Nexstars-17 (Mistake)

108 3 0
                                    

“Bukan. Bukan kamu yang mengumbar harapan. Hanya saja aku yang terlalu percaya diri.”
-Alya Syaqila Wardhana.

Happy reading.

🌻

Pagi ini, suara tumpuan kaki berjalan terdengar di tangga rumah milik keluarga Wardhana. Itu Alya. Cukup terkejut memang melihat dirinya bersiap untuk sekolah lebih pagi untuk hari ini. Tidak seperti biasanya.

Sampai ketika Alya meghampiri ruang makan, tatapannya bingung. Tak ada seorangpun mengisi kursi makan rumah ini. Begitu juga dengan meja makan yang nampak kosong. Hanya tersisa roti dengan selai coklat yang tersusun rapi.

Alya dibuat bingung, tanpa babibu dirinya langsung menuju ke kamar milik Maria. Bunda nya.

Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya Alya ketika melihat bunda nya terbaring lemas diatas kasur dengan mata yang tertutup. Terlihat bagian bawah matanya yang sedikit menggelap. Ia nampak kelelahan.

Alya tertegun sebentar, menyadari kedua kakak kembarnya ternyata terduduk disofa panjang kamar milik Maria.

"Bunda, bunda kenapa?? Bunda sakit??" Ucap Alya penuh khawatir ketika menghampiri Bunda nya. Menggenggam erat tangan itu yang terasa dingin menyentuh telapak tangan Alya.

Bunda nya tersadar sedikit, lalu sedetik kemudian membuka kedua matanya perlahan. Ia tersenyum, "Bunda gapapa, Hari ini sarapan roti dulu ya? Maafin bunda."

Alya menggeleng dengan cepat, semakin menggenggam tangan Maria erat. Ingin menangis rasanya melihat Bunda nya terbujur lemas seperti ini.

"Bunda ngga usah mikirin sarapan Alya hari ini. Bunda sakit. Bunda harus istirahat. Bunda mau makan apa?? Mau Alya buatin bubur?"

"Lo berangkat sekolah aja. Hari ini ada ujian praktek di Lab IPA kan?"
Alya menoleh kebelakang, melihat Deva sebentar lalu kemudian mengangguk.

"Tapi gue gamau kemana mana. Mau jagain bunda aja. Biar nanti ujian susul-"

"Biar gue sama Deva yang jagain Bunda. Fokus sekolah dulu." Kini Vano membuka suara.

Vano memang benar, tapi melihat Bunda nya seperti ini membuat Alya tak tega untuk meninggalkan Maria.

"Ayah mana?" Alya bertanya karena tak menemukan sosok Ayah nya sejak pulang sekolah kemarin.

"Ayah nggak-"

"Ayah lagi ada urusan. Nanti juga pulang. Gausah dipikirin." Potong Vano cepat ketika Deva hendak menjawab pertanyaan tersebut.

Keadaan pun seketika hening. Alya merasa bingung sekaligus sedikit kecewa dengan Ayah nya. Bagaimana bisa ia tak pulang sejak kemarin bahkan ketika Bunda nya jatuh sakit?

"Bunda nggak papa, cuman kecapekan. Alya sekolah aja, biar abang Vano sama Deva yang jagain Bunda." Maria kembali meyakinkan, membuat Alya mau tak mau menyetujuinya. Ujian praktek hari ini juga penting, tidak mungkin Alya lewatkan begitu saja mengingat perjuangannya belajar mati matian siang malam untuk ujian hari ini.

"Ayok gue anter." Deva bangkit dari duduknya, mengambil jaket hitam pekat lalu mengambil kunci motornya.

"Alya berangkat dulu ya, Bunda. Nanti kalo udah pulang sekolah, giliran Alya yang jagain Bunda. Bunda jangan lupa minum obat nya, nanti Bang Deva Alya suruh beliin bubur ayam buat sarapan Bunda." Alya mengecup kening Maria, lalu mencium buku tangannya, Dan memutuskan untuk berangkat ke sekolah.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 11, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

NEXSTARSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang