AKU INGIN MENCONTOHNYA

8 2 0
                                        

Bagian Kedua Belas


Aku ingin mencontohnya


Perjuanganmu bagi ku adalah suatu pelajaran, kenangan, cerminan bahkan aku tidak bisa membalasnya. Jika ingat apa yang Ibu lakukan kepadaku diwaktu aku sakit, lapar, tidur bahkan sedari kecil tidak pernah berubah sedikitpun kasih sayang itu tidak usang ataupun luntur dimakan usia.


Aku ingat setiap aku tidur pasti ditemani buku baik buku bacaan atau buku tulis. Aku tidak bisa tidur jika belum baca buku dulu. Sejak megang hp ya megang bukunya jarang diganti hp. Alhamdulillahnya di hanpon aku membaca novel atau membaca story orang-orang bijak, seperti Merry Riana, Mario Teguh, Tere Liye, Kang Abik, Ahmad Rifa'i Rifa'i dan banyak sederat orang-orang yang bisa memotivasi orang lain.


Aku terkejut dan tertegun, langsung saja aku bangun dari tidur nyenyakku kala mendengar ada suara tepukan tangan.


"Ibu......"


Aku mendapati Ibu sedang mencari nyamuk yang menggigitku.


"nyamuknya banyak" katanya nyantai. Mataku yang masih sangat mengantuk hanya manggut-manggut, dan tanpa menghiraukan Ibu aku rebahkan lagi tubuhku yang rasanya sangat lelah. Aku tertidur lagi tanpa merasa bersalah, karena Ibu telah menjagaku dari gigitan nyamuk.


Ibu. Kataku itu hal kecil, tapi itulah hal besar yang tidak dimiliki diriku dan orang lain ialah kasih sayangmu memang tak berbatas, tidak ada batasan sepanjang masa akan tetap menyayangiku dan Kakakku.


Pernah suatu malam, setelah menyelesaikan skripsi aku begitu sangat ngantuk, sampai-sampai aku tidak menyadari posisi tidurku benar apa tidak, yang saya tau aku ingin cepat-cepat isrirahat dan tidur, dan apakah kalian tau Ibu masuk kekamar ia membereskan buku-buku yang berserakan dimana-mana, laptop terbuka. Semuanya berantakan.


Aku merasakan ada angin yang berhembus pelan , tapi karena mata terlalu payah aku tidak menghiraukannya. Ternyata Ibu menyelimutiku dengan selimut kesayanganku.


Pagi-pagi sekali aku terbangun dengan kamarku sudah rapi seperti semula, aku terbalut selimut hangat.


"Ibu yang melakukan ini" pikirku. Siapa lagi kalau bukan Ibu, karena setiap kamarku berantakan dengan banyak buku-buku terbuka atau baju yang belum dilipat pasti Ibu membereskannya ketika aku tidak ada. Ia tidak memarahiku, namun ia bilang.


"Kalau mau keluar kamarnya bereskan" aku hanya tersenyum menanggapinya.


"Iya Bu" jawabanku hanya itu. Aku jarang mengubris apa pesannya. Aku sering meninggalkan kamarku dengan berantakan yang sedemikian. Berantakan dikamarku tidak luput dari Buku bacaan dan peralatan tulis, kalau baju itu jarang. Usai membaca buku aku jarang mengembalikkan ketempatnya, jadinya berantakan.


Aku mempunyai perpustakaan pribadi. Lomari perpustakaanku berisi sampai tujuh puluh buku bergendre. Ada buku ilmiah, novel, komik. Aku lebih suka mengoleksi buku-buku motivasi. Di perpustakaanku ada buku Latahzan karangan Aid al-Qarni, Menjadi Wanita Paling Bahagia, Enjoy Your Life, Petuah Bijak satu sampai tiga, Mutiara Hikmah di Lautan al-Fatihah, Ya Allah Siapa Jodohku karangan Ahmad Rifa'i Rif'an dan banyak karangan-karangan para penulis yang wajib diacungi jempol.


***


Suatu hari aku pulang dari sekolah SMP Islam Mifu. Ibu duduk didepan rumah.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawabnya santai.


"Khofif. Tolong belikan Ibu beras Putih" seraya menyodorkan uang lima ribuan. Aku menerimanya.


"Berapa kilo?" tanyaku.


"Setengah saja, jika satu kilo uangnya tidak mencukupi"


Aku manggut-manggut dan pergi ketoko yang berada dihadapan rumah.


"Setengah kilo buat apa ya?" benakku beratanya-tanya sendiri.


Keesokan harinya aku baru pulang dari sekolah. Setelah mengganti pakaian aku langsung menuju ke dapur, karena begitu lapar. Aku buka ranji tidak ada lauk-pauk sama sekali, dilihat dimeja maka tidak ada nasi.


"Kemana nasinya" pikirku.


Diatas kompor ada panci yang tertutup. Aku membukanya mendapati bubur yang dikasih gula merah.


"Ibu buat bubur" kataku lagi.


Aku mengambil dan memakannya.


"Khofif. Ibu tidak masak" ucap Ibu.


"Dak papa Bu" kataku.


Ternyata Ibu tidak masak, karena ia tidak megang uang, yang dibuat bubur ialah beras yang aku beli kemaren setengah kilo. Mengetahui itu aku sedikit tersendat, karena demi anaknya ia berusaha melakukan apa yang dia bisa.


Ia tidak ingin aku kelaparan, apapun akan dimasaknya untuk mengganjal perutku agar tidak lapar. Setelah meengetahui semuanya aku berhenti makan. Aku makan sedikit, karena aku tahu Ibu belum makan sedari tadi. Aku meminum air sampai dua gelas agar bisa kenyang.


"Ya Allah.....aku merasa bersalah, karena tidak bisa berbuat apa-apa kepadanya"


***


Aku tidak pernah melihatnya menangis, tapi ada kejadian yang aku tahu bahwa begitu sangat menghawatirkan aku. Suatu hari aku interview dengan para responden tentang kevalitan data yang aku peroleh. Dari rumah aku berangkat ba'da dhuhur, sampai di Sukosari aku terjatuh dari atas sepeda, karena sepedanya miring. Kendaraan yang ada didepan sepeda yang kutumpangi berhenti mendadak, sehingga ponaanku berhenti mendadak juga dan akhirnya jatuh. Alhamdulillahnya aku tidak kena bannya truk yang waktu itu pas lewat disampingku. Seandainya tanpa pertolongan Allah waktu itu kepalaku pas ada dipinggir bannya truk, badanku menghantam ban truk dengan keras. Ponaanku kena besi dibahunya. Rem sepeda jadi blong. Hp ku jatuh sampai dua meter dari arahku. Aku sangat bersyukur diwaktu kejadian kendaraan sepi.


Aku dan ponaan terus melanjutkan pergi ke Lumajang melakukan interview.


"Sinul....kamu tidak apa-apa" tanyaku kepada ponaan.


"Dak papa Lek. Ayo kita teruskan ke Lumajang"


Sebenarnya badanku sakit semua, kepalaku pusing, tapi agar cepat selesai aku melanjutkan perjalanannya.


Usai melakukan sholat maghrib di Musholla yang ada dijalanan aku melanjutkan untuk pulang. Setelah sampai di Alun-alun Jatiroto aku bertemu deengan sepupu. Ia sangat kencang melaju, tapi tiba-tiba berhenti, ternyata sepupuku mendengar aku kecelakaan di Lumajang. Orang-orang rumah panik mendengar aku kecelakaan lebih-lebih Ibuku. Ibu pergi mencariku dimanna aku sekarang.


"Bagaimana Dek. Napannah se lokah ?" tanya sepupuku.


"Anapah Cak?" tanyaku tidak faham.


"Katanya kecelakaan?" tanyanya lagi penuh dengan kekhawatiran.


"Hanya jatuh saja Kak" Aku menutupi agar mereka tidak begitu kepikiran.


Ternyata aku dan ponaan yang jatuh dibuat story sama ponaanku sendiri. Luka yang ada dibahunya dijadikan story wa sehingga banyak teman-temannya yang menyangka kalau kami kecelakaan.


Setelah sampai di pertigaan aku bertemu dengan Ibu dan Kak Irul yang juga membawa sepeda. Aku mendapati Ibu sudah mengalirkan bening-bening air matanya. Ia menangis sangat setelah mengetahui keberadaanku baik-baik saja.


"Ayo pulang. Yang penting kalian tidak apa-apa" kata Kak Irul.


Kami pulang, sedangkan rasa sesak karena melihat Ibu menamgis memenuhi relung hati. Aku rasanya ingin bersimpuh dikakinya setelah melihat tetesan ai4 mata beningnya. Aku tidak kuat melihat air itu jatuh.


DIBALIK SELENDANGMUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang