11.Lies

2.5K 232 38
                                        


Heran bukan main, canggung yang cukup hebat juga. Tapi hati yang berbunga-bunga tidak dapat dipungkiri juga.

Siapa yang sangka sekarang di dalam ruangan kotak membosankan milik Jimin, Hanri sedang membolak balik lembaran kertas kerja sama.

Bukan karna keinginannya, bahkan jika masih ada pilihan lain, sedalamnya jurang akan di terjuni oleh Hanri saat itu.

Taehyung mengajukan pada ayah mereka untuk mengirim Hanri ke kantor Jimin. Alasannya begitu receh, dia bilang matanya cukup lihai untuk memperhatikan gadis seksi karyawan disini. Tambahnya lagi kalau dia tidak bisa fokus bekerja hanya dengan melihat paha putih mulus setiap detik. Bisa-bisa dia salah tempat tanda tangan.

Awalnya ayah mereka tidak mengizinkan, tapi akhirnya kalah oleh Taehyung. Entah apa yang dibisikan hingga final keputusannya, Hanri tetap sampai di ruang kerja Jimin.

Jimin yakin bahkan sangat yakin, jika Hanri dari tadi tidak menekurkan kepala sibuk memperhatikan lembaran kertas, gadis ini sudah memerah bak kepiting rebus sekarang. Sama halnya dengan dia saat ini.

"Semuanya sudah di tanda tangani, aku...."

"Eomma menyuruhmu datang"

Akhirnya, Jimin berhasil menarik perhatian Hanri. Hanri terbelalak menatap Jimin sekarang, tepat setelah kalimat itu selesai diucapkan oleh bibir tebal Jimin yang tak bertulang itu.

"Mmm, dia sangat antusias saat mendengar kalau kau yang mengantar berkas ini ke kantor ku, aku juga tidak tahu dari siapa dia mendapat kabar ini" Jimin tersenyum.
"Dan dia langsung menyuruhku, bukan-dia memerintahku untuk membawamu ke rumah"

"Neo micheosseo? Bagaimana aku akan berhadapan dengan Han Rian?"

Jimin membuang nafas berat, bukan karna merasa sedih atau semacamnya melainkan sedikit kesal, alasannya jelas karna Hanri tidak berbicara sopan padanya, masih belum.

"Jika kau tidak pulang bersamaku, dia yang akan menjemputmu sore ini"

"Mwo? Mworagu-yo?"

Jimin tersenyum, hatinya kembali ke mood semula. Selalu terhibur dengan wajah protes manis di hadapannya ini.

"Shireo, ankallae, shil....."

Bukan Jimin yang memutus, tapi dering telfon Jimin yang tertaruh di atas meja. Jelas, Hanri melihat kontak pemanggil itu. Belum sempat Hanri ingin merebut tapi Jimin jauh lebih cepat darinya.

"Andwae, jangan diangkat, kumohon"

"Ini ibuku, kenapa kau melarangku berbicara dengan ibuku sendiri"

Jimin meledek, dia sengaja menggoyangkan tangannya yang menggenggam benda pipih berwarna biru tua mengkilat itu.

"Oppa, jebal andwae-yo, hajima eo"

Begitu memohon, Hanri memelas dengan wajah cantiknya. Jangan lupakan tangannya yang jari sepuluhnya sudah bersusun rapat dan rapi di depan wajahnya.

Jimin sialan, dia menyentuh tepat di tampilan warna hijau bulat di sana.

"Oppa, andwae"

Hanri bangkit dari tempat duduknya sekarang, sedikit berputar jalan melewati meja yang membatasnya dengan Jimin. Jimin sendiri tidak mau kalah, dia langsung berdiri saat Hanri sampai di dekatnya. Walaupun dia tidak terlalu tinggi, tapi berhasil menjauhkan ponsel itu dari Hanri.

"Oppa, andwae jebal"

"Aku ingin menjawabnya, jangan halangi aku"

Hanri terus melompat-lompat agar bisa mencapai ponsel itu sambil merengek menyebutkan kata oppa agar namja ini mau mengalah untuknya.

It's Lover Pt. IICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang