2

153 29 6
                                        

Berhari-hari dibawah sinar mentari
Ketika kehidupanku baru saja dimulai
Tidak sampai seluruh hidupku selesai
Akankah aku gementar lagi?
Apakah akan tetap selamanya?
Menahan diri untuk semua yang kucinta?

••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••

Ini hari keduaku bersekolah di SMA. Aku berangkat bersama Ayah dan Lyra, dia kelas enam di sekolah dasar swasta. Ayah tidak mengambil lembur kemarin, jadi beliau bisa mengantar kami pagi ini.

"Kembali lagi bersama kami, di siaran radio FM 244. Berita kali ini tentang seorang penjahat yang dituduh membunuh anak menteri kita, Dandie Blanskey. Pada hari ini akhirnya ia keluar dari bui...."

"Oh, Dandie yang malang...," ucap Ayah lirih seraya memperbaiki posisi kacamata kotaknya.

"Kenapa malang Ayah? Dia kan sudah keluar dan dia adalah penjahat. Bagaimana, sih." Lyra tidak terima.

"Tidak semua orang yang masuk bui itu penjahat, nak. Ayah kenal dia, dia orang yang baik. Hanya saja dia sangat tegas dan dingin. Tapi, jika kau mengenalnya lebih dekat, dia adalah orang yang sangat baik."

"Lalu, mengapa dia dapat masuk disana?" tanyaku. Ini adalah topik yang menarik untukku, walau diusiaku yang masih enam belas tahun, ketahuilah aku telah mendengar dan menonton banyak berita dan aku menyukainya. Entah untuk Lyra, adik mungilku itu mungkin mengibaratkannya seperti dalam film kartun, dimana yang jahat pasti dihukum dan yang baik tidak.

"Menteri itu, dia mencari segala cara agar Dandie dinyatakan bersalah," jelas Ayahku. Tangannya memegang kendali mobil, melesat dengan kecepatan rata-rata dijalanan.

"Ah, tetap saja Ayah. Dia jahat," ujar Lyra. Ia melipatkan tangannya, tampak kesal atas jawaban yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.

Ayah tertawa, dengan mudah tangannya mengusap rambut hitam Lyra dan kini Lyra meringis.

"Ya, karena mereka juga berkuasa, kan? Ehm, tadi Ayah menyebutkan bahwa Ayah mengenalnya?"

Ayah sedikit memperlambat kemudinya, aku dapat merasakannya melalui suara angin yang menerpa mobil. Sungguh aku merasa bahwa telingaku ini tertukar dengan telinga hewan yang memiliki pendengaran super, kadang aku menyukainya tapi sisi lain aku terusik.

"Itulah mengapa Ayah tidak mau menerima tawaran menjadi pegawai negeri dan Dandie, dia bekerja ditempat Ayah, dia adalah orang yang sangat baik."

Aku mengangguk paham. Tidak aneh bila difikir.

"Ingat, walau begitu kebaikan, keberanian dan ketulusan harus ada dalam diri kalian, oke?"

"Oke," ujarku dan Lyra serempak.

"Tos," ujar Ayah seraya memberikan tangan kanannya untuk mengajak tos pada kami. Lyra menepuk tangan Ayah keras, dan kami tertawa. Aku juga memberikan sebuah tos dan sedikit atraksi tangan seperti yang sering Ayah dan Aku lakukan setiap harinya dari sejak aku kecil.

Itulah Ayah, ia tidak memberiku batasan. Semua anaknya dianggap sama. Dia begitu tegas, namun memiliki sisi lembut serta penyayang. Aku menyukainya.

•••

Pagi ini pembelajaran kami dimulai dengan mata pelajaran sejarah, dimulai dengan bab zaman pra-aksara.

Nightmare [ END ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang