"Kakak! Kak!"
Gedoran pintu sontak membuat perhatianku teralihkan. Masih dengan tubuh gemetar, aku membuka pintu. Seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut dikuncir ke belakang, menatap heran. Ia langsung menyerobot masuk tanpa kupersilakan.
"Kak, ada apa? Aku sudah pencet bel berkali-kali. Aku juga manggil-manggil Kakak. Kenapa lama bang—"
Ucapannya terhenti saat menatap ke arah meja. Sorot matanya berubah, ia membelalak lebar, lalu ganti memandangku.
"Kakak! Apa ini?" serunya.
Aku menggeleng. Memijit pangkal hidung, lalu mendudukkan tubuh di atas sofa. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Semua ini membingungkan sekaligus menakutkan untukku.
"Kakak, jawab! Tatap Fuka, Kak!"
Adikku mengguncang bahuku agak keras. Membuatku mendongak, menatap iris hitamnya yang dipenuhi rasa penasaran. Ingin sekali menyangkal, tapi aku terlalu lelah. Fuka mungkin tidak akan percaya pada apa pun yang kukatakan.
Mungkin karena merasakan keresahanku, Fuka duduk di samping, meremas jemariku.
"Kak, ceritakanlah. Aku pasti dengerin semua cerita Kakak. Percayalah!"
Aku melihat ketulusan di matanya. Adikku tidak pernah berbohong atau meledekku. Dia selalu membela, bahkan setelah aku berbuat nakal sekali pun. Akhirnya, kuputuskan untuk bicara.
"Kakak tidak tahu, Fuka-chan. Semua ini ... terlalu sulit buat kakak jelasin. Entah kamu mau percaya atau nggak ...."
Fuka meremas jari-jariku sekali lagi, lalu mengangguk. "Aku selalu percaya sama Kakak."
Setelah menarik napas beberapa kali, meluncurlah runtutan kejadian itu. Mulai dari keisengan kami bermain Hitori Kakurenbo, hingga malapetaka yang menghampiri satu per satu. Lengkap dengan teror hantu wanita.
Fuka menghela napas. Mata sipitnya semakin tinggal segaris. Bibirnya berkedut.
"Kamu kenapa bisa ke sini? Oka-san nyuruh kamu?"
Fuka adalah adik tiriku. Ayah menikahi Oka-san yang merupakan janda kawan akrabnya. Oka-san adalah wanita Jepang asli. Namun, ia sangat fasih berbicara bahasa Indonesia, karena sudah tinggal lama di sini. Fuka masih berusia setahun saat keduanya menikah. Dan aku, sekitar tiga atau empat tahun. Keberuntungan yang mungkin tak semua anak tiri rasakan, Oka-san sangat menyayangiku selayaknya anak kandung. Kami dibesarkan bersama tanpa dibeda-bedakan.
Meski sudah tinggal di Indonesia dan resmi jadi WNI, Oka-san meminta kami melestarikan sedikit budaya Jepangnya. Termasuk tambahan -chan di nama adikku. Juga panggilan Oka-san sebagai ganti "Mama".
"Kakak."
Aku merasakan remasan tangan Fuka sekali lagi, membuatku kembali menatapnya.
"Karena inilah Oka-san nyuruh aku ke sini, buat nengok keadaan Kakak. Katanya, Kakak butuh aku sekarang."
Aku memandang Fuka, tak yakin. Masalahnya, sesuatu yang kami hadapi jauh di luar nalar manusia. Maksudku, aku tahu dia mempunyai "sedikit" pengetahuan tentang hal semacam itu. Namun, membuat adikku terjun ke dalam bahaya, sama sekali tak terpikir olehku.
"Sedikit banyak, aku tahu tentang apa yang menimpa Kakak. Apa Kakak lupa, kalo Hitori Kakurenbo dari Jepang? Sejak kecil, Oka-san biasa menceritakan hal-hal tentang Jepang kepadaku. Termasuk permainan ini." Fuka meyakinkanku sekali lagi.
Aku menarik napas panjang. Berat. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana nanti jika justru nyawa adikku yang berada dalam bahaya?
Sekali lagi, aku menatapnya. Fuka mengangguk tegas, tak memberiku kesempatan untuk menolak. Dan baru itu aku sadar, dia membawa ransel yang diletakkan di lantai. Kalau sudah begitu, tandanya dia akan menginap di sini selama beberapa hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Petak Umpet Setan (End)
HororTiga remaja melakukan suatu permainan terlarang di sebuah rumah kosong. Kejadian demi kejadian aneh terus terjadi. Tak hanya itu, bahkan hingga permainan selesai pun, teror masih membayang. Beberapa teman mereka yang tidak ada sangkut pautnya dengan...
