PERTENGKARAN

22 2 1
                                        

Bagian Keenam
Pertengkaran

JAM 12:15. Ibu masih menjahit baju-baju tetangga yang  meminta bantuan Ibu untuk menjahitnya. Tiba-tiba pintu terbuka, Kak Irul pulang, ia tidak nguluk  salam atau nyapa, berlalu seakan-akan tidak ada orang.
“Kenapa baru pulang?” tanya Ibu disela-sela ia menjahit. Kak Irul hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tiga hari tidak pulang, keluyuran kemana saja?” Tanya Ibu lagi.
“Tidak usah pikirkan Irul, mau pulang atau tidak, mau tidur dimana, itu sudah urusan ku, lagian sedari kecil, sudah tidak perduli kan, kenapa sekarang mau perduli dengan keadaanku?”
Kata-kata itu begitu sangat menyakitkan hatinya, begitukah sikapnya seorang anak kepada orang tuanya, ia mengatakan dengan rasa tidak bersalah, dan berlalu meninggalkannya ke kamar.
Jendar!!! Suara pintu kamar itu mengagetkannya.
“Ditanya malah jawabnya tidak baik” keluhnya dengan suara yang keras.
“Apa dengan kepulanganku Ibu merasa keberatan?!” tanya Kak Irul yang sudah ada dihadapannya.
“Kalau orang tua tanya baik-baik, jawab dengan baik-baik, kenapa tambah dewasa tambah kurang ajar! Apa saya mengajari seperti itu?”
“Tanpa Ibu mengajarinya, Irul sudah begini. Apakah Ibu bertanya dulu, ketika mau meninggalkan Irul?! Kenapa Ibu diam, salahkah aku bertanya ini, aku dan Khofif  bagaikan anak yatim piatu, Ibu tau itu!” tangannya dikepal menahan amarah didalam dadanya.
“Ayah dan Ibu tidak tau penderitaanku dan Khofif. Masa remaja ku dan Khofif hilang, karena rasa kesedihan dan linangan air mata. Ibu sadar itu!”
“Ibu meninggalkanmu untuk memenuhi semua kebutuhanmu, pendidikanmu.”
“Jika memang benar seperti itu, kenapa aku kekurangan dalam biaya pendidikan?”
“Saya sudah ngirim uang, bukankah itu tidak cukup?!”
“Ya, itu cukup, tapi bagi dia yang telah menerimanya. Aku putus sekolah, karena aku tidak punya uang untuk membeli buku, aku membiayai hidupku sendiri. Makan dipantau. Kenapa aku seperti anak yang dikekang?!”
“Ibu tidak menelantarkanmu Irul,  Ibu membiayaimu dan Khofif, setiap bulan Ibu kirim untuk kebutuhanmu dan adikmu”
“Apa pikir orang yang Ibu percaya menyayangiku dan Khofif, mereka mengatakan “Ibumu tidak ngirim uang” aku tidak meminta uang, walaupun membutuhkannya, sekarang Ibu tau!”
“Mereka memang tidak menelantarkan ku dan Khofif, tapi kami mengalami kekurangan, adek pendidikannya yang penting sekolah, tidak pernah ikut pramuka, atau kegiatan sekolah lainnya, apa Ibu tidak kasihan melihatnya, sedangkan temannya aktif, sekarang Ibu mau kesempurnaan dari kami?! Jangan harap Bu, kami bodoh,  dulu kami lakukan yang penting hanya sekolah.”
Ibu tediam mendengar semuanya, linangan air matanya jatuh membasahi kedua pipinya.
“Ibu ingin tau apa keinginan Khofif?! dia ingin seperti anak lainnya, dia pintar, tapi semuanya tertahan, tidak punya penyemangat dalam hidupnya. Apakah Ibu mikir itu?! Tapi semuanya hilang Bu, jangan pernah tanya kenapa aku seperti ini?” seraya berlalu pergi meninggalkan Ibu yang termangu sendiri. Kak Irul pergi lagi entah kemana. Selama seminggu tidak pulang-pulang.
Mendengar perdebatan mereka dan marahnya Kak Irul aku terbangun dari tidurku dan langsung duduk. Perasaan takut menyelimutiku. Ibu marah dan Kak Irul tidak kalah marahnya. Aku hanya bisa melinangkan air mata. “Apakah akan terus seperti ini ya Allah.....”  aku tambah tidak mengerti dengan semua ini.
***
Usai sholat Dhuhur aku pergi kedapur, karena cacing-cacing diperutku sudah dari tadi teriak-teriak minta makan.
Crutttt.......crutttt........
Bunyi itu terus menggema tanpa henti sampai sesuap demi seuap nasi dan lauk-pauknya masuk ke dalam mulutku, guna menghilangkan rasa lapar. Setelah selesai aku membereskannya dan piring yang berisi ikan jatuh dari tanganku, isinya kocar-kacir dilantai. Mendengar ada piring jatuh Ibu menghampiriku.
“Ada apa Fif?” tanyanya.
“Em....anu....Bu....piring  yang....berisi.....i.....ikan.....ja...jatuh” aku terbata-bata mengatakannya.
“Beh! Mak epa gegger, dek remmah jiahlah, sala dik tak endik juko ” urat-urat dilehernya kelihatan, kala itu aku menjadi takut. Tanpa terasa aku merasakan pipiku memanas. Tamparan itu mendarat dipipiku, tak kuasa menahan bendungan kristal bening jatuh, air mata mulai bercucuran.
“Rengkesen !” sentaknya. Aku menunduk menahan rasa sakit dipipiku.
“Mulai dari kecil kamu itu sudah menyusahkan orang tua, tadek long tolongah ” kata itu seperti belati yang menancap pas diulu hati, begitu sakit aku mendengarnya.
“Arapah jek on laonnah, adus bludus ” aku hanya diam membersihkan sisa pecahan piring dilantai. Kak Irul yang ada diruang tamu mendengar omelan-omelannya  membuat ia marah, dengan membanting  bak dan melemparkannya dari ruang tamu hingga sampai kedapur, bak itu pecah menjadi beberapa bagian.
“Jek gigirih maloloh nak-kanak jiah, mulaeh derih gik kinnik tak norok arabet ” Kak Irul membelaku. Entahlah, aku seakan-akan menjadi barang yang diperebutkan. Ibu diam tidak menanggapinya.
“Khofif kalau masih dimarah-marahi lagi, aku akan bawa dia pergi, aku bisa membiayainya.” Katanya lagi dan berlalu meninggalkan Ibu.
Kejadian demi kejadian pertengkaran, dan amarah Ibu membuatku lambat laut memiliki rasa takut yang berlebihan, sehingga ini menjadi hal yang trauma bagiku. Salah sedikit saja tidak segan-segan tamparan dan amarah lainnya mengenaiku. Ketika melakukan pekerjaan dan mendengar suaranya dari kejauhan, maka rasa was-was dan takut menyerangku seketika juga, rasa takut salah, takut tidak cocok, takut tidak pantas dan lainnya itulah yang aku rasakan. Kakakku saja bilang Aku bak anak tiri, tapi dibalik ketegasan, amarah, diam bahkan dalam pengorbanannya terciptalah anak yang sangat ia harapkan, bahwa kedua buah hatinya bisa menjadi anak yang ia harapkan.
Aku sangat membenci pertengkaran, karena pertengkaranlah banyak hubungan menjadi jauh, saudara seperti orang lain. Itulah pertengkaran yang mana disenangi oleh setan-setan. Setan mengadu domba anak Adam agar saling membenci, memusuhi, Setan membisikan keindahan-keindahan dunia yang sebenarnya fana.

DIBALIK SELENDANGMUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang