Siang ini Taeyong berencana untuk tidak makan siang di rumah. Pertama kalinya setelah dua minggu menikah dengan Ten. Bukan karena ia malas memasak atau apa. Hanya saja Taeyong tidak mau rugi jatah poinnya hangus. Sistem pemberian uang makan kantor SM memang berbeda dengan perusahaan lain. Setiap bulannya para karyawan akan mendapatkan poin yang bisa ditukarkan dengan makanan yang ada di cafetaria mereka.
Berhubung makanan di cafetaria itu porsinya sedikit dan mahal, Taeyong memilih makan di tempat lain atau memasak sendiri di rumah -semenjak ia punya istri-. Ia juga melarang Ten untuk makan sembarangan. Masakan Taeyong lebih terjamin gizi dan Kebersihannya. Taeyong menekankan hal itu.
Setelah mengantri cukup lama, Taeyong membawa makan siangnya ke sebuah meja tempat Johnny dan Yuta sedang duduk. "Sepertinya seru, sedang membicarakan apa?" tegur Taeyong. Keduanya menoleh. Yuta dan Johnny mengeluarkan reaksi yang berbanding terbalik. Yuta tersenyum lebar dan lebih bersemangat menyambut sahabatnya. Sementara Johnny memicitkan matanya menatap Taeyong tidak suka. Ekspresinya dari cerah berubah suram.
"Kau tampak letih, tapi letih bahagia." komentar Yuta menepuk-nepuk pundak Taeyong. Taeyong tersenyum malu-malu. "Jadi bagaimana?" sambung Yuta.
"Bagaimana apanya?" tanya Taeyong sambil menyuap pastanya.
"Kehidupan pengantin barulah~~" sahut Yuta menaik turunkan alisnya genit. Taeyong menggeleng.
"Kalau usia kandunganya sudah di atas dua puluh minggu baru boleh, dokter memperingatkanku." jawaban Taeyong membuat Yuta mendesah kecewa. Johnny berdehem.
"Oh, istrimu sedang hamil?" ucapnya. Taeyong lagi-lagi hanya tersenyum malu-malu.
"Itu sebabnya mereka menikah," jawab Yuta.
"Berapa usia kandungannya?" tanya Johnny lagi.
"Lima belas minggu," jawab Taeyong sambil menatapnya. Johnny mengangguk-angguk. Ia menyesap sedikit kopinya kemudian bertanya lagi. Kali ini nadanya agak ragu.
"Bagaimana... keadaannya?" tanyanya. Taeyong sempat berhenti mengunyah dan menatap heran Johnny. Begitu juga dengan Yuta.
"Dokter bilang bayi dan ibunya sehat, bahkan kondisinya luar biasa." jawab Taeyong lagi. Johnny menghela napas lega namun tidak di sadari oleh Taeyong dan Yuta. Setelah itu mereka menyelesaikan makanan dan minuman mereka dengan tenang. Selesai makan, Taeyong yang pertama berdiri. Ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Masih ada jadwal pemotretan sebuah grup dan Taeyong harus segera menyiapkan pakaian mereka.
"Aku pergi dulu." Kata Taeyong menepuk pundak Yuta dan melambaikan tangan pada Johnny. Yuta mengangguk.
"Menjemput istri?" godanya. Taeyong terkekeh geli sambil menutup mulut. Sengaja memamerkan cincin kawin di jari manisnya. Membuat urat leher Johnny menegang saja.
"Belum, aku harus menyelesaikan satu pekerjaan dulu, sampai nanti." Taeyong menjauh seraya melambaikan tangannya. Yuta menatapnya takjub.
"Dia terlihat sangat bahagia, membuatku ingin menikah juga." kata Yuta menopang dagu. Johnny mendengus kesal. Ia langsung berdiri.
"Bukankah kita harus bergegas?" ucapnya melirik sinis Yuta. Yuta mengerenyit heran. Ia pun melirik jam tangannya. Yuta kemudian mendesah lelah.
"Masih setengah jam lagi." jawab Yuta.
"Setengah jam bisa habis di perjalanan dan bersiap, jangan buang-buang waktu!" kesal Johnny berbalik meninggalkan mejanya. Yuta melotot kesal.
"Yang manajer siapa sih?! Hey!" Sahut Yuta menunjuk Johnny dan menyusulnya.
. . .
"Hyung, sini aku yang selesaikan." sela Hendery ketika Ten memijat punggung dan pinggangnya di antara aktivitas menjahitnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Undecided
Fanfiction[ Complete ] NCT YAOI FANFICTION /// WARNING ! TIDAK DIANJURKAN UNTUK PENDERITA ANEMIA RASA NYERI BISA BERLANGSUNG KURANG LEBIH 2 JAM SETELAHNYA PENGGUNAAN UNTUK KANDUNGAN DI ATAS 6 MINGGU BERESIKO KEMATIAN Ten kembali melipat kertas itu setelah...
