Empat Belas

176 7 2
                                        

Happy reading!
.
.
.

Terkadang aku berpikir, mengapa pria sepopuler & setampan dia bs kepincut gadis lusuh & tidak fashionis sama sekali seperti aku ya? Aneh! Tapi itu terjadi saat ini kan?

Aku diam - diam mencuri pandangan  saat ia tengah sibuk menyantap sarapannya. Ada 2 porsi nasi putih, sayur nangka, 2 macam lauk dalam 4 piring kecil, kulup daun singkong 2 piring kecil, sambal ijo khas padang, dan 2 mangkuk air kobokan. Lumayan sekali untuk mengisi perutku yang juga menahan lapar sedari pagi. Hehehe...

"Begitu yaa cara makan pak tentara. Cepet banget & rapi, tapi bibirnya belepotan. Astaghfirullah! Apaan sih Mia??!!" Bisik hatiku, lalu aku menundukkan kepalaku.

"Ayo dimakan, dek. Nanti kesiangan lho!?" ia menegurku setelah menyelesaikan sarapannya. Astaga! Hanya 10 menit saja!?

"Eh, iyaa mas." aku melanjutkan santapanku dengan cepat.

Kurang lebih 30 menit, kami keluar dari rumah makan itu, lalu melanjutkan perjalanan kami menuju rumahku. Makin bergetar saja hatiku, yaa tentu saja disaat seperti ini berboncengan dengan pria yang bukan mahromnya apalagi yang dirasakan kalau bukan hanya nafsu semata. Astaghfirullah, kenapa aku ya Allah?!

"Nggak papa kalo mau pegangan sebelah sini," tolehnya ke arahku saat motor terhenti di depan red traffic light. Lalu menarik tanganku ke arah perut depannya. Aaaiisssh!

"Eh?" aku menarik pelan tanganku dengan sedikit takut. Dan dari balik helmnya ia tampak tersenyum tipis.

Dasar pria!

Selang sejam perjalanan kami yang lumayan ngebut, sampailah di kawasan pemukiman penduduk transmigrasi yang begitu sederhana layaknya sebuah pedesaan. Mayoritas rumah disini masih berbahan kayu dan semi permanen, aspalnya yang masih sangat sedikit dan lebih tampak kerikil kasar dan menjadi tanah lempung jika terkena hujan.

Iya, mamaku mengabdikan dirinya menjadi seorang guru di desa kecil ini sejak aku duduk di bangku SMA. Dan beliau begitu membuatku bangga, karena sepanjang hidupnya sudah diabdikan untuk mendidik anak - anak Indonesia.

"Dek, rumahmu yang mana? Kok ndeso semua yaa!? Hihihi..." celetuknya.

"Hah?"

"Maaf, becanda kok!"

"Nggak lucu,"

"Jangan ngambek, nanti saya antar sampe depan rumah lho!?"

"Eh eh.... Jangan, mas! Tuch... Di depan rumah yang itu aja, nanti aku bisa lewat sampingnya. Jangan seenaknya aja ya!" tegurku keras sambil menunjuk sebuah rumah kecil yang berada 5 meter dari rumahku.

"Lhaa, rumahmu yang mana, dek?"

"Yang tembok ijo muda sebelahnya. Ya sudah, mas. Cepet balik kanan aja ya, maaf jangan mampir dulu untuk saat ini. Assalamu'alaikum," aku segera berbalik arah darinya setelah melepas helm yang ku kenakan, takutnya mama sudah mengetahui kedatanganku yang aneh ini.

" Wa'alaikumsalam, titip salam buat mamanya yaa, dek!" teriaknya.

Tapi, aku hanya menoleh sebentar dan melambaikan tangan sekali. Lalu segera berlari menuju rumah. Dan benar dugaanku,

"Lhooo kok lewat samping, Nduk?" sapa mama keheranan dari balik pintu dapur samping rumah.

"Eh, iyaa maa. Assalamu'alaikum," aku mencoba mengalihkan perhatiannya, lalu kucium punggung tangan & pipinya, "Masuk dulu yaa,"

"Tadi kamu ngojeg ya? Siapa? Kok rapi banget tuch ojeg?" ternyata mama sangat memperhatikanku.

"Iyaa...iyaa, ojeg baru katanya. Emang kenapa, ma? Kok penasaran banget? Lagian aku juga biasa lewat pintu samping, mumpung ada mama di samping rumah 'kan?" alibiku berhasil.

"Oooh.... Yaweslah kalo begitu. Kamu dapet libur berapa hari dari kampus?"

"Hadeeeh, maa... Cuma 3 hari aja dah alhamdulillah, abis itu masuk lagi seperti biasa, sudah resiko yaa jadi mahasiswa kesehatan."

"Yaa bersyukur aja, ada banyak yang pengen masuk di kampusmu tapi gagal, Nduk." nasehat mama.

"Iyaa, maa.. Alhamdulillah,"

"Dah cepet ganti baju sana, trus makan ya!"

"Iyaa," aku baru saja meninggalkan mama di dapur menuju kamar, lalu ponselku berdering.

Drrrrrt......drrrrrt....

*Aku : "Halo, assalamu'alaikum!"

*Mr. X : "Wa'alaikumsalam, gimana tadi dek? Mama marah?"

*Aku : "Nggak, mas. Mama ndak tau tadi, 'kan aku bilangnya tukang ojek. Hehe.." cengirku.

*Mr. X : "Sedihnya! Ya sudah kalo gitu mas jalan dulu ya,"

*Aku : "Sudah sampai mana, mas?"

*Mr. X : "Sampai mana ini, di..... Koya, iya Koya ini."

*Aku : "Lhaa? Cepet banget! Bukannya tadi bilang mau ke Arso 7 ya?" padahal jarak rumah dengan posisinya hampir 10 km, pemirsaaaah!

*Mr. X : "Iyaa, gak jadi soalnya temen mas gak ada di rumah tadi. Jadi mas pulang aja, okee....balik dulu yaa, baik - baik di rumah. Assalamu'alaikum!"

*Aku : "Eh, hati - hati! Wa'alaikum..." Tut tut tut tut..... Telpon terputus. "salam..."

Baru juga aku masuk rumah dan dengan tidak sabarnya ia menelponku. Astaga! Sebegitu terobsesinya kah ia padaku?

*****

Libur Ramadhan 3 hari telah usai. Huwaaaah... tidak terasa ya! Dan sore ini aku harus kembali ke kost putri untuk bersiap kuliah perdana besok. Ada rasa khawatir, takut, dan entahlah, semua tercampur aduk sampai membuat hatiku sesak. Ini moment pertama yang harus aku hadapi setelah lulus SMA, kuliah di Akper itu kayak apa?  Pikirku selama di perjalanan menaiki bus dan angkot.

"Assalamu'alaikum, adek!" Sapa seseorang yang tak jauh dari tempatku berdiri setelah turun dari Bus di Terminal pasar Yotefa.

"Lhooo mas, eh abang kok bisa ada disini?" sontak aku kaget melihat sosoknya yang belakangan ini begitu ingin dekat denganku.

"Panggil mas aja, ini diluar kampus kok!" dengan cekatan ia mengambil travel bag ku dan membawanya,"Ayo! Panas banget disini,"

Dia belum jawab aku dah nyuruh-nyuruh lagi! "Mau kemana?" Aku mengekornya menuju parkiran motor.

"Adek mau kemana? Masih jam 3 nich!" sambil menata travel bag ku di motornya, ia melirikku dengan nakal.

Pengen ditonjok yaa nie laki! Kalo bukan abang tingkat, dah kutinggal pergi naik angkot dari tadi.

"Kok diem sih? Ayo naik, jangan lupa helmnya dipake," selagi ia menata motornya, helm merah masih kupegang tanpa respon apapun.

"Mas jawab dulu! Kenapa bisa tau aku disini jam segini?" aku mulai ngotot.

Dia sudah menunggangi motornya, menungguku dengan sabar naik di belakangnya. "Yaa tau-lah, sebelum libur adek sendiri yang bilang kalo balik ke Jayapura Minggu siang 'kan? Jadi mas pikir bisalah jemput kesini sebelum Ashar, tapi besok-besok biar mas jemput aja ke rumah yaa! Jangan naik bus sendiri kayak gitu, ngeri liatnya."

Astaga! Kok bisa pas gini sih? Padahal dia telpon-telpon dari pagi sengaja gak ku gubris, sms juga gak ku balas biar gak kayak gini. Tapi, kok.....

"Ayoooo naik!!!" nada suaranya mulai keras.

"Hmmm iyaaa iyaaa...."

"Kita beli kelapa muda dulu yuck! Buat buka puasa nanti sore!" Motorpun melaju kencang sehingga membuatku terpaksa memeluknya dari belakang.

Dasar pria!!!
.
.
.
.
.
To be continued
____________________

Assalamu'alaikum wrwb

Halo readers, alhamdulillah saya bisa memulai nyicil pelan2 menyelesaikan part demi part cerita ini. Walaupun harus mengingat jauh alias flashback, insyaa Allah sumber tetap akurat.

Tetep ingatkan saya untuk melanjutkan cerita ini yaa!? Moga Allah memudahkan saya untuk selalu menulis & menginspirasi kalian...

Terimakasih sudah mampir

Wassalam
Author🙏❤️

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 29, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Jodohku, si Abang Loreng! Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang