WAKTUNYA SEKARANG

4 1 0
                                        

Bagian Keempat Belas


Waktunya Sekarang



MASA ITU kini tinggal kenangan yang tidak mungkin aku lupakan, masa yang telah mengantarkan aku kepada ku yang sekarang ini. Kini aku berdiri dengan menjadi seorang dosen di sebuah Fakultas Hukum di Jember, dan mengajar anak-anak SMP I didekat ruman, guna mengamalkan ilmu yang telah didapatnya, aku ingin terus belajar dan belajar. Canda, tawa, tangis, sedih, bahagia, kini sekarang tinggal ceritaku yang ku ceritakan kepada keponakan dan adek-adek tetanggaku.


Aku duduk dihadapannya, bersimpuh merebahkan kepala kepangkuannya. Tangan-tangan kasarnya yang telah merawat dan membesarkanku dengan perjuangan dan kerja kerasnya kini telah terbayar walaupun tidak bisa secuilpun menandingi perjuangannya. Sekarang waktunya aku merawat Ibuku, ia tidak boleh bekerja seperti dulu, sekarang waktunya aku bekerja untuknya, memenuhi kebutuhannya. Aku bahagia dan mengerti apa yang dulu Ibu lakukan, aku melakukannya juga.


Tujuanku memenuhi kebutuhan Ibu, Ibu menginginkan kebahagianku dan akupun bahagia, masa depan cerah, dan tidak lain aku akan selamanya bahagia jika selalu dalam keridloannya. Tanpa ridlou mungkin aku tidak akan bisa seperti ini.


Aku sadar, aku tumbuh dibawah selendang perjuanganmu, ketabahan dan kesabaranmu. Dibalik selendang itu aku ditempa untuk menjadi orang yang kau inginkan. Kuat dan tabah menghadapi berbagai permasalahan dunia dengan bersikap tenang dan tidak menggantungkan hidup pada orang lain. Meskipun Ibu berperan dua peran penting dalam satu genggaman tangannya, ia masih bisa mengubah kesedihannya dengan senyuman yang begitu khas di wajahnya. Terima kasih, itu idaklah cukup bagiku, kata maafpun masih kurang jika ingin membalas jasa-jasnya, tapi Ibu tidak butuh itu semua, yang butuhkan hanya satu pengakuan dari anak-anaknya bahwa ia adalah Ibu yang telah mengandungnya.


Jika ingat Ibu, apakah ibu meminta kita menjadi orang sempurna, tidak, bukan itu ia selalu mengatakan jadilah anak yang baik.


Apakah Ibu meminta materi ketika kita sudah punya uang, tidak, Ibu hanya mengatakan kamu lebih membutuhkan.


Apakah ketiak punya pangkat dan martabat apakah Ibu meminta menyandingkan namanya disebelah namamu yang ber titel, ternyata tidak, meskipun ia tidak di sebut disebelah nama itu, ia masih bahagia, karena melihat keberhasilanmu.


Jangan pernah meremehkannya, walaupun ia tidak mengenyam pendidikan tinggi, karena doa-doanya yang telah me ngantarkan kita menjadi orang-orang sukses.


Begitu keramatnya Beliau menjadi seorang Ibu, sehingga Rasulullah ketika ada seorang laki-laki bertanya siapa yang berhak mendapat perlakuan baiknya. Rasulullah langsung menjawab Ibumu sampai tiga kali, setelah itu baru Rasulullah menjawab Ayahmu. Bukankah ini suatu bukti bahwa Ibu memang keramat, apalagi doa-doanya.


Jangan pernah melihat orang besar itu dari sisi luarnya, tapi lihatlah siapa seseorang yang telah berdiri dibelakangnya, sehingga ia menjadi orang-orang yang sukses. Ibu begitu berperan penting dalam kehidupan kita, kita begitu sangat dekat dengannya. Kitanya saja yang tidak begitu menghargai apa yang telah ia lakukan demi masa depan kita.


Untuk mu Ibu kami ucapkan terima kasih yang tiada tara.


Kepadamu Ibu, kami persembhakan kehidupanku.


Karena adanya aku tidak lain semua dari perjuanganmu.


Ridlomu, ya, hanya ridlomu yang telah mengantarkan kami


Menggapai apa yang kami impikan


Tauladanmu Ibu memberi cerminan yang murni


Apakah kau mengajariku salah, tidak!


Malah Ibu selalu berpesan berjuanglah Nak....


Raihlah masa depanmu, jangan berkecil hati


Ibu selalu mendukungmu.


Semangat


Bukankah itu pesanmu, Ibu.



DIBALIK SELENDANGMUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang