Di meja makan semuanya telah tersaji lengkap, baik makanan maupun minuman. Sejak beberapa menit lalu, penghuni rumah sudah mengisi tempat tersebut, membuat baik isian piring maupun gelas menjadi berkurang.
"Apa?! Kenapa begitu mendadak?!" seruan lantang itu berasal dari Daniel. Penyebabnya adalah ucapan yang kakak tertua lakukan beberapa saat lalu.
Membalas respons tegangan tinggi sang adik, Adit tersenyum kecil. Ditolehkannya pandangan menatap si bungsu. "Memangnya ada apa, Daniel? Apakah hal itu akan menjadi sebuah masalah? Lagian saya rasa ini bukan pertama kalinya saya harus pergi untuk menangani masalah pekerjaan. Mengapa kali ini harus heboh?"
Mendecakkan lidah, Daniel melepas koneksi tangannya pada sendok dan garpu. Bersandar pada punggung kursi dengan wajah masam dan tangan yang bersedekap. "Tentu itu akan jadi masalah! Bagaimana aku harus hidup selama kau pergi? Siapa yang akan membantuku? Siapa yang menjawab saat aku bertanya? Siapa yang akan menemani sumpamanya aku tak bisa tidur!? Si--" oh sial, dia lupa pada kehormatan yang harus ia jaga di depan seseorang. Daniel menutup matanya sendiri, meruntuk pada kebodohan akan sikap manjanya. Aish, bagaimana ia bisa lupa bahwa Valerie ada di sini?! Harga diri Daniel sedang terancam.
Merasa gemas dengan tingkah laki-laki itu, ketiga penghuni lainnya tak dapat menahan diri untuk tidak mengulum senyum. Tapi, demi menghindari Daniel dari rasa malu, baik Adit, Sean, maupun Valerie, hanya memberikan gelengan pelan.
Adit yang hafal betul tabiat adik kecilnya itu, mencoba menengahi. "Daniel, tak akan terjadi masalah. Saya akan kembali dalam hitungan hari. Toh, di rumah ini juga akan ada Sean dan Valerie. Saya rasa Valerie cukup sabar untuk menjawab apapun yang ingin kamu ketahui, dan jika kamu kesulitan tidur, ada kamar Sean yang bisa kamu datangi."
Daniel masih enggan merespons. Entah karena alasan kesal atau malu.
"Saya janji akan membantu apapun jika kamu mengalami kesulitan. Jangan khawatir, Daniel." Valerie ikut meramaikan dengan suara lembutnya.
"Hmm, saya tak akan pernah mengunci kamar selama Adit pergi. Jadi, jika kamu kesulitan tidur, datang saja." kali ini Sean yang tadinya masih sibuk makan, ikut menyahut.
Tersenyum, Adit sungguh menyukai sikap manja Daniel padanya. "Dengar? Apa masih ada hal lain yang kamu khawatirkan?"
Akhirnya si bungsu mau menoleh pada kakaknya. Masa bodoh dengan citra dan harga diri, Daniel cemberut. "Jangan lama-lama perginya."
"Tentu tak akan lama..." tak tahan lagi, Adit mengacak surai sang adik yang lebih muda tiga tahun darinya.
***
Ini hari kedua Adit tak ada di rumah. Pasca ditinggalkan pria yang begitu gemar bekerja tersebut, membuat beberapa kekosongan. Tabiat Sean yang suka diam serta Daniel yang masih merasa konfliknya dan Sean belum selesai, memperpanjang tegangan dingin dari kakak beradik tersebut.
Meski mentari telah lama terbenam, Sean belum juga pulang dari kepergian tadi siang. Seperti biasa, Tuan Reagan yang satu itu memang sering pulang terlambat akibat latihan band nya.
Sedangkan si bungsu Daniel saat ini sedang berusaha fokus belajar di tempat favoritnya, untuk ujian besok. Jika bukan tahun terakhir yang sekaligus menjadi kesempatan terakhir untuknya menyelesaikan kuliah, Daniel tak akan mau repot-repot belajar. Ini terjadi juga karena ancaman dari sang papa. Daniel diperingati akan dicoret dari keluarga Reagan jika ia gagal lagi tahun ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
3 Devil Prince (√)
Romance[COMPLITE] Bagaimana rasanya tinggal bersama 3 orang yang akan selalu menindasmu? ©Publish, Mei 2019 ©Finish, 08 Desember 2019 ©Revisi Selesai, 02 November 2021 TOTAL BAB: 1-23 RANK: *15 In Jinyoung, 29 Oktober 2021 *06 in Vsoo, 30 Januari 2022
