step to love

1.3K 146 90
                                        

"jadi kemarin kamu jalan sama anak maba itu?" ssing mengikuti janhae


"iya, dan dia punya nama. namanya nanon" janhae meletakkan tasnya dan duduk di depan pluem

"kemana? ngapain?"

"cuma nganterin dia cari buku"

"nanon minta kamu nganterin dia cari buku?" sela puimek

"er, iya" jawab janhae sedikit ragu "kenapa?"

"oh, nggak. nggak papa" puimek kembali membaca buku di hadapannya

"jan, kamu kenapa mau jalan sama dia?" ssing kembali mendesak janhae

"mau jalan sama siapa terserah aku dong ssing"

"ya tapi kenapa sama dia?"

pluem memperhatikan ssing yang masih meluncurkan berbagai pertanyaan pada janhae, yang pluem yakin jika dia tidak segera berhenti akan membuat janhae emosi.

dugaan pluen benar, janhae habis kesabaran menghadapi pertanyaan ssing dan memilih pergi meninggalkan mereka, namun tidak seperti yang sudah sudah, ssing masih belum menyerah dan berlari mengejar janhae

pluem menoleh pada puimek yang hanya diam karena merasa jawaban janhae memiliki sedikit nada bersalah saat menjawab pertanyaan puimek barusan

"kenapa melihatku? aku tidak tahu apa apa" kata puimek sembari merapikan bukunya dan berajak pergi meninggalkan pluem

"cuma perasaanku atau ssing tiba tiba terlalu kepo dengan jan, dan jan terlihat bersalah pada puimek?"

"hmm, memang" sahut fiat yang sejak tadi mengacuhkan interaksi ketiga temannya

sudah sejak beberapa hari yang lalu fiat menyadari perubahan sikap di antara ketiga temannya itu. hanya saja dia memilih untuk diam dan memperhatikan nya terlebih dahulu. meskipun berteman, tapi ada hal yang memang tidak seharusnya mereka campur tangan jika tidak diminta.

terutama jika menyangkut masalah personal yang rumit seperti ini.

"kenapa dengan mereka memangnya, bukannya kemarin mereka bertiga masih baik baik aja"

"kayaknya sih gara gara leader nya kelompok maba bermasalah itu" fiat menatap meja di seberang mereka

pluem ikut memperhatikan kelompok yang pernah mencoba membuat masalah dengannya itu

"apa kita perlu melakukan sesuatu?"

"biarin dulu lah" kata fiat "kurasa ada bagusnya juga bagi mereka"

"maksutmu?"

"yah, kamu tahu kan kalau ssing suka jan sejak kita tingkat satu?"

"iya"

"siapa tahu dengan begini dia bisa berani ngomong ke jan"

"kurasa nggak deh, kalau memang dia berani, dari awal ssing udah bakal bilang. lagipula kurasa dia milih diam biar pertemanan kita nggak ribet"

kata pluem sangsi. prioritas ssing sama sepertinya, mereka lebih memilih diam dan berteman daripada jujur yang beresiko menghancurkan keseimbangan dinamis grup mereka. sejak malam hari terakhir ospek, mereka berlima sudah berjanji akan menjadi teman seperjuangan dan lulus bersama dari univ setelah empat tahun.

"ya, tapi itu kan dulu, nggak ada ancaman, jadi dia tenang tenang aja. kalu sekarang kan ada kemungkinan jan sama nanon"

"apa bedanya, nggak ngaruhkan?"

"jelas ngaruhlah pluem. kamu nggak tahu aja, dari dulu yang paling bikin aku takut bukan di tolak kak oaujun, tapi kalau ada orang yang suka kak oaujun dan kak oaujun nya juga suka dia. selama nggak ada kemungkinan itu aku lebih milih jadi teman daripada resiko di tolak. tapi kalau ada resiko itu ya mending di tolak nya sekalian, sekalian putus teman nggak masalah, lebih bagus malah aku nggak perlu sakit hati lihat"

squareTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang