Hai semuanya, maaf lama update. Gue lagi sibuk kerja dan banyak lemburan, jadi nulis ini story bener2 disempet2in kalo bisa. Sorry kalo ceritanya makin absurd, soalnya gue bingung gimana caranya nyelesein ini story. Gue udah ada gambaran gimana mau gue selesein, tapi pasti bakal jadi alur yang kecepetan banget. Ya udah deh nikmatin aja..
Pagi ini Abel dikejutkan dengan kamera cctv yang dia pasang di apartemennya. Apartemennya dalam keadaan berantakan, dia memang memasang beberapa kamera cctv di apartemennya dengan alasan keamanan. Dia memperhatikan hampir seluruh ruangan berantakan, dia dapat melihat ulah para vampire penghianat itu. Abel keluar kamar dan menemukan Tuan Smith tengah meminum secangkir kopi di ruang tengah. Beliau melihat sosok Abel yang keluar kamar.
"Kau mau secangkir kopi?" tawarnya kepada Abel dan Abel menggelengkan kepalanya menjawab tawaran itu.
"Apa kau mencari Ellen? Kalau iya dia tengah pergi keluar, katanya hanya sebentar ada hal yang harus dia urus." Jelas beliau, Abel memilih duduk di single sofa yang berada disebelah Tuan Smith.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan?" Abel sebenarnya ragu ingin menanyakannya, tapi dia sangatlah penasaran.
"Apa yang akan terjadi kalau sampai Blood Red benar-benar berhasil?" Abel sebenarnya sangat takut akan hal yang akan terjadi.
"Kehancuran dunia, ketidakseimbangan akan terjadi antara vampire dan umat manusia. Dan tentu saja manusia akan bisa hidup abadi seperti vampire. Itu adalah bencana bagi umat manusia yang menentang dan akan menjadi surga bagi mereka yang menentang rencana ini. sebenarnya aku menyesal telah membuat hal ini." Smith menundukkan kepalanya raut wajahnya nampak frustasi.
"Bukannya mereka belum menyelesaikan project itu?"
"Tentu saja mereka belum menyelesaikannya, dan mereka tidak akan bisa menyelesaikan. Karena kunci dari Blood Red ada ditangan kita dan mereka membutuhkannya untuk menyempurnakan semua itu." Ellen muncul dan langsung memeluk Abel dari belakang.
"Apa kunci dari kesempurnaan Blood Red?" Abel menolehkan kepalanya menatap Ellen yang bersandar dibahunya.
"Kau kuncinya." Ellen mencium sekilas bibir Abel membuat Abel tersipu malu.
"Apa yang mereka inginkan dariku?" Abel mengerutkan dahinya bingung.
"Mereka butuh darahmu, darah seorang vampire murni bukan mereka yang sudah berubah jadi vampire atau manusia setengah vampire, tapi kau."
"Aku harus apa?" Abel menatap kosong Ellen yang kini bersimpuh disampingnya dan menggenggam jemarinya.
"Yang harus kamu lakukan hanyalah berlindung dan terus bersamaku. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk melindungimu apapun yang terjadi."
"Apa aku tidak perlu bertarung?" Ellen mengusap pipi halus Abel dengan jemarinya.
"Biar aku yang bertarung, aku ingin kau melakukan sesuatu."
"Tapi kau hanya sendiri El." Abel balas menggenggam jemari Ellen.
"Aku tidak sendiri, aku sudah menyiapkan pasukanku sendiri jauh sebelum ini terjadi dan kujamin mereka berada dipihakku. Aku dan mereka akan berjuang keras agar kamu dan Tuan Smith terlindungi. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu atau menyakitimu. Aku pastikan itu semua."
"Siapa yang membantumu El? Aku akan membantumu." Ellen mengajak Abel untuk berdiri dari duduknya.
"Aku janji aku akan melindungimu, jadi aku mohon kepadamu, percaya padaku dan bersembunyilah disini bersama Tuan Smith dan aku ingin kau membantunya untuk menemukan cara agar Blood Red tidak sampai bisa selesai." Pinta Ellen dengan serius.
"Aku akan berusaha, aku ingin kau menjaga dirimu, aku tidak mau kau terluka sedikitpun." Tangan dingin Abel mengelus pipi Ellen dengan lembut.
