Keyla segera kembali keruangan yang lebih tepatnya adalah kamar Diva, ia akan mengatakan kejadian ini.
"Bryan, Diva, kita telat kayaknya Aneth udah nyembunyiin Amel." Keyla berkata dengan emosi yang bercampur kekhawatiran.
"Apa!" Teriak Diva dan Bryan secara tidak sengaja.
"Ja-jadi apa yang harus kita lakuin?" Tanya Diva dengan nada lirihnya, 2 orang terpenting dalam hidupnya kini tengah dibawa oleh kegelapan.
"Gue punya rencana," Bryan mulai mengatakan rencana yang sempat tertanam diotaknya, dengan harapan penuh semoga rencananya akan berhasil seperti apa yang ia bayangkan.
Setelah Bryan mengatakan rencana tersebut, Diva dan keyla mengangguk setuju mereka mengerti, setidaknya misi ini sedikit lebih mudah daripada misi pencarian Andra.
Diva memang tidak bisa melihat Bryan maupun Keyla namun ia bisa melihat samar-samar kehadiran mereka melalui cermin karena mereka secara tidak langsung telah melakukan kontak komunikasi, setidaknya itulah yang telah dijelaskan Bryan sebelumnya.
Keyla memimpin karena dirinya yang memiliki kepekaan akan posisi dan hadirnya Aneth, Bryan mengawasi sekitar apa yang tidak bisa dan tidak mampu dijangkau oleh Diva, sedangkan disini peran Diva hanya mengikuti mereka dan memperhatikan sesuatu kasat mata yang mungkin dapat menjadi sebuah petunjuk.
Mereka berjalan beriringan, jika seseorang melihatnya maka mereka hanya akan melihat Diva yang berjalan sendiri.
"Terakhir kali Amel ngehidupin lampu di lantai bawah kan? Ada kemungkinan Amel ada disana." Diva mencoba untuk menerka-nerka.
"Kita ke lantai bawah sekarang."
Mereka segera pergi menuju lantai bawah, sesuai rencana Diva akan menjadi umpan untuk menarik perhatian Aneth, meskipun awalnya Diva menolak, tapi setelah dipikir ulang, hanya itu yang mampu ia lakukan untuk membantu sahabatnya, bagaimana pun Amel telah banyak membantunya.
"An-neth." Panggil Diva dengan suara gemetarnya, tubuhnya sudah merinding ketakutan.
"Bisa bicara gak? Gue mau kita bicara baik-baik." Hebat, ia berbicara seolah dirinya sama sekali tidak merasa takut dengan kehadiran setan pembawa sial itu.
"An..." Ucapannya terhenti tatkala Aneth tiba-tiba muncul dan menampakkan jati dirinya didepan wajah Diva, jarak mereka bahkan hanya terpaut sekitar 5cm, membuat Diva tanpa sadar menahan nafasnya.
Aneth tersenyum penuh arti, senyumannya memang sangatlah manis, namun bagi Diva itu adalah senyuman yang sungguh menyeramkan.
"Ada apa Diva Robert Anjayini?" Tanya Aneth yang berhasil membuat jantung Diva berpacu 3 kali lebih cepat dari biasanya, Diva melangkah kebelakang, menciptakan jarak antara dirinya dengan setan si pembawa sial itu.
"Lo sembunyiin Amel sama kak Andra dimana?"
Bodoh! Pertanyaan yang tentu saja tidak akan membuat Aneth berkata jujur, namun lagi, Aneth memberikan satu fakta yang membuat Diva menelan salivanya secara kasar.
"Kalian sudah berbeda Dimensi." Beberapa detik setelah mengucapkan hal tersebut, Aneth tertawa dengan keras, seolah semua yang terjadi ada ditangannya.
"Ber-berbeda dimensi? Maksud lo, Amel sama kak Andra ada di dunia yang beda sama dunia gue?"
Aneth mengangguk mantap dengan senyuman lebar yang terus terpatri, seolah dirinya telah mendapatkan lotre berlibur ke Bulan.
Amel dan Andra berbeda dimensi dengan dirinya? Itu berarti mereka tidak bisa bertemu? Oh tidak! Pasti ada cara lain.
"Apa sih yang ngebuat lo pengen bawa mereka?" Tanya Diva yang merasa semakin kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARKNESS
Terror'Mereka' ada... 'Mereka' nyata... 'Mereka' dimana-mana... Aku takut, disaat aku melihat wujud asli mereka. Tapi aku mampu sedikit menyembunyikannya. Aku takut, mereka akan menyakitiku, keluarga dan teman-temanku. 'Mereka' mengikutiku, mengintaiku. B...
