Crass!
Kepala itu menggelinding tepat di hadapan, membuatku membelalakkan mata. Perlahan, cekikan di leher mengendur, sebelum akhirnya terlepas dan sosok wanita itu menghilang.
Aku memegangi leher, bernapas tersengal-sengal. Jatuh berlutut. Aku terbatuk-batuk. Dada terasa terbakar.
Kepalaku terasa berat saat mendongak. Wanita berbaju putih menyeramkan tadi entah ke mana. Raib begitu saja. Sayup-sayup, aku mendengar suara, lirih, hampir tak tertangkap telinga.
"Dia akan kembali lagi. Pergilah selagi bisa."
Seorang wanita. Aku tidak mengenal suara itu. Apa mungkin dia yang mencoba membunuhku tadi? Ah, rasanya bukan. Firasatku mengatakan, suara ini mencoba membantuku.
Sekuat tenaga aku mencoba bangkit. Lututku terhuyung, saat kegelapan menghantam tiba-tiba.
Aaarrgh!
*****
Bunyi alarm memekakkan telinga. Refleks aku membuka mata. Masih kurasakan degup jantung tak beraturan, juga helaan napas kencang sekaligus berat. Tetes keringat membasahi kening, padahal bukan musim panas.
Ah. Aku mengedarkan pandangan. Rupanya, aku kembali ke tempat seharusnya. Kamar. Dan berbaring layaknya orang baru bangun tidur. Dendang alarm kembali mengusik, mengingatkanku agar tak melewatkan waktu.
Perlahan, aku bangkit. Saat menanggalkan kaus, bunyi HP-ku berubah. Pesan masuk. Segera, aku membukanya. Dari Bastian.
"Gue perlu ngomong sama elo. Habis kuliah. Bisa?"
Tidak biasanya anak itu meminta waktu untuk berbicara. Ada yang janggal. Bastian meminta izin seakan menegaskan pembicaraan kali ini bersifat rahasia. Itu artinya, hanya aku dan dia. Redi tidak termasuk di dalam pembahasan apa pun yang ingin dia bicarakan nanti. Aku menerka-nerka, kira-kira apa yang akan Bastian katakan?
Namun, aku tak mau ambil pusing. Mungkin memang ada masalah yang dia rasa akulah orang tepat. Ah, mengingat karakter Redi yang kadang lebih sering bercanda daripada serius, rasa-rasanya wajar Bastian lebih memercayaiku.
"Ok." Tanpa ragu kubalas dengan singkat.
Setelah itu, rutinitas pagi berlanjut seperti biasa.
****
Bastian menelan ludah. Wajahnya pias sekali, bahkan sebelum mengatakan apa-apa. Gerakannya gusar, tampak sekali dia gelisah.
"Lo mau ngomong apa?"
Aku meneguk teh botol yang baru saja kupesan. Dari sudut kantin, Mbak Retno, penjaga warung terlihat mengamati kami berdua. Pembicaraan dua orang lelaki setelah kuliah usai dan kampus sepi, memang kadang mengundang curiga. Terlebih setelah minggu kemarin seorang mahasiswa di sebuah universitas tertangkap tengah bertransaksi narkoba di sebuah warung dekat gedung kampus.
Aku melambaikan tangan pada Mbak Retno, perempuan paruh baya itu datang menghampiri.
"Bakso satu, ya, Mbak," kataku sambil tersenyum. Berusaha bersikap seramah mungkin.
"Mbak udah mau tutup. Kalian jangan lama-lama, yaa."
Aku mengangguk lalu menoleh pada Bastian.
"Elo nggak mau pesen apa gitu?"
Bastian menggeleng. Apa pun masalahnya, dia terlihat sangat frustrasi.
"Hantu itu neror gue juga."
Gumaman Bastian membuatku terkejut. Sebentar, aku mencoba menguasai diri.
"Maksud elo?"
"Gue diteror, Ga. Mungkin emang nggak separah elo. Tapi lumayan bikin gue nyaris gila."
KAMU SEDANG MEMBACA
Petak Umpet Setan (End)
TerrorTiga remaja melakukan suatu permainan terlarang di sebuah rumah kosong. Kejadian demi kejadian aneh terus terjadi. Tak hanya itu, bahkan hingga permainan selesai pun, teror masih membayang. Beberapa teman mereka yang tidak ada sangkut pautnya dengan...