"Tidak, aku akan berusaha agar tidak sampai terluka."
"Aku seperti rempahan ayam K*C aja disini. Jangan lupakan orang tua ini anak muda yang menonton kalian sedari tadi." Tegur Tuan Smith membuat kedua sejoli itu sadar akan keberadaanya dan melirik malu-malu.
"Aku ada rencana untuk ini semua. Kalian berdua bisa kembali duduk?"
Abel dan Ellen mengikuti permintaan Tuan Smith untuk mendengarkan rencananya.
"Aku tau rencanamu ingin menyerang langsung tempat penelitian itu dengan pasukan yang kau miliki bukan?" Tuan Smith menatap Ellen.
"Tentu saja itu rencana bagus, tapi apakah itu tidak terlalu mencolok dan membuat mereka semakin waspada jika saja rencanamu gagal? Aku ingin kau masuk secara perlahan, aku yakin mereka tidak akan curiga terhadapmu jika saja kau kembali ke kampung halamanmu dengan alasan merindukan mereka."
"Dan aku ingin kau melihat sendiri bagaimana selama ini pemburu vampire bekerja dibawah kepemimpinan Lea. Dan kau harus putuskan sendiri apakah kau bisa membawa mereka bebas dari belenggu Lea. Karena pemimpin mereka sebenarnya adalah kau."
"Aku ingin kalian berpisah selama beberapa waktu, mereka bisa mengendus bau seorang vampire terutama darah Quincy. Aku yang akan menjaga Abel disini jangan khawatir aku pasti akan membuat sesuatu yang bisa menghentikan Blood Red."
"Anda ingin menjadikan Ellen umpan? Anda ingin membuat Ellen terluka di kandang singa?" Abel menatap emosi kearah Tuan Smith.
"Aku tidak bermaksud menjadikannya umpan, aku hanya ingin dia merencanakan semuanya secara matang dengan melihat beberapa hal yang terjadi didalam klan pemburu. Dia harus mengetahui semua kebenarannya."
"Kebenaran? Maksud Anda apa Tuan Smith?" Ellen menatap bingung pada Tuan Smith yang membongkar fakta baru lagi.
"Kau akan tau setelah berada disana. Aku yakin satu bulan sudah cukup untuk menggali berbagai informasi dari mereka. Kalau bisa lebih cepat lebih bagus lagi."
"Aku tidak berhak memberi tahumu, tapi satu hal yang harus kau tau. Janganlah membenci siapapun yang harus kau benci adalah Lea." Tuan Smith berlalu dari hadapan keduanya.
Setelah Tuan Smith menghilang ke dalam kamarnya Abel dan Ellen termenung di sofa memikirkan percakapan absurd dengan Tuan Smith barusan.
"Apa kau bisa menjaga dirimu?" tanya Abel setelah beberapa saat tenggelam dalam pikirannya.
"Aku yakin aku bisa menjaga diriku sendiri, jangan khawatirkan aku. Aku akan membongkar banyak hal disana dan kupastikan itu tidak lama. Aku harus tau segalanya." Ucap Ellen yakin.
Semua tidak akan mudah, dan semua perlu perjuangan. Aku akan memilih hal yang kurasa benar. Pikir Ellen.
***
Disebuah ruangan terdapat berbagai macam alat dan juga ramuan aneh bahkan peralatan bedah lengkap ada di dalam ruangan itu. bau darah dan juga bahan-bahan kimia menjadi satu. Disana terlihat Lea tengah membaca sebuah laporan untuk kesekian kali dia harus kecewa karena dia kesulitan untuk menyempurnakan Blood Red.
Dia harus segera menyelesaikannya sebelum Qyna menyadari tujuan utama dia ingin menyempurnakan Blood Red. Semua orang tidak tau sebenarnya Blood Red bukanlah sebuah ramuan melainkan sebuah media untuk membangkitkan sang Demon. Dan dia membutuhkan kekuatan itu untuk menguasai dunia dan membuat semua orang bertekuk lutut padanya.
Dia ingin hidup abadi, karena menjadi manusia lemah tidak ada didalam kamusnya, dia harus menguasai semuanya.
Sorry pendek, lagi ga mood.
Hope you like it and enjoy this story
