Willem : Sudahlah, Ron... Aku gak ingin membicarakan hal itu lagi... Memikirkannya malah membuat kepalaku sakit... Ngomong-ngomong aku menunggu jawabanmu, lho!
Sharon : Jawaban apa?
Willem : Mengenai tawaranku tadi, kalau kau mau jadi gadisku, datanglah ke taman belakang sekolah besok, sebelum bel masuk... Aku akan menunggumu disana! (tersenyum lalu pergi)
Sharon : Will! Will! Apa maksudmu? (pipinya semakin merah)
Willem : Doei, mooie meisje! (tersenyum lalu pergi)
(Sampai jumpa, gadis cantik)Willem pulang ke rumah dengan perasaan tak menentu, masih sedih dengan keadaan Mamanya, tapi juga penasaran dengan jawaban Sharon tentang tawarannya itu.
Willem : Mama, Will pulang...
Bi Emy : Eh, sudah pulang A?
Willem : Iyaa, Bi... Mama dimana yaa?
Bi Emy : Ada di ruang tengah A... Aa mau Bibi siapkan air buat mandi A?
Willem : Ahh, gak usah Bi... Nanti Will siapkan sendiri saja...
Bi Emy : Ya sudah... Bibi ke belakang dulu ya A...
Willem : Iyaa Bi... Makasih yaa...
Bi Emy : Iyaa A...Willem menuju ruang tengah untuk menemui Mama.
Willem : Ma, Will pulang...
Mama Rosetta : Sudah pulang kamu, Nak... Bagaimana tadi di Sekolah?
Willem : Semuanya berjalan baik, Ma! Mama udah makan belum?
Mama Rosetta : Bagus dong, Nak! Pertahankan yaa, Nak! Mama sudah makan kok!
Willem : Iyaa, Ma... Makasih yaa... (Melepas Lensa kontak)
Mama Rosetta : Kristoff! Aku rindu sekali sama kamu, Kris!! Kamu kemana saja?
Willem : Fuhh... Ini Will, Ma... Bukan Papa...
Mama Rosetta : Sudah kubilang kau pasti pulang! Biar kupanggilkan anak kita! Will! Papa pulang Will! Will! Bi Emy! Bi Emy!
Bi Emy : (Berlari menghampiri) Iyaa, ada apa Nyonya?
Mama Rosetta : Panggilkan Will! Kristoff pulang Bi!
Bi Emy : A Willem ada di hadapan Nyonya...
Mama Rosetta : Bukan Bi! Ini Kristoff!
Willem : Ini Will, Mama... Ini Will... Papa gak ada Ma... Lihat... (Memasang lensa kontaknya kembali)
Mama Rosetta : Will? Tadi Papa datang Nak!
Willem : Bukan Papa, Ma... Itu Will... Warna mata Will sama dengan milik Papa... Papa belum pulang Ma... Mama sabar yaa... Kita tunggu kabar Kak Alex saja...
Mama Rosetta : Jadi Papa belum pulang yaa, Nak?
Willem : Belum Ma... (Memeluk Mamanya dengan lembut)
Mama Rosetta : Maafkan Mama yaa... Mama malah terus menyebutmu Kristoff... (dengan lemas)
Willem : Gak apa-apa, Ma... Suatu saat nanti pasti Will akan bawa Mama ke Papa... Sabar yaa Ma...
Mama Rosetta : Gak usah Nak... Sepertinya Papa memang gak akan datang...
Willem : Mama ke kamar yuk... Kita istirahat... (Membopong Mamanya ke kamar)Willem : Mama istirahat dulu saja yaa... Will akan ke kamar dulu...
Mama Rosetta : Terima kasih yaa Nak...
Willem : Iyaa Ma...Willem menuju ke kamarnya, ketika tiba di kamarnya, dia langsung melepas lensa kontaknya, lalu tiba-tiba Sharon meneleponnya.
Ponsel : 🎶🎶🎶
Willem : Sharon? (tersenyum, lalu mengangkatnya)
Sharon : Will!
Willem : Yaa, Sharon... Ada apa?
Sharon : Nyalakan kameramu, aku ingin lihat mukamu!
Willem : (Menyalakan kameranya) Baik... Bicaralah, ada apa?
Sharon : Tumben sekali, kamu gak pakai lensa kontakmu? Mamamu gak apa-apa?
Willem : Mama sedang di kamar... Lagipula mataku perih jika terus-terusan pakai lensa kontak...
Sharon : Benar juga sih... Oiya, jelaskan padaku mengenai tawaranmu itu? (pipinya memerah)
Willem : Hahaha! Kamu ini lugu sekali, Ron... Aku bilang, jika kau menerima tawaranku, datanglah besok pagi ke taman belakang sekolah...
Sharon : Tawaranmu untuk menjadi gadismu?
Willem : Hahaha! Ja, dat is recht! (tersenyum)
(Hahaha, yaa, itu benar)
Sharon : Baiklah akan kupikirkan baik-baik! (dengan wajah merah tomat)
Willem : Hahaha! Pikirkanlah...
Sharon : Baik! Akan kututup teleponnya...
Willem : Baiklah...Beberapa menit berlalu, Sharon tidak juga menutup teleponnya.
Willem : Baiklah, Nona... Aku tau kau belum menutup teleponnya...
Sharon : Uhh... Baiklah, akan kututup! Sampai jumpa, Will!
Willem : Doei, mooie meisje!Di rumahnya, Sharon begitu gugup, jantungnya begitu berdebar, karena Sharon memang telah menyukai Willem sejak awal.
Hari beranjak semakin malam, Willem menyiapkan air untuk mandi, setelah mandi ia pun tidur.
Keesokan harinya,
Willem bangun dan langsung mandi, kemudian menuju meja makan untuk sarapan.
Willem : Pagi Mama!
Mama Rosetta : (Terdiam melihat Willem) ...
Willem : Apa ada yang salah denganku, Mama?
Bi Emy : A... Aa belum pakai lensa kontak... (berbisik)
Willem : Astaga! Kenapa aku bisa sampai lupa!? (berdiri untuk segera mengambil lensa kontaknya)
Mama Rosetta : Kamu mau kemana, Will?
Willem : Maaf Ma... Aku lupa pakai lensa kontak...
Mama Rosetta : Gak usah, Nak... Duduk saja... Kamu gak usah pakai lensa kontak hari ini... Pasti matamu perih yaa... Sini biar Mama tiupkan...
Willem : Apa Mama gak apa-apa?
Mama Rosetta : Yaa... Mama gak apa-apa, Nak! Maafkan Mama karena terus membuatmu khawatir yaa... Mulai sekarang Mama akan coba tahan depresi Mama... Mama ingin kamu tumbuh dengan bahagia dan sehat, sayang...
Willem : Hmm... Kalau Mama gak sanggup, Mama jangan memaksakan diri yaa Ma... Willem lebih khawatir dengan keadaan Mama...
Mama Rosetta : Mama gak apa-apa kok, Nak! Hari ini kamu pergi ke sekolah gak usah pakai lensa kontak yaa... Beri kebebasan pada matamu yang indah itu... (memeluk Willem)
Willem : Makasih Ma... Kalau begitu, Will pergi dulu yaa...
Mama Rosetta : Baiklah! Hati-hati di jalan, Nak! Dia itu mirip sekali dengan Kristoff ya, Bi...
Bi Emy : Hmm... Iyaa Nyonya...Willem pun pergi ke sekolah, menaruh tasnya di kelas, dan sesuai janjinya, ia menuju ke taman belakang, dan menunggu kehadiran Sharon.
Willem : Apa dia akan datang? Huft... Kenapa detak jantungku semakin kencang yaa...
Willem terus menunggu, setengah jam sudah berlalu, Willem masih menunggu, dan setelah satu setengah jam ia mulai putus asa.
Willem : Hahaha! Kamu terlalu naif, Will... Sharon hanya menyayangimu sebagai teman... Apa sebaiknya aku ke kelas saja yaa...
Willem berdiri dari kursi taman, ia memalingkan tubuhnya dengan tujuan segera menuju kelas, tapi tiba-tiba ada yang meneriakkan namanya.
Sharon : Willem Van Derkann! Jangan pergi dulu! Aku datang! Willem Van Derkann! (berlari mendekati Willem)
Willem : Kamu datang! Apakah ini berarti kamu mau jadi gadisku? (tersenyum)
Sharon : Yaa! Aku mau, Will! Aku gadismu, dan kau milikku! Aku gak mau jauh darimu! (memeluk Willem)
Willem : Baiklah, Nona... Aku gak akan jauh-jauh darimu! (menyambut pelukannya)
Sharon : Will!
Willem : Iyaa?
Sharon : Matamu kenapa? Apa lensa kontakmu jatuh?
Willem : Hahaha! Mataku sehat-sehat saja! Memang ada apa?
Sharon : Mamamu gimana?
Willem : Mama menyuruhku untuk gak menggunakan lensa kontak hari ini... Mama bilang mataku butuh kebebasan, mungkin saja Mama dengar obrolan kita kemarin, saat aku bilang mataku agak perih... Tadi pagi juga aku sebenarnya lupa pakai lensa kontak, tapi Mama sudah gak memanggilku dengan nama Papa lagi... Mama diam sebentar, lalu Mama mencegahku saat mau mengambil lensa kontak di kamar... Mama bilang, Mama ingin lihat aku tumbuh dengan bahagia dan sehat...
Sharon : Wahh!! Aku ikut senang mendengarnya! Semoga keadaan Mamamu semakin membaik yaa! Oh iyaa, mulai sekarang kamu milikku, jadi kamu harus menjaga kesehatanmu yaa! Jangan sampai sakit! Sekarang ayo kita ke kelas, supaya gak telat!
Willem : Oké, mooie meisje! (tersenyum)
(oke, gadis cantik!)~~Bersambung~~

KAMU SEDANG MEMBACA
Is Het Leven
Romance"Hoe slecht mijn situatie ook is, je zult altijd aan mijn zijde staan, dat is wat je zegt, toch?" "Seburuk apapun situasiku, kamu akan selalu disisiku, itu yang kamu katakan, kan?"