Hari ini udara benar-benar sangat panas. Apalagi musim kemarau di awal bulan Juli. Anna keluar dari mobilnya dan membanting pintunya dengan keras. Ia bergegas masuk ke kios Mc D yang nampak ramai pengunjung. Setangkup hamburger dan segelas coca cola tak akan membuat tubuhnya gemuk. Ia mengambil tempat di dekat jendela kaca besar yang ada di pojok. Satu-satunya meja yang masih kosong.
Anna membuka tasnya dan mengambil sebuah buku agenda. Sebuah buku yang cukup tebal dengan cover warna hitam. Ia meneliti beberapa tulisan yang tersusun rapi di atasnya. Sepanjang pagi sampai sore ini ia sibuk sekali. Mendekorasi kamar pengantin di sebuah rumah milik seorang pengusaha terkenal di kota ini, kemudian mengemudi dari rumah itu menuju gedung tempat resepsi pernikahan yang akan digelar sebelum akhirnya memarkir mobilnya dan masuk ke kios McD ini.
Saat ini Anna memiliki sebuah toko bunga yang cukup besar selain mendirikan Event Organiser untuk acara pernikahan dan ulang tahun yang cukup bisa membuatnya bertahan hidup di Ibu kota yang kian padat penduduknya karena banyaknya yang mengejar impian termasuk dirinya.
Anna menyandarkan tubuhnya yang letih di kursi sambil menyesap minumannya. Sesekali pandangannya mengarah ke luar jendela melihat orang yang lalu lalang di jalan. Tadi ia sudah bilang pada Wati, asistennya, bahwa ia akan kembali menjelang resepsi dimulai dan ia masih mempunyai cukup banyak waktu hari ini.
"Permisi...."
Sebuah suara yang berat membuat Anna mendongakkan kepalanya dan mendapati seorang laki-laki dan gadis kecil berdiri diseberang meja dengan membawa senampan makanan.
"Apakah kursi ini kosong?" laki-laki itu bertanya.
Anna sedikit terkejut karena sekilas ia mengagumi paras tampan laki-laki itu. Hahaha, ada-ada saja kau Anna, tawanya dalam hati.
Anna mengangguk dan mempersilahkan mereka duduk di kursi kosong yang ada di depannya. Kembali ia menyibukkan dirinya meneliti buku agendanya sembari sesekali melihat keluar melalui kaca tanpa mempedulikan dua orang yang duduk di depannya.
"Om, setelah ini antarkan aku beli baju ya? Om tadi sudah berjanji kan?"kata gadis cilik itu merajuk.
Anna tergoda untuk memperhatikan kedua orang itu dengan sudut matanya. Ia tertawa sendiri dalam hati karena telah mengira laki-laki itu adalah ayah si gadis cilik itu. Menurut Anna lelaki itu memang masih terlalu muda jika mempunyai anak seusia gadis itu yang kira-kira seumuran dengan anaknya.
Lelaki itu meneguk minumannya lalu menoleh ke arah gadis kecil itu dan berkata, "Baiklah, tapi apakah aku bisa memilihkan baju untuk gadis seusiamu? Kau tahu kan, aku seorang laki-laki." Lelaki itu mencondongkan tubuhnya berbisik di telinga gadis kecil itu.
"Habis bagaimana lagi? Mama saat ini sangat sibuk sekali." Wajah gadis itu mulai cemberut. "Tidak ada yang bisa menolongku kecuali om. Kata mama kalau aku butuh sesuatu dan mama tidak bisa membantuku maka omlah yang akan menolongku."
"Aaah!!!! Dasar mamamu." sungut lelaki itu sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dimasukkannya sepotong kentang goreng ke dalam mulutnya lalu menoleh ke arah gadis kecil yang nampak asyik mengunyah burgernya.
"Bagaimana kalau kita mengajak Tante Lidya untuk memilihkan bajumu?"
Gadis kecil itu serentak menoleh ke arah omnya demi mendengar sebuah nama yang disebut oleh lelaki itu.
"Tidak!! Aku tidak mau dengan Lidya." tolak gadis kecil itu dengan cepat. Rambutnya yang ikal bergerak kesana kemari mengikuti gerakan kepalanya yang menggeleng.
"Kenapa? Lidya jauh lebih pandai soal baju."
"Aku tidak mau!!!"
Gadis kecil itu menghentakkan kakinya kesal. Wajahnya cemberut.
"Lalu bagaimana? Om harus minta tolong siapa?"
Gadis kecil itu mengedikkan bahunya. Jari telunjuknya memainkan rambutnya yang ikal. Kini lelaki itu yang nampak bingung. Berkali-kali ia menghembuskan napasnya. Dahinya berkerut seolah-olah memaksa otaknya untuk berpikir keras, sedangkan tangan kanannya menopang dagunya. Berpikir. Gadis kecil di sebelahnya malah tidak peduli dengan sikap pamannya. Tiba-tiba mata lelaki itu memandang Anna tajam. Merasa diperhatikan, Anna menjadi salah tingkah. Ia memasukkan potongan terakhir burgernya, mengunyahnya sambil memandang bukunya menghindari tatapan lelaki itu.
Lelaki itu berdehem. "Maaf....."
Anna mendongak dan mendapati lelaki itu menatap kepadanya. Sesaat ia mengagumi mata coklat lelaki itu.
"Ya??" Akhirnya keluar juga kata itu dari mulut Anna.
Lelaki itu mencondongkan tubuhnya dan melipat kedua tangannya di atas meja.
"Ehm...begini. Sebenarnya saya merasa tidak enak. Tapi apakah anda punya cukup banyak waktu? Ehm...bagaimana ya? Saya hanya ingin minta tolong anda membantu keponakan saya memilihkan baju yang bagus untuk resepsi nanti malam." kata lelaki itu sembari sebelah tangannya bergerak menunjuk ke arah gadis kecil yang duduk di sampingnya.
Permintaan lelaki itu sungguh mengejutkan Anna. Dahinya berkerut.
"Saya? Memilihkan baju?" tanya Anna masih tidak mengerti.
Lelaki itu mengangguk. Gadis kecil yang duduk di sampingnya nampak bengong seperti halnya Anna. Tangannya menarik-narik ujung kaos pamannya, berharap pamannya menjelaskan maksudnya. Lelaki itu menoleh dan mencoba menenangkan gadis itu.
"Tidak apa-apa. Tenang saja, okey..."
Lelaki itu kembali memandang Anna yang sedang melihat jam tangannya.
"Tidak punya waktu ya? Tidak apa-apa, saya tidak akan memaksa anda, lagipula kita memang tidak saling kenal jadi wajar saja kalau anda merasa ragu dan aneh dengan permintaan saya."
"Ya...tidak, maksudku..." Anna menjadi gugup. Tentu saja ia merasa aneh dengan permintaan lelaki yang sama sekali tidak dikenalnya itu. Tetapi ketika ia memandang gadis kecil keponakan lelaki itu, ia merasa kasihan. Apa salahnya aku menolong mereka? Lagipula aku masih punya banyak waktu, batin Anna. Akhirnya Anna menganggukkan kepalanya.
"Baiklah..." Anna tersenyum. "Lagipula saya tahu tempat yang cocok untuknya."
"Baguslah kalau begitu." Lelaki itu bernapas lega. "Masalah kita sudah selesai,bukan?" imbuhnya sembari mencubit pipi keponakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enggannya mencinta
RomanceTrauma tentang masa lalunya membuat Anna berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan makhluk yang namanya lelaki sampai ia bertemu dengan Leo yang telah memporak-porandakan hidupnya dan cintanya.
