Empunya yang merasa terpanggil hanya menampilkan senyuman kotaknya. Penampilan Sean pagi ini, sukses membuat kedua saudaranya yang lain terheran. Memang, Tuan yang satu itu kerap kali berpakaian rapi dan modis, tapi dandanan yang rapi nan digunakan Sean benar-benar berbeda.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kau salah makan? Bermimpi sesuatu semalam?"
Tak mempedulikan pertanyaan Daniel yang sepertinya tak percaya akan penampilan baru Sean, pria itu hanya bergidik. Ia melanjutkan senyumannya, bahkan membuat itu makin lebar ketika menatap sang kakak tertua.
"Aku ikut ke kantor bersamamu hari ini."
Setelah pertemuannya kemarin dengan Tuan Advason; ayah dari Valerie, Sean banyak berpikir semalam. Sejak lama ia mencari alasan untuk mengikuti keinginan kedua orang tuanya agar lekas masuk ke perusahaan, dan sepertinya Sean sudah menemukan itu semua. Ia menemukan alasan untuk mulai serius menggeluti bidang yang sama dengan Adit.
Huh. Adit si kandidat calon menantu yang Ayah Valerie pulihkan untuk kekasihnya, namun Sean bersyukur hal tersebut batal terjadi.
Valerie telah menceritakan segala hal yang berhubungan dengan kepergiannya dari rumah kepada Sean kemarin. Bagaimana Valerie yang menolak untuk masuk ke perusahaan, sampai niat sang ayah yang ingin menikahkannya dengan laki-laki pilihan pria itu.
Sean menarik kesimpulan, jika Tuan Advason ingin seorang menantu yang mengerti bisnis. Sebetulnya Sean sempat berkecil hati dan sedikit hilang percaya diri, karena nyatanya ia tidak melengkapi persyaratan sebagai menantu ideal yang ayah Valerie inginkan. Tapi tidak! Ia bukannya tidak memenuhi kriteria, namun belum.
Maka dari itu, dimulai dengan hari ini, Sean berencana untuk belajar bisnis sedikit demi sedikit. Toh, dirinya selama ini memang tengah mencari alasan yang kuat untuk melepaskan gaya hidupnya yang sekarang, demi merangkai kehidupan masa depan yang sudah Sean idam-idamkan.
Sungguh. Ia sudah begitu ingin menarik Valerie ke altar, mengucapkan sumpah pernikahan, dan hidup bahagia bersama keluarga kecil mereka nanti.
Jangankan mengubah gaya hidup dengan memperbaiki tingkat kemapanan demi memantaskan diri menjadi menantu ideal yang calon mertuanya harapkan, sekiranya disuruh mendaki semua gunung atau menyelami laut sekalipun, akan Sean lalukan untuk dapat bersama Valerie. Gadis cantik yang berhasil menarik perhatiannya. Gadis yang sempat menolak, dan membuat seorang Sean De Reagan begitu bersemangat untuk menjalin sebuah hubungan.
Bahkan sempat terlintas di pikiran Sean, bahwa mungkin ia hanya akan meneruskan hidupnya yang sekarang. Bebas tanpa kekangan, tanpa tuntutan, tanpa tanggung jawab, dan di pikirannya kala itu, Sean sampai ingin melajang seumur hidup. Toh, tanpa adanya pernikahan, ia bisa mengencani berbagai wanita.
Tapi tenang, itu Sean yang dulu. Sean yang hidup sebelum pertemuannya dengan Valerie.
Karena Sean yang baru, benar-benar sudah berpikir matang, untuk kehidupannya ke depan. Empat bulan ini ia menjalani ujian menghadapi dirinya sendiri, dan nyatanya, apapun keinginan yang dimulai dengan hati, tekad yang teguh, serta usaha bersungguh-sungguh, segalanya dapat diraih.