Jumat, 15 November 2016.
Jika cinta datang karena sosok 'dia' yang patut dipuji, itu bukan cinta, tetapi kagum. Tetapi jika cinta datang dari hati yang tulus dan sulit untuk dijelaskan, itu baru namanya cinta. Lalu bagaimana jika cinta datang karena keduanya?
-Alya Syaqila.🍁
-
"BANG BURUAN NAPA BANG! GUE UDAH MAU TELAT NIH!" Teriak gadis bersurai coklat tua itu sambil menuruni anak tangga rumahnya dengan terburu buru. Sial, dia hampir telat lagi sepertinya.
Jangan salahkan Alya, ini semua salah Devi yang mengajak nya streaming film semalaman sampai akhirnya mereka baru bisa tidur pukul 01.00 malam. Dan kini waktu sudah menunjukkan pukul tujuh dan 15 menit lagi bel akan segera berbunyi.
"Santuy napa coi, buru buru amat." Sahut gadis berambut hitam pekat dengan kacamata silinder yang bertengger di matanya. Dia Devi, siapa lagi memang?
"Heh Beru! Lu niat sekolah kaga? Liat tuh udah jam berapa."
"Eh Mimi peri! Lu lupa ya hari ini ada acara maulid nabi? Telat juga gapapa kata babe. Sans." Jawab Devi enteng sambil mengunyah roti selai yang disiapkan bunda nya Alya.
Alya yang sedang tergesa gesa mengecek tas sekolahnya, seketika terhenti. "Lah? Apa iya? Ko gue gatau?"
"Kuping lu mah disumpel mulu pake earphone makanya jadi budek akut gitu. Jelas jelas kemaren pak Udin udah ngoceh panjang lebar. Pake toak pula." Cerocos Deva yang baru datang dengan pakaian sekolahnya.
"Woy bang! Lu niat sekolah kaga sih? Baju digulung, kerah kebuka, dasi di tenteng, buku gabawa. Astagfirullah..." Ucap Devi sambil mengusap dadanya melihat tingkah laku Deva.
"Bacot lu. Tapi gini gini gua ganteng yakan? Buktinya cewe cewe banyak yang nempel ke gue kaya cicak."
"Najis. Badboy kok pake kacamata silinder. Geli banget hahaha." Ejek Alya sambil menjulurkan lidahnya ke arah Deva.
"Bodoamat yang penting babang tetep ganteng. Ngalahin Cameron Dallas. Yakan, no?" Lagi lagi Vano yang jadi sasaran.
"Bodoamat." Jawab Vano acuh
"Vano berangkat,Bun." Bunda pun mengangguk.
Dengan cepat vano mengambil kunci motor ninja nya lalu pergi meninggalkan mereka berempat yang sedang termangu, kecuali bunda.
"Ckckck...cowok idaman banget sih! Kalo bukan Abang sepupu nih ya, udah gua gebet sampe dapet."
"Kenapa ga gebet Abang aja, dek? Kan mukanya sama" mulai lagi, Deva mengedipkan matanya sebelah ke arah Devi seraya menggoda.
"Heh mirror nape tong! Lu cakep tapi koplak. Bagaikan langit dan bumi sama bang vano." Ledek Devi tak mau kalah. Kini Alya sudah menahan tawanya untuk tidak terbahak bahak.
"Eh kutukupret! Kalo ngomong––"
"Udah ah, ayok berangkat." Kata Alya ketika selesai dengan ejekannya membuat Deva seketika mencibikkan bibirnya kesal.
"Berangkat ya Bun, assalamualaikum." Ucap ketiganya serentak lalu melesat keluar untuk naik ke mobil dan berangkat ke sekolah.
---
(Listening : berawal dari tatap- Yura. biar feel nya dapet hehe.)
07.15 a.m
Benar apa yang dikatakan Deva dan Devi. Sekarang sudah bel masuk. Tapi ternyata gerbang SMA Dharma Satya masih terbuka lebar.

KAMU SEDANG MEMBACA
NEXSTARS
Random"Tadi pagi gue liatin Clarissa. Bukan lo. Ngga usah ge er. Gue gapernah tertarik sama lo. Lo bukan tipe gue." -Alvaro Bramashta. "Prinsip awalku adalah untuk diperjuangkan. Bukan memperjuangkan. Tapi kenapa takdir mengatakan sebaliknya?" -Alya Sya...