DIPAGI hari setelah bangun dari pangkuan Ibu, aku mendengar apa yang telah terjadi dengan Ibu, sehingga aku pun mengerti kalau Ibu kena Razia di Negeri Jiran sana. Ibu tidak memiliki pasport, karena majikannya telah membawa kabur, tapi Ibu tidak pernah putus asa, ia terus berusaha dan bekerja keras, mungkin itu sudah prinsipnya.
Suatu hari Ibu diterima bekerja dalam sebuah keluarga yang berkebangsaan Pakistan, suami dan istrinya ramah, ia memiliki seorang anak kecil namanya Yasin, anak kecil itu begitu sangat sayang pada Ibu sehingga ia memanggilnya dengan sebutan nenek.
Pada suatu pagi Ibu besih-bersih ditoko majikannya dan menjaganya takut ada pembeli, pas Ibu sudah selesai, ia nyantai duduk sambil membersihkan daun-daun bawang putih yang terlepas, memisahkannya dari sang empunya, tiba-tiba ada seseorang yang membeli satu pak rokok, serta merta Ibu bangkit dari duduknya untuk melayani sang pembeli.
Ketika transaksi pembayaran ia menggoda Ibu, memegang tangannya dan hendak meraba bagian belakang tubuhnya, Ibu terkejut bukan kepalang, Ibu menghindar menghempaskan tangan laki-laki tersebut dan langsung memanggil Mama Yasin yang sedang menonton tv.
Mendengar teriakan Ibu, Mama Yasin menghampirinya, Ibu melaporkan apa yang telah dilakukan orang itu, tanpa pikir panjang dan rasa segan ataupun takut Mama Yasin mendaratkan tangannya di pipi kanannya, tamparan keduapun tak lepas dipipi kirinya, dengan menahan rasa sakit dipipinya ia menunjuk-nunjuk Ibu dan Mana Yasin dan berlalu pergi.
“Awak tak ape-ape Haria.......?” tanya Mama Yasin.
“Saye tak ape-ape Brubuli” jawab Ibu dengan rasa was-was.
Satu minggu dari kejadian itu. Tiba-tiba ada pemutihan di Johor, yang mana kebetulan Ibu ada di dalam kamar mandi untuk mencuci bajunya Yasin, tiba-tiba rumahnya Mama Yasin digeledah dengan alasan ada pekerja yang ilegal, Yasin yang kebetulan ada diruang tamu, ia main-main sisa rokok di asbak, Ibu yang melihatnya langsung melarang dan membuangnya, tapi itulah rencana Allah, Police-police itu tanpa bertanya langsung menahan Ibu, walaupun tanpa tangan di borgol Ibu bisa apa, Ibu dibawa keatas keretanya, dan entahlah dibawa kemana.
Yasin yang melihat kejadian itu berlari mengejarnya sambil memanggil Ibu.
“Nenek......Nenek......!” ia terus mengejarnya.
“Nenek......jangan tinggalkan Yasin......Nenek.......!” sampai Ibu tak kelihatan.
Yasin dicegah oleh Ayahnya ia terus menangis memanggil Neneknya.
“Baba, Nenek, Nenek Baba.....” kata itu yang terus keluar dari kedua bibirnya yang mungil.
“Nenek pasti pulang, Yasin jangan bersedih pula, ayok Yasin lepas ini makan ya?”
“Yasin tak nak makan, Yasin nak jumpa Nenek....” rajutnya lagi.
“Iye, kite jumpa Nenek, pi pas Yasin dah makan.” Kata Mamanya. Mendengar itu Yasin mau untuk disuapi, ia makan nasinya dengan lahap, karena ia ingin sekali bertemu dengan Neneknya ialah Ibu yang sekarang ada dalam jeruji besi Jiran.
Penebusan pun telah dilakukan Papa Yasin, tapi wak Police tak bergeming sedikitpun, sehingga Ibu tidak bisa kembali lagi.
Ibu hanya pasrah dengan semuanya, mungkin inilah jalan yang harus dilaluinya. Pada akhirnya Ibu hanya dua bulan ada disana, ini sudah menjadikan Ibu sangat bersyukur, karena ia tidak sampai berbula-bulan, atau bertahun-tahun.
Dua bulan adalah masa yang sangat menyedihkan jika diceritakan, tapi itulah yang telah ku dengar, disana tidur dengan tanpa selimut, rasa dingin menusuk-nusuk persendian tulangnya. Banyak nyamuk, Tomah dan jamban pun rasanya dalam satu ruangan, bau apek, dan peluh-peluh puluhan orang tercium dalam satu ruangan. Selera makanpun akan hilang, hanya demi untuk menghilangkan rasa lapar semua itu tidak dihiraukannya.
“Hari-hari yang penuh dengan linangan air mata” kata Ibu suatu hari.
“Ya Allah parengih abdinah kesabberen ” lirihnya dalam hati. Setiap matanya terbuka terbayang wajah kedua buah hatinya tersenyum. Hatinya selalu berdoa akan keadaan ku dan Kak Irul.
“Irul.....Khofif......do’akan Ibu Nak......, semoga selamat” ucap dalam hatinya. Diwaktu itu ada seorang prempuan yang dimarah-marahi Police, sampai ia kena terjangan kakinya, dipukul dengan tongkat kecil yang selalu digenggamnya, tamparan beberapa kali mendarat diwajahnya, melihat itu, Ibu hanya meringis.
Allah Maha Pengasih, dua bulan didalam jeruji besi membuat Ibu kurus, matanya cekung akibat kurang tidur, setelah itu, ia dipulangkan ke Indonesia melalui jalur laut sampai di perbatasan, ternyata ada yang sudah menungguinya.
Seorang anak laki-laki yang sudah dianggap anaknya sendiri bertahun-tahun lamanya.
“Ibu.......” anak itu menghampiri Ibu dan memeluknya.
“Bu....bagaimana keadaanmu?” ia bertanya penuh dengan kekhawatiran yang sangat.
Mendengar kekhawatirannya, Ibu tersenyum dan menganggukkan kepalanya menandakan bahwa dirinya baik-baik saja.
“Jika Ibu masih ingin disini, saya bisa membantu Ibu untuk kembali lagi” katanya penuh dengan keyakinan.
“Engko’ moliyyah beih Cong ........” itu jawaban yang terlontar dari kedua bibirnya.
“Ibu.....saya hanya bisa ngasih segini, mudah-mudahan ini cukup sampai di rumah.”
Ibu mengambil uang yang disodorkan Iyon, setelah lama diam menunggu, akhirnya pesawat yang membawanya akan lepas landas menuju tanah Jawa, ternyata Pemerintah Indonesia sudah menjamin keselamatan warganya sampai di Surabaya. Setelah itu, orang-orang yang dari Malaysia akan pulang ke rumahnya dengan sendirinya.
Waktu sudah malam, Ibu sampai di terminal bus Jatiroto, ia mencari pangkalan ojek. Uang yang dipegang hanya dua puluh ribu. Sudah tengah malam, perempuan jalan sendirian apa kata orang-orang, tapi ia memberanikan dirinya tanpa ada rasa takut.
“Pak, ojek” katanya.
“Oh, mau kemana ning......?” tanya tukang ojeknya, Bapak setengah baya menghampirinya dan menawarkan jasanya.
“Saya mau ke Desa Gelang Pak” Jawabnya.
“Sampean ini dari mana?” tanya Bapak tadi.
“Saya ini dari rumah sakit Pak, keluarga saya ada yang sakit, jadi sekarang saya harus pulang untuk mengambil barang-barang yang dibutuhkan” ia berbohong karena berusaha menyelamatkan dirinya dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Bapak itu pun mengantarnya walaupun jalan menuju kesana terjal menanjak dan berbatu tajam, Bapak itu ada yang dikenalinya di Desa Gelang, sehingga dia membantunya untuk mengantar sampai ke tempat yang dituju olehnya.
Ibu sangat bersyukur bertemu dengan Bapak-bapak yang telah mengantarnya.
“Alhamdulillah ya Allah.......” tanpa terasa air matanya jatuh. Ia tidak membawa apa-apa, hanya satu botol air mineral yang menyertainya mulai dari Jakarta sampai sekarang. Sesampainya di Desa Ibu menyodorkan uang sebagai ongkosnya.
“Pak, ini” sambil menyodorkan uang sebagai ongkos. “Maaf sedikit” kata Ibu lagi.
“Dak papa Ning....., rumah sampean dimana ning?” tanyanya.
“Rumah saya dibelakang rumah ini pak” seraya menunjuk rumah yang ada dihadapannya.
“Mari Ning.” Ia mengangguk setelah mengucapkan rasa terima kasihnya. Ucap syukur tidak lepas dari bibirnya.
Suasana di Desanya sunyi. Sampai dihadapan rumah-rumah yang berjejer dengan rapi, hanya ada satu rumah yang lampunya masih hidup menandakan kalau penghuninya masih belum tidur. Ia melangkahkan kakinya mantap dan mengetok daun pintu rumahnya dengan perlahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIBALIK SELENDANGMU
General FictionDiriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, "Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah seraya bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak mendapatkan perlakuan terbaik dariku?" Rasulullah bersabda, "Ibumu". Orang itu bertanya lagi, "...
