"sepertinya pendengaranku bermasalah, bisa kamu ulang" kata fiat setelah diam sesaat
"really?" sahut pluem malas
fiat mengusap wajahnya sebelum kembali menatap pluem "sejak kapan?"
pluem mengangkat bahu acuh "tingkat satu kurasa. tapi belakangan aku merasa kalau mungkin aku hanya berpikir begitu"
"maksutmu?"
"selama di rumah sakit aku punya banyak waktu luang untuk berpikir, aku juga berbicara dengan dokter tee.
aku punya masalah dengan orang yang selalu pergi, ayah, ibu, kakek, nenek dan sejak itu aku tidak lagi mau bergantung pada orang. jadi aku mencari hal lain dan menemukan badminton. aku memang tidak bisa memaksa seseorang untuk tinggal, badminton bukan orang, jadi aku bisa menggenggamnya.
tapi kemudian aku cidera, satu satu nya hal yang aku yakin bisa terus kupertahankan ternyata juga bisa hilang. di saat itulah aku bertemu denganmu dan kita memiliki banyak kesamaan"
"kamu masih nekat bermain"
"karena aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. aku tahu suatu saat kamu akan pergi sama seperti orang tuaku. apalagi aku tahu kamu suka kak oaujun, karena itu aku bertahan dengan apa yang kupunyai dan nekat main"
"jadi?"
"apanya?"
"jadi sebenarnya sekarang kamu masih menyukaiku atau tidak?"
"iya, wait, nggak" pluem mengerutkan kening "mungkin?"
"pluem"
"entahlah, aku tidak tahu. sebelumnya semua jelas bagiku, aku menyukaimu, aku tidak bisa meninggalkan badminton karena itu satu satu nya hal yang kupunya.
tapi tiba tiba saja sekarang semuanya berbeda, aku berhenti, well, kalian membuat ku berhenti main dan entahlah ... aku tidak tahu. yang manapun juga tidak masalah kan"
"lalu bagaimana dengan chimon?"
"ya, kebetulan saja pas kita ngobrol dia ada di sana, aku nggak kepikiran nama orang jadi ya, dan karena udah terlanjur aku minta tolong sekalian"
"kok dia mau bantuin kamu?"
"kami buat kesepakatan, ada tuh listnya, aku lupa kutaruh mana tapi"
fiat memijat keningnya, kepalanya tiba tiba pusing mendengar pengakuan pluem.
"jadi kamu hanya menggunakan chimon, tapi yang kulihat kamu lebih sering tersenyum dan tertawa sejak bersamanya"
"dia anak yang menyenangkan" sahut pluem tanpa sadar tersenyum
"kan!!!" fiat menunjuk wajah pluem dengan jarinya "tuh lihat, mukamu jadi gitu, yakin kamu cuma pura pura dengannya?"
pluem menepis tangan fiat sembari menghela nafas "makanya aku bilang nggak tahu kan"
"jadi singkatnya kamu nggak tahu bagaimana perasaanmu sekarang? baik dengan ku atau chimon? bagus. tapi kamu tahu kalau chimon suka denganmu kan?" kata fiat
"hmm"
"tega kamu pluem, minta bantuan ke dia meski kamu tahu..."
"hei, aku nggak tahu sebelumnya" potong pluem "aku juga baru sadar saat di akuarium kemarin"
"kok bisa?"
"kamu pernah ketemu chimon kan, sebentar dia nyebelin, habis itu baik, sering iseng, tapi bisa terlihat imut, cara ngomongnya kadang juga buat orang pengen nabok. dia susah di baca"
KAMU SEDANG MEMBACA
square
Fanfictionpluem have a crush on his bestfriend who already like someone else. Knowing how hard it's feel, as a good friend, he decided to buried his feelings and help his friends to pursue his love. another au short story with pluem.
