Part 5

72 15 5
                                        

Kim Hae ra kini tengah menghadapi kemarahan ayahnya. Pria paruh baya yang ada di hadapannya kini sedang murka karena selang 2 hari setelah kejadian bunuh diri yang di lakukan Hye So membuat seluruh Taegyong gempar. Kim Hae Ra harus di keluarkan dari sekolah dan nyonya kim ibu Hae Ra di copot dari jabatannya sebagai ketua yayasan. Semua kerja kerasnya selama bertahun-tahun untuk mendapatkan nama besar di kota tersebut hancur hanya dalam satu malam. Rasa-rasanya jika ia tidak ingat Hae ra adalah putri semata wayangnya mungkin sudah ia pukuli dan hapus dari daftar keluarga.

"Ayah, maafkan aku....aku mohon!" Pinta Hae ra dengan air mata yang menggenang di kedua pipinya.

"Kau pikir segampang itu? Dasar bodoh, kenapa kau malah membuat masalah sebesar ini!" Tuan Kim semakin marah melihat rengekan anaknya.

Ia benar-benar merasa frustastasi. Karena banyak sekali yang harus di urus untuk membersihkan nama baiknya dan anaknya. Mungkin ia bisa membuat Hae ra tidak di tuntut secara hukum. Toh tidak ada bukti dan saksi yang bisa di munculkan. sebuah pengakuan saja belum cukup untuk bisa menuntut seseorang secara hukum. Ia seorang hakim dan tahu bagaimana caranya agar anaknya bisa bebas.

Tapi dalam dua hari media bisa menggila. Mereka tidak akan diam. Dan orang-orang akan terus membicarakannya. Dan tentunya reputasinya selama ini sebagai seorang hakim terhormatpun bisa tercoreng. Padahal dia sudah berencana untuk bisa masuk di kongres tahun depan.

"Kyung he..!"panggil tuan kim kepada istrinya yang sedari tadi hanya bisa duduk sambil tertunduk.

"Urus semua dokemen Hae ra. Ia harus segera meninggalkan korea. Carikan sekolah asrama untuknya di amerika!" Kata tuan kim.

Nyonya Kim dan Hae ra mendangakkan kepalanya menatap tuan Kim terkejut. "Ayah... apa maksudmu! Aku... aku.... tidak mau pergi keluar negeri. Apalagi sekolah asrama. Ayah... aku mohon!" Kali ini tangis Hae Ra semakin keras ia sampai membungkuk memegangi tangan ayahnya.

"Suamiku... bagaimana bisa aku mengirim putriku satu-satunya pergi jauh. Kenapa kau mau memisahkan ibu dan anaknya!" Nyonya Kim pun kini mulai menangis. Ia tidak akan mampu jika harus berpisah dari Hae Ra. Dia ingat betul bagaimana perjuangannya dulu agar bisa mendapatkan Hae ra.

"Lalu, apa kau menyuruhku mundur dari jabatanku sekarang hah...!" Tuan Kim tidak tahan lagi. Ia memang terlalu sayang pada Hae ra sampai dia tidak sanggup jika harus berjauhan dengan anaknya. Tapi taruhannya berat. Hae ra akan kesulitan mendapatkan sekolah baru dan ia juga akan kehilangan kesempatannya untuk masuk jadi anggota kongres.

"Pak kim!" Tiba-tiba saja Pak Min sekertaris pribadi tuan kim masuk. Ia menundukkan kepalanya menandakan rasa hormatnya. Ia sempat menengok pada dua wanita yang sedang menangis. Ia cukup prihatin melihat kondisi Hae ra yang bersujud di kaki ayahnya. "Pak, maaf tapi ada hal penting yang harus aku sampaikan."

"Katakan sekarang! Biar kedua wanita ini tahu masalah apa yang sudah gadis bodoh ini lakukan." Cibir tuan Kim. Ia yakin sekertarisnya ini akan memberikan kabar yang lebih buruk.

"Ah itu , semua media sudah berhenti menayangkan masalah Jung Hye So, video jung Hye So pun sudah di cekal beredar di medsos." Kata pak min tegas.

Awalnya tuan Kim tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Kenapa bisa.

"Kau... apa yang kau katakan barusan? Bagaimana bisa???"  Ia menatap pak min mencari kepastian.

"Aku juga tidak mengerti, tapi seseorang bernama Byun Baekyun meneleponku dan ingin bicara dengan anda!" Katanya sambil memberikan handphonenya kepada Tuan Kim.

"Byun baekyun???" Sejenak tuan kim merasa tidak asing dengan nama itu.  Tapi kondisinya sekarang tidak bisa membuat otaknya bekerja lebih cepat. Ia bersyukur atas apa yang orang ini lakukan dan dia yakin dia berurusan dengan seseorang yang tidak biasa.

I found youTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang