Andrea memasang raut geram. Rian tengah sibuk memeriksa laporan keuangan perusahaan mereka saat sepupunya itu masuk ke ruang kerjanya secara tiba-tiba. Andrea membawa sejumlah foto yang kemudian dilemparkan ke atas meja kerja.
"Kamu sebut apa ini kalau bukan skandal?"
Perhatian Rian beralih dari laporan keuangan. Dia menatap kumpulan foto yang ditunjukkan oleh Andrea. Foto-foto dirinya bersama Meira. Dia dan perempuan itu berciuman di dalam restoran yang mereka datangi beberapa hari lalu.
"Kamu tau berapa miliar yang harus aku keluarkan untuk mencegah foto-foto ini muncul di media?" tanya Andrea lagi. Suara Andrea sarat emosi dan wajahnya sangat merah.
Rian tidak terlalu ambil pusing dengan foto-foto tersebut. Dia kembali menghadapi pekerjaannya. "Berarti sudah tidak ada masalah, kan?" Dia menanggapi dengan datar.
Sepupunya mendesah kesal. "Rian," kata perempuan itu sambil menahan emosi "kita sedang mengejar tender penting bulan ini. Suka atau tidak, reputasimu ikut memengaruhi dan aku tidak akan membiarkan tender ini lepas begitu saja. Tolong jauhi Meira dulu untuk sementara."
"Apa-apaan, Dre? Kamu mau coba mengatur kehidupan pribadiku?" protes Rian.
Andrea tertawa sinis. "Kamu tidak pernah bisa mengatur hidupmu dengan baik, Rian. Karena itu, aku terpaksa ikut campur."
Rian mengangkat wajahnya. Dia menatap Andrea sambil merapatkan rahang. Lagi-lagi, sepupunya itu membuatnya tersinggung. Dia ingin membalas ucapan Andrea, tetapi tiba-tiba ponsel perempuan itu berbunyi.
"Ya, Bram?" Andrea menerima panggilan yang baru saja masuk, lalu perempuan itu mendengarkan lawan bicaranya di telepon. Sambil mengerutkan alis, Andrea melirik Rian. "Ya, aku akan sampaikan pada Adrian." kata perempuan itu sebelum mengakhiri pembicaraan.
Perempuan itu menghela napas dengan berat. Rian menunggu perempuan itu bicara. Andrea menggeleng-geleng. "Om Adnan dan Tante Liana sudah melihat foto-foto itu, Yan." Perempuan itu berkata dengan nada menyesal.
*****
Dimas memeriksa beberapa foto yang tergeletak di atas meja. Dia di studio, di ruang kerjanya. Alisnya berkerut. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. "Nabilla," ucapnya kepada asistennya yang baru saja masuk mengantarkan surat-surat. "ini hanya perasaan gue aja, atau foto-foto ini memang belum diperbaiki?"
Nabilla melirik foto-foto yang dimaksud. "Itu memang foto-foto yang lama." jawabnya.
"Siapa yang seharusnya memperbaiki ini? Foto-foto ini harusnya sudah siap besok." tanya Dimas. Nada bicaranya berubah sedikit tinggi.
"Rana."
"And, where is she now?"
Nabilla mengangkat kedua bahunya. "Rana sudah dua hari ini tidak ke studio." jawab Nabilla lagi.
Dimas tertawa ketus. Tangannya menyingkirkan foto-foto yang sedang mereka bicarakan. Dia bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan mendekat ke jendela di salah satu sisi ruang kerjanya, mencoba menenangkan diri. Selama beberapa detik, dia diam. Setelah emosinya mereda, dia meminta Nabilla menghubungi Rana.
*****
"Rana, Dimas nyariin lo. He needs the picture for Elle tomorrow. So please, Ran. Please call me back."
Nabilla meninggalkan pesan di telepon apartemennya. Rana menggigit bibir ketika mendengar pesan itu. Dia sama sekali tidak berniat untuk menerima telepon Niela atau menghubungi balik. Dia tidak peduli.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Love (Complete)
Teen FictionRana, dijodohkan dan ditunangkan oleh kedua orangtuanya. Tanpa dasar cinta dan murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Adrian. Seorang eligible bachelor tampan yang paling diinginkan di Jakarta. Lelaki yang tidak bisa melepaskan kenangan masa...
