Aloha Readers............
Terima kasih atas segala supportnya kepadaku. Koment dan vote yang kalian berikan begitu berharga bagiku. Maklum, ini adalah cerita yang sudah lama aku pendam sejak sekolah dulu dan gak tahu harus kemana menyalurkannya. Dan ketika ketemu sama Watty ini, wuihhh...seneng banget. Apalagi kalau yang membaca juga seneng, gak bisa ditukar dengan uang deh, sumpah!
Oke readers....tetep jangan lupa sama koment dan votenya ya????
Enjoy reading guyssss....
***************************
Setelah kepulangan Sammy dari rumah Anna dengan lebam hitam yang membekas di pipinya itu, Anna merasa apa yang dikatakan Sammy ada benarnya. Ia harus menyelesaikan kesalah pahaman ini. Anna tahu ia bersalah pada Sammy karena ia tidak memberitahukan tentang keadaan yang sebenarnya kepada mantan suaminya itu. Ia juga tidak menduga Leo akan mendatangi Sammy dan meminta konfirmasi dari Sammy tentang keputusan Anna yang akan kembali menjalin hubungan dengan Sammy.
Aku melakukan semuanya demi gadis itu, batin Anna pedih. Aku tidak mau, karena diriku hubungan mereka menjadi berantakan. Aku tidak mau disebut sebagai wanita perebut kekasih orang. Aku tidak mau statusku sebagai seorang janda membuat orang lain berpikir negatif terhadap diriku. Aku hanya ingin hidup tenang. Mungkinkah Tuhan menakdirkanku untuk hidup sendiri bersama anakku?
Anna hanya bisa menghela napas dengan berat. Seharusnya ia tidak melibatkan Sammy dalam hal ini. Tapi hanya itu jalan satu-satunya yang bisa ia jadikan alasan untuk bisa lepas dari Leo. Leo sudah bertunangan dengan gadis itu. Dan itu adalah fakta yang tidak terbantahkan.
Anna mengumpat dalam hati melihat kemacetan jalan yang dilaluinya. Puncak gedung dimana Leo bekerja sudah nampak dari kejauhan. Beberapa saat kemudian, Anna bernapas dengan lega saat ia berhasil memarkir mobilnya di tempat parkir.
Dengan langkah lebar, Anna memasuki gedung perkantoran itu, menuju lift dan menekan tombol 7 untuk sampai di kantor Leo. Lift itu bergerak begitu lambat dirasakan Anna. Untunglah di dalam lift itu hanya ada dua orang di dalamnya sehingga pintu lift itu tak perlu membuka tutup di setiap lantainya.
Lampu lift menyala di angka 7 lalu pintunya terbuka dengan perlahan. Anna bergegas keluar dan berjalan menuju kantor Leo yang terletak agak ke dalam. Suasana kantor itu nampak lengang meski ada 2 atau 3 orang yang masih terlihat duduk-duduk di meja masing-masing. Anna menghampiri seorang gadis yang nampak sedang duduk dan sibuk membuka-buka map di depannya.
"Hai Rina." sapa Anna pada gadis itu. Gadis bernama Rina itu mendongakkan kepalanya lalu tersenyum lebar saat tahu siapa yang memanggilnya.
Rina adalah sekretaris pribadi Leo. Gadis itu mungil, tapi manis dan smart. Hasil kerjanya sudah tidak diragukan lagi selama 3 tahun terakhir ia bekerja di situ. Anna mengenalnya saat Leo mampir ke rumahnya dan membawa serta Rina ketika mereka akan pergi ke luar kota mengurus salah satu bisnisnya. Rina adalah gadis yang periang. Ia akan menikah tahun depan dengan kekasihnya dan mengatakan kepada Anna bahwa Anna tak perlu khawatir kalau ia tidak akan merebut Leo dari Anna. Anna hanya tertawa mendengar kelakar gadis itu.
"Hai mbak Anna, tumben kemari. Apakah kau ingin bertemu pak Leo?" tanya Rina sembari berdiri dari tempat duduknya lalu mempersilahkan Anna duduk tapi Anna menolaknya.
"Ya, aku ingin ketemu dengan bosmu itu. Apakah dia sedang makan siang di luar? Ataukah dia masih ada di dalam?"
Rina meletakkan pantatnya lagi di kursi empuknya.
"Pak Leo masih di dalam. Tapi..." Rina melirik pintu kantor Leo yang sedikit terbuka lalu menoleh kembali kepada Anna. "Ada tamu di dalam." bisik Rina pelan hampir tak terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enggannya mencinta
RomanceTrauma tentang masa lalunya membuat Anna berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan makhluk yang namanya lelaki sampai ia bertemu dengan Leo yang telah memporak-porandakan hidupnya dan cintanya.
