Langit sore semakin gelap. Jarum jam telah menunjukkan angka delapan. Satu persatu anggota panitia menyelesaikan tugasnya. Termasuk Chaerin dan Eunsang. Mereka duduk di halte dekat sekolah untuk menunggu bus datang.
Entah mengapa sejak pulang Eunsang lebih sering melamun. Dia memang pendiam, tapi setiap Chaerin bicara pasti matanya akan terus menatap Chaerin, seakan meyakinkan Chaerin bahwa lelaki itu mendengarkan setiap ucapannya. Tapi kali ini Eunsang tak menatapnya.
Bus berhenti di depan halte. Eunsang dan Chaerin pun naik. Mereka tak banyak bicara hingga keduanya duduk disalah satu bangku bus.
"Eunsang?" Chaerin menyentuh tangan Eunsang.
Eunsang tersentak. Ia menoleh ke Chaerin. "Kenapa?"
"Harusnya aku yang bertanya.. kau kenapa?"
Eunsang hanya menggeleng.
Chaerin tak komentar lagi. Ia menatap ke luar jendela bus. "Sebentar lagi ujian sekolah ya. Lalu kita lulus..."
Eunsang melirik Chaerin. Sungguh, Eunsang sedang tak ingin membicarakan hal ini. Tapi ia pada akhirnya tetap menanggapi ucapan Chaerin.
"Iya. Tak terasa ya.."
Chaerin tersenyum lalu menoleh ke Eunsang. "Sudah menentukan mau lanjut ke universitas mana?"
Eunsang meremat ujung seragamnya. "Kau sendiri?" Ia memilih melempar pertanyaannya ke Chaerin.
"Kau kan pintar, pasti mudah melanjutkan studimu. Sedangkan aku ini bodoh.. haha"
"Jangan bicara seperti itu"
"Benar kok," Chaerin menatap keluar jendela. "Aku mungkin akan tetap disini, sedangkan kau dan teman-teman pergi jauh mengejar mimpi masing-masing." Ucapnya dengan tatapan sendu.
Kata-kata Chaerin semakin membuat Eunsang sedih. Ia tak membenarkan jika Chaerin akan kesulitan melanjutkan studinya, jika berusaha ia pasti bisa mendapatkan universitas yang bagus. Tetapi ia membenarkan dibagian kalimat 'pergi jauh'. Sesungguhnya Eunsang pun belum siap.
Chaerin menyadari perubahan suasana diantara mereka. Ia menoleh ke Eunsang dan mendapati raut wajah Eunsang yang tak bisa ia artikan.
"Eun—"
"Maaf jika aku pergi jauh, sebenarnya aku ingin selalu berada disisimu." Ucap Eunsang.
Nafas Chaerin berhenti. Ia tak mengerti sepenuhnya untuk apa Eunsang bicara seperti itu. Tapi jantungnya tak dapat membohonginya bahwa ia bahagia mendengar kata-kata Eunsang.
"Aku juga.." balas Chaerin.
Eunsang tersenyum kecil. Ia berharap bus ini tak pernah berhenti di halte tujuannya. Ia ingin momen ini menjadi abadi.
"Tapi..." Chaerin kembali bicara. "Kau mau pergi kemana?"
Senyuman itu sempat luntur, lalu berganti dengan senyuman pahit. "Rahasia." Ucap Eunsang lalu tertawa kecil setelahnya. Mencoba menyamarkan kesedihannya.
**
Sesampainya dirumah Chaerin segera masuk ke kamarnya. Tak memperdulikan Dohyon yang memanggilnya di ruang tamu. Ia menutup pintu lalu bergegas mencari buku Eunsang di rak bukunya.
Setelah ia mendapatkan buku itu, ia duduk di kursi meja belajarnya. Membuka buku itu lalu membacanya satu persatu. Seingatnya Eunsang pernah menuliskan sesuatu yang berhubungan dengan studinya nanti.
"Ketemu." Tangannya berhenti di salah satu halaman buku.
'Jepang, Jerman atau Amerika Serikat.
Bahkan jika aku pergi ke ujung dunia, tak akan mengubah hidup siapa pun. Aku harus belajar segiat mungkin, agar bisa pergi dari rumah dingin ini secepat mungkin.'
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear, you | lee eunsang
FanfictionChaerin tidak sengaja menemukan rahasia terbesar Eunsang, teman sekelasnya yang sangat pendiam. Semua rahasia itu tertulis di buku diary milik Eunsang. Yang mengejutkan adalah rahasia itu ternyata berhubungan dengan Chaerin. Haruskah Chaerin mengemb...
