12

0 0 0
                                    

Pria itu sedang memasukan baju kedalam koper lalu  merapihkan kamarnya dan memasukan beberapa barang lamanya kedalam kotak.

Di tengah-tengah memasukan barang kedalam kotak, pria itu menemukan jepit rambut. Bukan, itu bukan milik Sherly. Itu milik teman masa kecil Joey


December, 2010

"Hwuaaaaaaa"  gadis kecil itu menangis sambil memeluk boneka bear miliknya

"Loh kamu kenapa nangis?"

"Coklat aku jatuh, padahal itu gigitan terakhir ku"

"Jangan nangis, nanti aku belikan kamu cokelat yang banyak, oke?

"Emang kamu punya uang?"

"Tidak"

"Lalu bagaimana kamu memberikan aku cokelat? uang saja kamu tidak punya"

"Aku ini masih kecil, tapi saat besar nanti, aku akan membelikanmu cokelat, asalkan kamu tidak menangis lagi"

"Baiklah, janji?"

"Janji, oh ya aku punya ini, kamu mau?"

"Iya aku mau, tolong pasangkan"

"Baiklah, mari kita berteman, siapa namamu?"

"Nama ku Bri-"

End

"Joey?"

Pria itu tersadar dari lamunannya, dia mengingat puteri di masa kecilnya. Dulu dia sering bertemu dengan perempuan itu, tapi? saat besar dia tidak pernah bertemu lagi dengannya, jangankan bertemu, mengingat wajah dan namanya saja tidak.

"Eh mamah?"

"Kamu kenapa ngelamun?"

"Hehe, enggak kok mah"

"Kamu masih berhutang janji sama perempuan itu ya? hmmm mamah yakin perempuan itu sudah besar sekarang dan menjadi gadis yang cantik"

"Andai Joey ketemu sama dia, Joey pengen bayar janji Joey ke dia. Joey pengen kasih dia cokelat"

Diana mengusap wajah tampan putranya, sudah sejak lama Joey mengingat memory-memory itu, karna perempuan masa kecil itu yang membuat Joey enggan dekat dengan wanita, banyak yang mengajak pria itu menjadi kekasih, namun Joey menolak secara mentah, termasuk Jessica. Dia masih mengingat perempuan di masa lalunya.

Padahal, Diana selalu menyadarkan putranya itu untuk tidak terobsesi mencari teman masa kecilnya. Karna Diana berfikir mungkin gadis itu sudah tidak tinggal disini, karna sampai sekarang pun Joey tidak menemukannya.

"Oh iya, tadi mamah kesini mau apa?"

"Mamah cuma mau nanya, kapan kamu berangkat  ke london?"

"Lusa"

~~~~~~~


Pagi itu, gadis itu melangkah kan kakinya menuju mobil yang sudah di huni oleh papah dan kak Leo, mereka bermaksud mengantar putrinya ke bandara, karna ini jadwal penerbangannya. Sebenarnya gadis itu sedih harus meninggalkan keluarga kecilnya dan rumah lamanya yang sudah ia tinggali 17 tahun.

Tapi toh disana juga ada omah, pengganti kedua orang tuanya, dan kedua orang tuanya juga akan mengunjunginnya bulan depan. Belum juga sampai, sudah ribut menjenguk.

Tak sadar, mobil Wilshon sudah berhenti di bandara, itu saat nya keluarga kecil tersebut berpisah dengan putrinya. Brietta tidak ingin hanyut dalam kesedihan, niatnya kesana untuk melepas keterpurukannya, bukan ingin bersedih seperti ini.

"Mah, aku masuk dulu ya, mamah jaga kesehatan."

"Iya sayang, hati-hati"

Gadis itu pergi meninggalkan keluarganya, dia sudah masuk kedalam pesawat, di perjalanan gadis itu hanya tertidur, setelah pesawat landing dia langsung men-cek notification dari grup, ya teman-temannya sangat sedih karna gadis itu pergi kuliah ke luar negeri, pasti  teman-temannya sangat merindukannya, terlebih Shasha dan Felin.

Trio Barbar

Felin

|Lo jadi pergi?
|Temen koplak gue ilang atu :(

Shasha
|Lebay lo, kan masi ada gue

Felin
|Bosen gue ama lo muluuu

Shasha
|Kt pts.

Dosa apa gue punya temen kaya kalian?|

Felin

|Pulang-pulang udeh harus bunting loh
|Kawin ama bule sana
|Biar anaknya cakepan dikit, kaga buluk kea     emaknya

Enak aja, gini-gini gue mantan model|
Oke, ntar lu jadi baby sitter gue ya|

Felin

|Model tahu bulat aja songong lo

Ya, seperti itulah massage dari grupnya, banyak sekali pesan-pesan yang unfaedah tapi itu yang membuat Brietta merindukan sahabatnya.

~~~~~~~

Pria itu menghampiri Diana yang sudah sejak lama mengurung diri di kamar. Joey khawatir mamahnya sakit seperti dulu, dan harus di bawa kerumah sakit. Jadi mau tidak mau dia menghampiri kamar milik orang tuanya tersebut.

Tok tok tok

"Masuk"

Joey memasuki kamar Diana, disana dia melihat mamahnya sedang memandangi foto keluarganya, Joey juga melihat beberapa air menetes dari mata indah milik ibunya tersebut. Joey semakin khawatir jika harus meninggalkan ibunya dalam keadaan seperti ini.

"Mah, mamah nangis?"

"Ehh, Joey. Mamah kira Sherly"

"Mah, mamah ga keberatan kan Joey harus ninggalin mamah?"

"Enggak sayang, mamah malah dukung kamu"

"Beneran mah?"

"Iya sayang"

Diana memeluk erat tubuh putranya tersebut, seketika dia mengingat ada sesuatu di laci nya, terdapat kartu nama milik teman nya dulu di London. Temannya pernah memberikan kartu nama tersebut sebelum Diana pindah ke US. Diana langsung menelfon temannya tersebut, dan berniat menitipkan anaknya kepada temannya.

-tbc

BriettaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang