Alex : Hahaha! Makasih Ma... Oh ya, Will... Bagaimana hari-harimu di Indonesië?
Willem : Hmm... Cukup menyenangkan...
Alex : Apakah Indonesië membuatmu betah?
Willem : Yaa, aku betah di Indonesië... Berbicaralah dengan benar, logat bahasa Indonesië-mu gak bagus tau!
Alex : Hahaha! Kamu ini, Will! Kamu kan tau kalau aku lama di Nederland, tentu saja logatku masih bertumpu pada logat Nederland, karena aku juga baru berbicara dengan bahasa Indonesië hari ini, dan kamu malah memakiku!
Willem : Hmm... Baiklah... Baiklah... Aku mau ke halaman belakang dulu...
Sharon : Aku ikut yaa, Will?
Willem : Ayoo...Mereka menuju halaman belakang, duduk bersama disebuah kursi panjang, berbincang sambil menikmati alunan kicau burung di tengah siang. Willem terlihat tidak terlalu senang sejak kedatangan Alex ke Indonesia.
Sharon : Will, kenapa kamu gak senang dengan kedatangan kakakmu? Kamu gak rindu padanya?
Willem : Tentu saja aku rindu, tapi aku lebih mengkhawatirkan kondisi Papa, rinduku gak akan ada artinya kalau Papa gak dijaga dengan baik olehnya, bayangkan Papa sendirian di Nederland, hanya ditemani ajudannya Alex... Andai aku sudah bisa mengumpulkan uang lebih banyak, aku lebih memilih mendampingi Papa sendiri di Nederland...
Sharon : Aku mengerti perasaanmu, Will... Tapi kakakmu juga manusia, pasti ia rindu padamu dan pada Mama... Percayalah padanya, aku yakin Kak Alex akan mengusahakan yang terbaik buat kesembuhan Papa...
Willem : Semoga saja, Ron... Hmm... Kedatangannya membuat pikiranku melayang kemana-mana...
Sharon : Tenanglah, Will... Peluk aku, aku yakin itu bisa membuatmu lebih tenang... (memeluk Willem)
Willem : Hmm... Makasih... Ini terasa nyaman... Biarkan aku memelukmu lebih lama, Ron...
Sharon : Baiklah... Tapi kamu jangan terlalu banyak bersedih, yaa? Aku khawatir dengan keadaanmu...
Willem : Kamu tenang saja, aku anak laki-laki... Aku gak akan mudah sakit kok! (tersenyum)
Sharon : Tapi kamu selalu memikirkan hal-hal yang ada diluar kemampuanmu, Will... Aku khawatir padamu...
Willem : Aku gak apa-apa... Seenggaknya, aku punya Mama, dan dirimu... Selain itu juga aku masih bisa menenangkan diri setelah menghirup aroma bunga Roos...
Sharon : Bolehkah kupetik satu bunga Roos dari tanaman yang disana itu?
Willem : Kamu mulai menyukainya? Ambil saja! (semringah)Sharon berjalan menuju tanaman disudut halaman belakang rumah Willem, ia memetik setangkai bunga Roos, kemudian kembali duduk di samping Willem.
Sharon : Hmm... Ini harum sekali!
Willem : Haha... Kamu sudah tertular olehku!
Sharon : Gak apa-apa! Bunga ini memang indah dan wangi, siapa yang tidak terpesona dengan bunga ini!
Willem : Kamu boleh memilikinya kalau kamu mau... (tersenyum)
Sharon : Memiliki apa?
Willem : Tanaman itu... Aku punya banyak tanaman Roos di sudut-sudut tertentu di rumahku, tentunya sudut yang paling sering aku datangi, kalau ada yang sedang mengganggu pikiranku...
Sharon : Benarkah!? (semringah)
Willem : Tentu saja! Nanti aku akan membantumu membawanya kerumahmu, selagi Mama dijaga oleh Alex...
Sharon : Ahhh! Makasih, Will! Aku sangat senang! (memeluk Will)
Willem : Haha... Senyummu manis sekali, aku jadi ingin lebih sering melihatnya!
Sharon : K-kau akan lebih sering melihatnya kok! (pipinya merah)Di ruang tengah, Mama Rosseta dan Alex berbincang sambil menyeruput teh hangat, Alex mencium bau yang begitu familiar di hidungnya, namun ia tak tau bau apa itu, lantas ia bertanya pada Mama Rosseta.
Alex : Mama, ini bau apa? Kenapa begitu familiar di hidungku? Aku seperti pernah mencium bau ini...
Mama Rosseta : Tentu saja kamu familiar dengan harum ini... Ini harum dari bunga kesukaan Will...
Alex : Ahh! Bunga yang warnanya indah itu yaa? Hmm... Aku lupa namanya... Bunga Roks?
Mama Rosseta : Hampir tepat!
Willem : Namanya Roos! Begitu saja kau gak tau, padahal kaulah yang paling sering memperhatikanku dulu, saat kau masih di Indonesië, kau sering sekali mendekatiku saat aku sedang mengurus tanaman Roos!Tiba-tiba saja Willem datang dari halaman belakang bersama Sharon, dan menjawab pertanyaan Alex.
Alex : Iyaa aku ingat kok, Will... Aku hanya lupa namanya... (tersenyum)
Willem : Hmm... Baiklah... Apa kau lapar, Alex?
Alex : Iyaa... Aku sedikit lapar...
Willem : Gimana dengan Mama?
Mama Rosseta : Hmm... Sepertinya Mama juga lapar, sayang!
Willem : Tunggulah di sini, Will mau memasak sesuatu...
Mama Rosseta : Asyikk! Sudah lama Mama gak makan masakan Will!
Willem : Baiklah... Tunggu sebentar yaa, Ma...
Sharon : Boleh aku membantumu, Will?
Willem : Natuurlijk, mooie meisje! Kom op!
(menarik tangan Sharon)
(Tentu saja, gadis cantik! Ayo!)Willem dan Sharon berjalan ke dapur, mereka memasak bersama sambil bercanda sesekali, Will memasak dengan sangat teliti, tidak ada satu pun takaran bahan yang kurang ataupun lebih di tangannya, Sharon yang seorang gadis juga hanya bisa diam terkagum-kagum melihat bakat memasak Willem, Willem melihat ekspresi Sharon dengan terheran-heran.
Willem : Kenapa kamu terus memandangiku sambil terdiam?
Sharon : Aku hanya kagum, kamu bisa melakukan hampir semua pekerjaan rumah sendiri, dan kamu berbakat dalam memasak!
Willem : Itu karena aku harus merawat Mama sendirian, saat Bi Emy atau Mang Atta harus pulang kampung secara mendadak, hanya aku yang ada di rumah, dan itulah yang membuatku terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah semacam ini...
Sharon : Aku salut padamu! Kamu hebat sekali! Oh ya, ngomong-ngomong kamu sedang memasak apa sih?
Willem : Kalau sup ini, namanya Erwtensoep, atau di Indonesië disebut sup Ercis, lalu yang kentang ini, namanya Stamppot, masakan Nederland yang paling aku sukai, Papa yang mengajarkanku memasak Stamppot ini... Nanti kamu harus mencobanya, yaa? Aku gak akan bohong, rasa Stamppot ini enak sekali!
Sharon : Baiklah! Hmm... Aku senang sekali melihatmu seceria ini!
Willem : Itu karena ada kamu di sampingku! (tersenyum)
Sharon : U-uhmm... (pipinya memerah)
Willem : Hahahaha! Wajahmu kalau marah memang lucu sekali!
Sharon : Kamu gak henti-hentinya menggodaku, Will... Apa dengan begitu bisa menghiburmu? Kalau begitu goda terus saja aku! (tersenyum)
Willem : Hehe! Aku hanya terhibur melihat ekspresimu yang imut... (tersenyum)
Sharon : Kalau begitu godalah aku sepuasmu, Will!
Willem : Gak, itu akan membuatmu merasa gak nyaman... Kamu tenang saja... Aku gak apa-apa kok! Ehh, masakan kita sudah matang! Ayo, kita bawa ke depan! Pasti Alex dan Mama sudah menunggu!
Sharon : Ayo!Willem dan Sharon membawa masakan mereka ke ruang tengah, harumnya tercium sampai ke depan rumah.
Alex : Hmmm... Aku mencium bau Stamppot!
Willem : Iyaa, aku memasaknya buatmu, Alex...
Alex : Benarkah!? (tersenyum)
Willem : Iyaa, tapi jangan dihabiskan, aku memasaknya buat Mama dan Sharon juga!
Alex : Hahaha! Tentu saja aku gak akan menghabiskannya, memangnya aku ini apa? Lagipula kamu memasak Stamppot sebanyak ini, aku benar-benar gak yakin dapat menghabiskan semangkuk pun!
Willem : Baiklah, baiklah... Ayo cepat makan!~~Bersambung~~

KAMU SEDANG MEMBACA
Is Het Leven
Romance"Hoe slecht mijn situatie ook is, je zult altijd aan mijn zijde staan, dat is wat je zegt, toch?" "Seburuk apapun situasiku, kamu akan selalu disisiku, itu yang kamu katakan, kan?"