Mengenang yang lalu.
Juga berharap agar semua segera berlalu.
[Catatan 2016]
×
"Dia lebih muda darimu, Daeho. Bersikaplah sebagai seorang kakak. Memang kamu tidak kasihan?"
Begitu kata ibu. Kemudian sebetulnya, Kang Daeho bukan anak yang suka melawan perintah orang tua. Ia mengangguk patuh dan ikut berdoa dengan khusyuk, lalu menemani ibu memberi salam pada orang-orang asing yang air mukanya tampak ganjil, sebelum lantas mulai melangkah mencari si gadis sambil sesekali mendongak ke langit.
Pemakaman di tengah rintik salju menjadi pemandangan paling mengerikan yang Daeho lihat kala itu.
Langitnya kelabu gelap, pepohonan menghitam rapuh sekaligus lembab, butiran salju terjun bebas perlahan, sementara lampu jalan menyala remang-remang, dan beberapa rumah penduduk di kejauhan yang tampak hangat; cerobongnya mengeluarkan asap tipis, tanda bahwa perapian mereka sudah terbakar sejak beberapa waktu lalu. Daeho membayangkan keluarga kecil bahagia yang duduk mengelilingi perapian sambil bertukar cerita tentang misa Natal seru di sekolah dan parsel dari guru-guru mereka. Suara mereka pasti begitu riang, menunggu giliran berbicara seraya menyesap cokelat hangat.
Sambil hening, ia mengalihkan pandangan pada tempatnya berpijak. Tubuh Daeho—yang cepat bertambah tinggi sekitar sembilan senti sejak libur musim dingin dimulai—tengah dikelilingi sekelompok orang berpakaian gelap bersama bacaan doa dari pendeta tua berwajah sendu. Keriputnya di sekitar mata dan pipi seakan membeku tercium salju, sementara seekor burung gagak bertengger di salah satu tangkai pohon yang hampir tumbang; memandangi insan-insan dengan isakan tertahan yang saling bersahutan.
Ironis.
Lalu, ketika para tamu pergi menjauh satu demi satu hingga tersisa pria asing yang bercakap dengan pendeta, Daeho menjadikan kesempatan itu untuk perlahan mendekati si gadis.
Gadis cilik yang dimaksud oleh ibunya tampak mencolok, terutama dengan setelan musim dingin warna merah muda nan menyala. Ia berdiri sendirian di sisi makam sambil komat-kamit membisikkan sesuatu. Belakangan Daeho baru tahu, gadis bernama Angela itu sedang menyanyikan Baby Please Come Home milik Darlene Love dengan nada asal-asalan dan suara sumbang.
"The snow's coming down, I'm watching it fall ... lots of people around ... baby, please come home ..." ia mengusap pipi. "The church bell in towns, are ringing in song ... full of happy sounds ... baby, please come home ...."
Seingat Daeho, lagu ini selalu terdengar riang meskipun liriknya memang sedikit getir. Ia sering menemukan para penyanyi jalanan membawa Baby Please Come Home sambil bertepuk tangan dan menari. Namun, begitu ajaib bagaimana Angela membuatnya menjadi kidung menyedihkan.
"They're singing Deck The Halls, but it's not like Christmas at all ... 'cause I remember when you were here ... and all the fun we had last year ...."
Nada-nada menyayat itu.
Sisa liriknya terngiang secara otomatis di benak Daeho.
Pretty lights on the tree
I'm watching them shine
You should be here with me
Baby, please come home
Daeho menelan ludah susah payah. Diraihnya bahu Angela pelan-pelan, membuat tubuh si gadis berbalik kaget. Tatapan penuh selidik menegur Daeho sehingga ia hampir tersedak saat menyapa tergesa. "H-hai ... Angel? Angel—a? Angela, right?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ONLOOKER [2024]
FanfictionBintang ternama Negeri Ginseng ditemukan tewas di kediamannya tepat sebelum malam Natal yang meriah pada musim dingin 2004. Penyidik menetapkan kematiannya sebagai kasus bunuh diri. Pemakaman berlangsung dan hidup berlanjut. Namun, belasan tahun kem...
![ONLOOKER [2024]](https://img.wattpad.com/cover/146883804-64-k499318.jpg)