Sharon : Kamu jangan bilang begitu! Ini kesempatanmu! Aku gak akan kerepotan kok! Aku sudah menganggap Mamamu sebagai Mamaku sendiri! Lagipula, Mamamu juga kenal baik kan denganku, itu akan memudahkan kita dalam merawat Mama! Aku akan bilang pada orang tuaku untuk mengizinkanku untuk merawat Mamamu sebentar setelah pulang sekolah, kau fokus saja pada Olimpiade itu! Ayolah! Ini kesempatanmu! Hadiahnya bisa kau tabung untuk biaya ke Belanda, Will! Bagaimana?
Willem : Belum genap sehari aku menjadi kekasihmu, aku sudah merepotkanmu...
Shatron : Gak merepotkan kok! Aku senang tau! Ayo ikutlah Olimpiade itu, yaa?
Willem : Hmm... Kamu yakin?
Sharon : Tentu saja, Will! Aku ingin yang terbaik buatmu! Kalau ada kesempatan, kamu harus mengambilnya! Tenang saja yaa?
Willem : Hmm... Bagaimana yaa...
Sharon : Sudah! Jangan banyak berpikir! Biar aku yang datang langsung ke Pak Adi, akan ku ambilkan buatmu! (segera beranjak ke ruang guru)
Willem : Ron, tunggu! Kamu belum mendengar jawabanku!
Sharon : Aku bisa mengetahui jawabannya dari sorot mata kekasihku! Tenang saja!Sharon segera pergi meminta kertas formulir ke ruang guru, sementara Willem masih bimbang dengan keputusannya itu, dia terus saja memikirkannya. Hingga Sharon kembali, Willem terus saja melamun.
Sharon : Willem Van Derkann!
Willem : Eh! Sharon... Kamu sudah kembali?
Sharon : Jangan melamun terus... Itu gak baik buatmu...
Willem : Baiklah, aku minta maaf... Aku terbiasa melamun jadi sulit menghilangkannya...
Sharon : Ini formulirmu! (menyerahkan 2 lembar kertas)
Willem : Aku akan tanya pada Mama dulu, Ron... Semoga saja gak keberatan...
Sharon : Aku ikut ke rumahmu yaa, Will?
Willem : Orang tuamu gak akan marah?
Sharon : Tentu gak dong, aku akan mengabari mereka kok!
Willem : Baiklah, kalau begitu ayo...Mereka segera menuju rumah Willem, di pekarangan rumah Willem, Sharon melihat sebuah tanaman dengan bunga yang begitu cantik, dan harum baunya.
Sharon : Will, ini bunga apa? Warnanya cantik sekali, wanginya juga sedap!
Willem : Itu bunga Roos, Ron... (tersenyum)
Sharon : Oh! Bunga favoritmu yaa? Tadi aku membacanya di buku diary-mu... Kamu merawatnya sendiri?
Willem : Iyaa, ini bunga kesukaanku... Awalnya aku merawatnya sendiri, tapi karena sekolah, kadang Bi Emy atau Mang Atta yang menyiramnya di pagi hari...
Sharon : Kenapa kamu begitu menyukai bunga ini, Will?
Willem : Pertama kali aku kenal dengan bunga ini, ketika aku masih kecil, di pekarangan rumahku yang ada di Nederland, banyak sekali Windmolen yang dikelilingi taman bunga, Papa suka sekali mengajakku bermain di dekat salah satu Windmolen itu, suatu hari aku jatuh saat sedang bermain, aku menangis kesakitan, lalu, buat menghiburku, Papa memetik setangkai bunga berwarna merah muda dengan wangi yang sangat harum, Papa bilang, bunga itu bisa membuatku tenang dalam sekejap, awalnya aku gak percaya, tapi ternyata wanginya memang benar-benar membantuku menjadi tenang, Papa bilang nama bunga itu "Roos", bunga yang selalu membuatku bangkit dengan berbagai harapan baru, semenjak itu, aku jadi suka sekali dengan bunga Roos...
Sharon : Maaf telah menanyakannya, aku malah membuatmu kembali mengingat Papamu...
Willem : Hahaha! Tenang saja! Lagipula tanpa kamu bertanya seperti itupun aku tetap selalu mengingat Papa, dan aku juga sudah biasa dengan itu, sedih itu hanya sementara, lebih baik bahagia! Jangan khawatirkan perasaanku, daripada itu, ayo kita masuk! Aku yakin pasti Mama senang menemuimu!
Sharon : Hmm... Baiklah... Ayo!Mereka berdua masuk ke rumah, Willem menaruh sepatunya dengan rapi, lalu menyimpan tas di kamarnya, kemudian segera menuju ruang tengah bersama Sharon.
Willem : Mama, Will sudah pulang!
Mama Rosseta : Kristoff!? (pandangannya fokus ke arah Willem)
Willem : Ini Will, Ma... Bukan Papa...
Mama Rosseta : Kamu Kristoff suamiku, kan?
Willem : Hmm... Ron... Tunggu sebentar yaa... Aku akan ke kamar, memakai lensa kontakku dulu...
Sharon : I-iyaa, Will...
Mama Rosseta : Kamu mau kemana, Kris? (Menahan tangan Willem)
Willem : Aku Will, Ma... Sebentar... Willem ambil lensa kontak Will dulu...
Mama Rosseta : Gak perlu... Mama hanya bercanda! Hahahaha! Mama tau, ini Will, anak kesayangan Mama! (Raut wajahnya begitu bahagia)
Willem : Mama... Mama membuat Will khawatir...
Mama Rosseta : Mama sudah gak apa-apa, sayang... Sini peluk Mama! (memeluknya)
Willem : Serius? Mama sudah gak apa-apa?
Mama Rosseta : Iyaa, sayang... Daripada Mama terus menunggu kedatangan yang gak pasti, lebih baik Mama menghabiskan waktu dengan bahagia bersamamu, Will!
Willem : Syukurlah... Aku sangat bahagia mendengarnya, Ma! (memeluk Mamanya)
Mama Rosseta : Oh ya, halo Sharon! Pasti kamu kaget yaa! Tenang saja! Tante sudah gak apa-apa kok! Ayo duduk!
Sharon : Oke, Tante! Tante apa kabar?
Mama Rosseta : Kabar Tante baik, sayang... Kabar Mama dan Papamu gimana?
Sharon : Mereka juga baik, Tante! Salam dari Mama sama Papa!
Mama Rosseta : Ahh, terima kasih, sampaikan juga salam Tante untuk mereka yaa!
Sharon : Iyaa, Tante! Nanti Sharon sampaikan!
Willem : Mama... Ada yang ingin Will tanyakan...
Mama Rosseta : Apa itu, sayang? Katakan saja!
Willem : Jadi begini, Pak Adi menawarkanku buat ikut Olimpiade Sains antarsekolah, Pak Adi bilang, aku salah satu anak yang berpotensi memenangkan Olimpiade itu, dan menyarankan agar aku ikut serta dalam Olimpiade itu... Sebenarnya aku ingin mengikuti Olimpiade itu, tapi itu akan menguras habis waktuku buat menemani dan merawat Mama, jadi aku gak bisa memutuskannya, Ma... Menurut Mama gimana?
Mama Rosseta : Astaga, sayang! Kamu harus mengambil kesempatan ini! Mama gak akan apa-apa kok! Lagipula Bi Emy dan Mang Atta kan selalu ada di rumah, jadi Mama pasti akan baik-baik saja...
Sharon : Aku juga sudah bilang pada Will, Tante... Aku akan menemani Tante saat Will sibuk belajar... Kita bisa masak atau melakukan hal menyenangkan lainnya kan, Tante? Tapi Will tetap kekeh ingin mendengarkan komentar Tante...
Mama Rosseta : Yang Sharon bilang itu benar, sayang! Mama bisa menghabiskan waktu dengan kegiatan yang menyenangkan bersama Sharon jikalau kamu sibuk belajar! Kamu gak boleh menyia-nyiakan kemampuanmu! Tunjukan bahwa anak kesayangan Mama adalah juara di sekolah!
Willem : Mama yakin? Mama gak akan keberatan kalau Will sibuk belajar karena akan ikut Olimpiade? Will takut terjadi sesuatu pada Mama... Apa lebih baik Will tolak saja tawaran dari Pak Adi?
Mama Rosseta : Tentu saja jangan, sayang! Kamu harus menerimanya! Tunjukkan kehebatanmu pada peserta lain! Mama pasti akan sangat mendukung kegiatan seperti ini! Kamu tenanglah, mama gak keberatan kok! Mama malah senang kamu bisa ikut ajang bergengsi seperti ini! Persiapkan otakmu... Jangan kurang makan! Lalu belajarlah dengan baik, anakku! Mama akan selalu mendukungmu lewat doa! Jangan khawatirkan Mama, Sharon akan membuat Mama bahagia di rumah!
Willem : Baiklah, Ma... Makasih karena selalu mendukungku dalam segala hal! Aku pasti akan memenangkan Olimpiade ini buat Mama dan Sharon! Kalian akan tersenyum bangga! Lihat saja!
Sharon : Tentu saja! Aku percaya padamu, Will! Kemampuanmu memang hebat!
Willem : Makasih, gadisku! Aku gak akan membuat kalian kecewa!
Mama Rosetta : Astaga! Apa Mama gak salah dengar? Anak kesayangan Mama memanggil Sharon sebagai gadisnya? Apa kalian pacaran?
Willem : Oops! Hahaha! Begitulah Ma... Kami baru jadian pagi ini...
Mama Rosseta : Ya ampun! Kalian lucu sekali! Mama jadi ingat masa muda Mama! (tersenyum pucat)
Willem : Hmmm... Mama gak apa-apa?
Mama Rosseta : Tentu saja Mama gak apa-apa, sayang! Kalian memang serasi! Mama doakan supaya kalian terus saling mencintai dan gak akan terpisah!
Sharon : Hahaha! Makasih doanya Tante... Tante baik sekali! (memeluk Mama Rosseta)
Mama Rosseta : Tentu saja, sayang!~~Bersambung~~

KAMU SEDANG MEMBACA
Is Het Leven
Romance"Hoe slecht mijn situatie ook is, je zult altijd aan mijn zijde staan, dat is wat je zegt, toch?" "Seburuk apapun situasiku, kamu akan selalu disisiku, itu yang kamu katakan, kan?"