♛❸DP: 7|Devil Prince

2.5K 315 13
                                        

"Pesta?"

Fokus Adit yang awalnya tertuju penuh pada layar iPad, teralihkan pada si Bungsu setelah ajakan Daniel untuk melakukan pesta tiba-tiba saja mengalun. Dahinya mengernyit, bingkai kacamata yang mengapit tulang hidungnya kian dilepas. Adit tahu, adik bungsunya tersebut memang kerap berkelakuan di luar nalar orang normal, tapi ia butuh alasan akan ajakan barusan.

"Begini, coba saja kau ingat, kapan terakhir kali kita berpesta? Kau selalu terikat dengan pekerjaanmu, begitupun dengan Sean yang sibuk dengan bandnya! Aku menyelesaikan seminar minggu lalu, dan tak mendapat ucapan apapun dari kalian. Tidak bisakah aku mendapat sedikit perayaan untuk hal itu?"

Agak terenyuh, Adit merasa sedikit bersalah untuk kasus ini. Kedua orang tua mereka percaya jika ketiga anaknya mampu hidup terlepas. Adit yang berperan sebagai kakak tertua, harusnya mampu menjaga dan juga memberikan perhatian meski tak banyak, kepada kedua adiknya. Apalagi Daniel.

"Oh, saya merasa buruk akan hal itu, Daniel. Maaf..."

"Ck. Sudahlah, aku bukannya ingin mendapat kalimat maaf darimu. Aku hanya ingin kau dan Sean menyetujui ajakan berpesta. Itu saja."

Jika memang begitu cara menebus kesalahannya, maka Adit tak akan memikirkan alasan apapun untuk menolak. "Berpesta ya? Rasanya akan menjadi ide yang bagus. Bagaimanapun konsep pesta yang kamu inginkan, saya pasti akan setuju."

Ada masanya Daniel merasa benar-benar menyayangi kakak tertuanya ini, dan sekarang salah satunya. Jika dulu ia mampu menggambarkan perasaan itu dengan respons tanpa penahan, seperti langsung memeluk dengan erat seraya menggumamkan kata-kata terima kasih, maka sekarang sudah ada sekebat canggung untuk melakukannya. Meski masih begitu menyukai bagaimana bentuk perhatian orang-orang kepadanya baik secara fisik maupun verbal, namun Daniel sudah dewasa! Ia hanya akan menerima tanpa mengemis untuk meminta.

"Sean?"

Melepas pandangannya dari layar ponsel, laki-laki modis itu mengangguk tanpa banyak berpikir setelah sang kakak menegur. Tak ada salahnya juga mengabulkan permintaan Daniel. Bagaimanapun, meski kerap dilanda sakit kepala dan rasa jengah, akibat ulah adiknya, Sean tetaplah sadar jika ia dan Daniel adalah saudara. Ada rasa sayang dan peduli dari hatinya yang ditujukan kepada anak itu.

"Terdengar menyenangkan."

***

Ketiga Tuannya berkata akan mengadakan pesta malam ini juga. Hanya pesta rumahan dan diisi oleh penghuni rumah tentunya. Meski bukan kategori pesta meriah yang melibatkan banyak orang, tapi tetap saja ia yang harus sibuk untuk ini dan itu.

Untung saja Valerie sudah sempat mandi, jadi sekarang ia bisa fokus pada pekerjaannya tanpa terganggu perasaan risih akibat biang keringat. Banyak camilan yang dibawa oleh Adit tadi sudah ia taruh ke toples yang berbeda-beda. Ruang tamu yang akan menjadi latar untuk menggelar pesta juga telah ia pesiapkan. Valerie agak mengernyit saat dipinta mengambil persediaan anggur di ruang bawah. Nyatanya setiap pria yang melakukan pesta, tak dapat terlepas dari minuman yang dapat membuat seseorang mabuk tersebut.

Setelah menaruh lima botol anggur sebagai pekerjaan terakhir, Valerie kembali merinci isian meja, takut ia melupakan sesuatu. Dirasa semua sudah dipersiapkan, ia berniat untuk undur diri. Mungkin ia dapat tidur dengan cepat malam ini.

Alas kaki tanpa hak tinggi milik gadis itu praktis batal pergi, ketika ketiga pemilik rumah ini menghampiri. Kakak-beradik itu datang di saat yang bersamaan dari arah yang sama. Valerie sempat terkesima akan visual ketiganya. Makin kemari, ia makin merasa penasaran dengan bagaimana wajah ibu dan ayah ketiganya, karena satupun tak ada yang terkendala masalah ketampanan.

3 Devil Prince (√)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang