langit dan demam

449 97 5
                                        

entah dimulai sejak kapan, yang pasti berkunjung ke kafe sekarang layaknya kewajiban bagi jingga. walau tak setiap hari, setidaknya dia datang dua hari sekali. katanya bosan di rumah, lebih suka suasana kafe yang ramai. 

senja di hari rabu pertama bulan itu, jingga datang dan temukan bukan langit yang berada di counter kafe seperti biasa.

"kak satria? kak langit dimana?"

"hai jingga, langit hari ini tak datang. demam."

"hah?"

"iya demam, mau menjenguk? aku bisa beri alamat dan kunci cadanganya kalau kamu mau. kasihan dia, tak ada yang mengurus sepertinya. aku tak bisa datang, kafe ramai."

tanpa ragu jingga mengangguk.

café

"permisi?"

gelap sapa kedua netra jingga begitu ia buka pintu. kerjapkan mata sekali, dua kali, hingga matanya terbiasa. ruang tamu terlihat rapi, tak ada tanda-tanda dari langit. jingga terus berjalan sampai ia temukan pintu hitam yang sepertinya tempat langit beristirahat. 

diketuk sekali,

"kak?"

yang terdengar cuma gumamam tidak jelas. pintu ia buka.

benar-benar berantakan.

ponsel tergeletak dilantai, tumpahan air di karpet dekat meja, obat berceceran, dan langit yang meringuk di tempat tidur. menggigil tanpa selimut, wajah pucat dan tubuh basah oleh keringat.

tak membuang waktu, jingga bereskan semua semampunya. gerakannya sempat terhenti saat sentuh ponsel langit,

"ah aku baru sadar, sudah beberapa bulan kenal tapi aku tak punya kontaknya."

tapi jingga gelengkan kepalanya, ini bukan saat yang tepat untuk permasalahkan nomor. ia pun beranjak ke dapur, berusaha buat makanan, bermodal video tutorial dari youtube

"kak? bangun dulu. makan bubur dan minum obat ya?"

jingga mengelus pucuk kepala langit lembut, panas. ia baru saja selesai mengganti pakaian langit yang basah. 

"hng" nafas nya tak teratur.

jingga bangkit, bermaksud ambil makanan untuk langit, tapi tangannya digenggam erat seakan larang dia untuk beranjak

"kak,"

"disini dulu, sebentar. saya mohon."

jadi jingga duduk, genggam tangan langit dan usap perlahan penuh kasih sayang hingga pemilik tangan itu kembali tidur. deru nafasnya tampak lebih tenang, mungkin acara makan dan minum obat bisa dilakukan nanti. 

café - binsungCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang