menjemputku sepulang sekolah."
Anna menatap putrinya dengan haru. Ia merasa sedih karena putrinya begitu haus akan kasih sayang seorang ayah. Ayah yang tak pernah Intan miliki sejak kecil. Meski kini Intan sudah tahu kalau Sammy adalah ayahnya, namun Anna mengerti perasaan Intan yang tidak bisa begitu saja akrab dengan Sammy, meski Sammy telah berusaha sekuat tenaga mendekatinya. Berbeda dengan Leo yang dengan mudah mengambil hati Intan. Leo menyukai anak-anak dan Leo tahu cara menghadapi mereka.
Anna mendesah. Kalau ia tidak mengijinkan Intan pergi, baik putrinya maupun Leo pasti bertanya-tanya. Tapi kalau ia mengijinkan, bukankah itu akan menambah rasa sakit dihatinya?
"Boleh kan, ma?" tanya Intan sekali lagi.
"Baiklah." jawab Anna pelan diiringi helaan napasnya yang berat. Intan bersorak gembira. "Habiskan dulu sarapanmu lalu berangkat sekolah." Intan mengangguk dengan wajah penuh senyuman.
Apa salahnya kalau Leo mengajak Intan pergi. Setidaknya mungkin untuk terakhir kalinya. Setelah itu aku akan bicara dengan Leo setelah bengkak di mataku ini hilang.
@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@
to be continued....
Tunggu lanjutannya ya.....
See you.....
KAMU SEDANG MEMBACA
Enggannya mencinta
Storie d'amoreTrauma tentang masa lalunya membuat Anna berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan makhluk yang namanya lelaki sampai ia bertemu dengan Leo yang telah memporak-porandakan hidupnya dan cintanya.
