Hoshi sudah memantapkan dirinya agar dia bisa diakui untuk pantas berdiri bersama Mingyu.
Sebenarnya Hoshi adalah orang yang sangat percaya diri, dia selalu yakin dirinya tidak terlalu buruk bahkan untuk bersanding dengan Putra Mahkota atau anak Presiden sekalipun tapi ada sesuatu yang mendorongnya untuk berubah agar dia diakui.
Hoshi sudah bersumpah pada diri-nya, apapun yang terjadi dia tidak akan merubah penampilannya hanya untuk seorang manusia bernama Kim Mingyu karena Hoshi bukan tipe seperti itu.
Tekadnya dimulai dari sore ini, Hoshi tergolong orang yang malas mandi, sangat malas mandi tapi untuk memperlancar proses dia rela melakukan itu.
"Tumben kamu mau mandi sore-sore?"
Hoshi meringis sambil tersenyum,
"Lagi pengen aja Pa."
Setelah itu Hoshi berlalu ke kamar mandi.
Selesai dengan acara mandi sorenya, ada satu hal yang berubah. Hoshi mencuci muka-nya. Bahkan ke sekolah saja Hoshi jarang mencuci muka. Hoshi rasa wajahnya tidak ada perbedaan, tetap sama saja.
Hoshi duduk termenung di tempat tidurnya.
"Besok gue harus kaya gimana ? Dikatain juga tetep diem aja gitu? Mana bisa anjirr. Tapi- masa gue bales? Ntar dibilang inilah itulah."
Jennie sempat memberitahukan pada dirinya untuk bercerita apa saja yang menurut Hoshi membebaninya.
"Lo bisa cerita ke gue, Jaehwan, ato Daniel. Kita ada buat lo Chi jadi jangan ngerasa kalo lo sendiri. Dan kalo lo berpikir buat berubah, ngomong ke gue ya. Setidaknya gue bisa bantu kasih masukan ato apalah."
Pikiran Hoshi mulai membawanya kembali ke orang-orang yang pernah dekat dengan Mingyu sebelumnya.
Hoshi bersumpah melihat laki-laki imut yang biasanya bersama Mingyu menggunakan lipstick? liptint? lipbalm? Ahh, intinya semacam itu.
"Njirr? Masa gue pake itu sih?" Tanya Hoshi pada dirinya sendiri.
Ahh, benar juga. Mereka selalu berganti warna rambut. Setiap kali bertemu dengan Mingyu, warna rambut mereka selalu berubah. Hoshi tahu itu tidak murah, apalagi kalo mencari yang terbaik.
Dan tentu saja, Ayah dan Ibunya tidak akan pernah mau Hoshi gonta-ganti warna rambutnya.
"Ah, bodoh nanti saja deh baru dipikirin," Hoshi mengambil handphonenya, berniat mencari kontak Mingyu untuk menelponnya.
Hoshi sibuk menggeser layarnya ke atas ke bawah dan baru menyadari satu hal.
"Lah iya, gue kan belom ada kontaknya Mingyu."
Aneh kan?
Dua orang yang notabenenya saling berhubungan spesial tidak menyimpan kontak masing-masing.
"Besok berarti gue harus minta nomornya di Mingyu. Tapi- ngapain juga gue nyari kontak Mingyu? Duh, kayanya gue mau sakit deh."
Hoshi menarik selimutnya dan menutup matanya. Malam ini Hoshi tidak ingin makan dulu, tidak berselera saja. Dan mungkin menjadi salah satu dari proses itu?
"Bodo amat lah, besok mau gimana. Intinya gue tidur biar besok gak telat. "
_____
Paginya, seperti biasa Mingyu menjemputnya. Dan jangan lupakan bisikan-bisikan yang ditujukan pada Hoshi ketika dia dan Mingyu berjalan di sepanjang koridor.
"See? Gak cocok kan?"
"Emang iya sih, Hoshi kan biasa aja yah."
KAMU SEDANG MEMBACA
First Approach (MinSoon)✔
Fiksi PenggemarMake the first move, direct approch Mengejar kakak kelas yang polos jadi hal yang dinikmati oleh Mingyu. Pasalnya, Hoshi si kakak kelas tersebut kerap kali menunjukkan reaksi yang membuat Mingyu gemas
