Pameran Lukisan

6.8K 1K 61
                                        

Haruto menghela nafasnya dengan berat.

Baju seragamnya ia tutup dengan hoode abu-abu, menyisakan celana biru dongkernya yang mengidentitaskan bahwa ia adalah pelajar sekolah.

Haruto menyerahkan kartu pelajarnya, berbarengan dengan selembar uang seratus ribu. Untuk membeli tiketnya.

Setelah mendapatkan tiket tersebut, Haruto berjalan memasuki sebuah gedung pertemuan yang selama seminggu ini dirombak menjadi pameran lukisan.

"Dulu sampe bosen gue liat ini lukisan," gumam Haruto menatap sebuah lukisan besar yang menyambutnya saat memasuki area pameran tersebut.

Haruto terus berjalan semakin memasuki area pameran, melihat-lihat lukisan yang sebenarnya dahulu sangat ia tidak suka.

"Kenapa lukisan abstrak kaya gini papah beli sih?"

Haruto tiba-tiba saja terkekeh saat mengingat masalalunya, saat almarhum papahnya baru saja pulang sebari membawa lukisan baru.

"Haru tau arti dari lukisan ini?" Tatapan penuh cinta dari Sang Papah tiba-tiba saja kembali muncul keingatan Haruto.

"Lukisan ini mengartikan tentang kekuatan yang berwarna merah, kejujuran dari warna putih, keceriaan dari warna kuning," gumam Haruto mengingat perkataan sang papah "dan warna hitam yang mendominasi adalah arti dari ambisi yang berlebih, menutup kekuatan, kejujuran dan keceriaan."

Selepas pulang sekolah, Hatuto memang pergi menuju sebuah pameran lukisan.

Area pameran di siang hari sangatlah sepi. Tak terlalu banyak peminat dari pameran ini, hanya ada beberapa orang yang paham akan seni, para kolektor yang berusaha menawar lukisan yang dipajang, serta sekelompok mahasiswa yang sepertinya medapatkan tugas dari kampusnya.

Haruto kembali berjalan menelusuri lorong yang menampilkan lukisan-lukisan yang dahulu dipajang di rumahnya.

"Kenapa lukisan ini bergelombang Papah?"

Haruto kembali terdiam, menatap lurus pada sebuah lukisan yang bentuknya tak beraturan.

Mayoritas di pameran ini memang memiliki banyak lukisan abstrak.

Pameran lukisan koleksi Watanabe Hyun, papah dari Haruto.

Haruto benci semua lukisan milik Papahnya. Karena gara-gara lukisan itu, kasih sayang sang papah untuk Haruto berkurang.

Tapi, entah mengapa. Untuk pertama kalinya. Ia meras sangat senang bercampur rindu, saat kembali melihat lukisan-lukisan tersebut.

"Haruto?"

Haruto langsung menoleh pada suara yang tidak asing ditelinganya.

"Om Jidi?"

👦

"Jadi.. Gimana kabar kamu?"

Watanabe Young, Adik dari sang Papah. Lebih tepatnya, paman dari Haruto, yang biasa dipanggil Om Jidi

"Haru?" panggil Om Jidi pada ponakannya.

Haruto si periang, yang bahkan saat pertama kali bertemu dengan Mang Baek langsung akrab. Tetapi berubah menjadi pendiam saat bertemu dengan paman kandungnya.

"Kamu sekarang tinggal dimana?" tanya sang Paman sembari menyodorkan segelas minuman pada Haruto.

"Ha..haru, tinggal sama Bunda, Om." jawab Haruto yang suaranya memelan, tidak seperi Haruto si pembuat polusia suara.

Om Jidi mengangguk paham, "Kamu baru pulang sekolah?" tanya sang Paman dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Haruto, "Sekarang kamu kelas 8 SMP kan?"

"Haru kelas 9 Om," koreksi Haruto.

"Udah gede ya kamu," kata Om Jidi "sekarang tinggal sama Mba Hanna kan?"

Haruto mengagguk, "Iya, sama bunda, sama ayah juga." cerita Haruto. Om Jidi hanya mengangguk saja saat mendengar perkataan Haruto.

"Om minta nomor kamu, biar kalo ada apa-apa bisa Om hubungi kamu."

Haruto mengangguk saja, menyebutkan nomor telponnya kepada sang paman.

"Itu nomor Om, kalo kamu butuh apa-apa bilang aja ke Om." Haruto mengangguk dan menyimpan nomor tersebut yang tadi menelponnya.

Om Jidi

Sebuah nama kontak normal. Tidak seperti nomor Mang Baekhyun yang Haruto simpan,

Mang Bebek Wekwekwek

Tbc

HARUTO✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang