14.Next

2.4K 206 24
                                        


Dua bulan setelah kejadian penyerangan ayah Hanri. Situasi kembali tenang seperti semula, mantan ayah mertua Jimin itu-pun sudah kembali bekerja.

Hanya saja, hubungan Jimin dan Hanri terasa semakin memburuk. Hanri sama sekali tidak mau di ajak bertemu langsung dengannya. Entah apa alasannya Jimin juga tidak tahu.

Yang pasti sekarang, kandungan Rian sudah berusia lima bulan. Perutnya sudah menggembung seperti wanita hamil biasanya.

Jimin hanya mendapat kabar dari sekretarisnya, kalau Hanri sibuk dengan kegiatan masa lalunya. Apalagi jika tidak berkecamuk di ruang rahasia penuh dengan ratusan komputer.

Jimin tahu, Hanri menyelidiki masalah teroran yang diterima Rian tempo hari. Bahkan sampai dua hari yang lalu, ponsel Rian tidak henti-hentinya mendapat pesan ancaman dari orang yang sama.

Untuk kali ini, masalah ini cukup membingungkan. Jika itu memang tindakan saudara dari mantan sekretaris sekaligus mantan kekasih Jimin, seharusnya masalah ini selesai hanya dengan melaporkan dia pada pihak kepolisian.

Tapi dengan tidak cukupnya bukti yang dipunya, sementara waktu baik itu Jimin maupun orang terdekatnya, harus selalu siaga untuk menjaga satu sama lain.

Terutama Han Rian.
Terakhir, Jimin-lah yang membuka pesan itu saat Rian tidak sengaja meninggalkan ponsel di mobil Jimin.

"Aku tidak suka melihat perut buncitmu, dia bukan janinku, aku akan menyingkirkan bayi itu untukmu sayang"

Kalimat itu cukup menakutkan bagi Jimin. Dia tidak menyangka kalau kalimatnya memang begitu mengintimidasi, bahkan itu adalah ancaman pembunuhan.

Pagi ini, Jimin sengaja tidak berangkat ke kantor. Dia mengiyakan kata Taehyung untuk menemani Rian di rumah.

Taehyung sempat bilang, kalau Hanri melihat rekaman seorang pria yang mondar mandir di depan kelas Rian. Tidak, dia bukan saudara Hwang Tae Hee, tapi seseorang yang lain, belum dikenal sama sekali.

"Ajussi, aku ingin jus lemon"

"Mmm arasseo, tunggu sebentar akan ku ambilkan"

Jimin beranjak dari kursi putarnya setelah melihat Rian mengangguk dan duduk di tepian ranjang.

Jimin menuruni anak tangga tentunya menuju dapur mengambil minuman yang diinginkan istrinya. Mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas Jimin harus terima, karna ini juga demi bayi yang sedang ada di perut Rian.

Bohong jika Jimin tidak menantikan kelahiran anak itu ke dunia. Dia sudah lama sekali menggendong seorang bayi hasil jerih payahnya.

"Eomma?"

Jimin mencekat langkahnya saat akan kembali menaiki anak tangga. Di tangan kanannya juga sudah ada segelas lemon yang siap disuguhkan untuk Rian.

Melihat wanita tua itu tampak sedang malas, Jimin mengurungkan niatnya untuk langsung kembali ke kamar.

Jimin berputar haluan menyusul ibunya yang berdiri di depan pintu kamarnya. Jimin tidak sengaja melihat ibunya itu keluar saat dia akan kembali beberapa detik yang lalu.

"Eomma, mau kemana? Mau minuman? Biar aku ambilkan"

"Kemarilah"

Jimin membuang nafas samar melihat ibunya masih terlihat marah padanya. Tanpa ingin melawan Jimin menyusul langkah ibunya menuju taman belakang tepat di samping kamar ayah ibunya.

It's Lover Pt. IITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang