Seperti sebuah istilah yang pernah didengarnya, made to be acknowledged, foto-foto hasil jepretan Farana Asyifa Rashad menonjol dengan sendirinya di tengah puluhan hasil karya lain yang tergantung pada sejumlah bidang pameran. Entah sudah berapa lama Reza berdiri di tengah galeri, di dalam studio Dimas Aditya. Dia memperhatikan baik-baik berbagai foto hasil karya Farana Asyifa Rashad. Dan semakin lama dia melihat, dia semakin kagum.
Dia datang ke studio Dimas Aditya hari ini karena Nabilla menjanjikan pertemuan dengan sang fotografer yang saat ini gambarnya dia pandangi. Sekitar setengah jam yang lalu dia tiba. Terlalu cepat memang, tapi dia datang sengaja lebih cepat supaya dia bisa dengan santai berkeliling studio sambil melihat hasil-hasil karya fotografer disini. Tetapi fotografer yang dia cari belum datang. Semoga saja dia tidak harus menunggu lebih lama lagi karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu.
Dia bergerak perlahan mendekati sebuah foto hitam putih milik Farana yang tergantung di salah satu dinding. Foto seorang perempuan dengan postur tidak terlalu tinggi, mengenakan sweter hitam dan celana jeans, yang memiliki sepasang mata bulat, rambut hitam sebahu yang dibiarkan tergerai, serta senyum manis pada wajah cantik yang menatap ke arah kamera. Di bawah foto tanpa bingkai itu, tertulis judul karya tersebut: Self Potrait by Farana Asyifa Rashad.
Tanpa sadar Reza tersenyum. Ya, perempuan dalam foto itu adalah perempuan yang menabraknya tempo hari di lobi studio. Farana. Calon tunangan kakaknya.
"Ada yang menarik?"
Teguran itu membuat Reza terkejut. Dia menoleh, lalu mendapati model dalam foto yang sedang dia perhatikan sudah berdiri di sampingnya. Seorang perempuan yang memperlihatkan segaris senyum lebar dan dengan segera perempuan itu mengulurkan tangan. "Hai. Kita ketemu lagi." kata perempuan itu. "Nama gue Farana. Panggil gue Rana aja. Lo Reza yang dimaksud sama Nabilla, kan?"
Dengan antusias, Reza membalas, "Yap! gue Reza." dia meraih tangan Rana.
"Sorry yaa, waktu itu gue lagi buru-buru." Rana mengingatkan Reza pada pertemuan pertama mereka.
"It's okay. Nabilla udah kasih tau?"
"Sedikit." jawab Rana. "Nabilla bilang, lo butuh fotografer buat iklan yang lagi tim lo buat."
Reza mengangguk. "Ya. Dan gue tertarik banget pas lihat foto lo di lobi. Berapa lama waktu yang kita punya? Banyak banget yang mau gue sampein mengenai hal ini." katanya.
"Well, we have plenty of time." kata Rana, kemudian mereka beranjak keluar galeri, lalu naik ke lantai dua.
*****
"Tolong kamu tanda tangani ini. Kontrak dengan Ray White." Andrea meletakkan satu tumpuk berkas di atas meja.
Rian mengalihkan perhatiannya dari layar laptop yang tengah dia hadapi. Dia melirik Andrea sekilas. "Berikan saja pada Vino." katanya.
"Nggak bisa, Yan. Harus kamu sendiri yang memeriksanya."
"Lalu, buat apa kita membayar Vino?"
"Kamu sendiri yang membatasi peranan Vino, jadi jangan mengeluh soal dia." Andrea menanggapi dengan tenang. Rian mendesah sambil meraih tumpukan berkas di atas meja. Sementara Andrea menunggu, Rian mulai membaca isi kontrak itu.
"Gimana kencan kamu kemarin?" tanya sepupunya setelah hening beberapa saat.
Rian tidak langsung menjawab. Perhatiannya masih tertuju ke isi kontrak. "Baik." jawabnya singkat.
"Dia bukan tipe perempuan yang bisa kamu tangani, ya?"
Sindiran Andrea dibalas Rian sambil lalu. "Perempuan mana yang tidak bisa kutangain, Dre?" tanya Rian. Suaranya datar. Dia mengembalikan kontrak yang baru saja diperiksanya kepada Andrea. "Masih ada yang salah. Tolong diperbaiki."
KAMU SEDANG MEMBACA
Bittersweet Love (Complete)
Fiksi RemajaRana, dijodohkan dan ditunangkan oleh kedua orangtuanya. Tanpa dasar cinta dan murni karena alasan bisnis. Calon tunangannya, Adrian. Seorang eligible bachelor tampan yang paling diinginkan di Jakarta. Lelaki yang tidak bisa melepaskan kenangan masa...
