Saat yang ditunggu pun tiba. Alya yang sejak tadi sedang menata rambut dan wajahnya, hanya menggeram kesal karena Deva yang tak henti hentinya berteriak menyuruh Alya untuk lebih cepat.
Deva dan vano sudah siap sejak tadi. Dan kalian tau? Sudah hampir satu jam mereka menunggu sang tuan putri selesai dengan dandanannya.
Tidak terlalu tebal, hanya bedak tipis, lipgloss merah muda, dan tak lupa rambutnya yang Alya biarkan terurai bebas.
"Dah beres. Eh, gue kaga kaya cabe cabean kan?" Tanya nya pada dirinya sendiri yang kini sedang berdiri di kaca besar kamarnya.
"Engga deh kayanya. Malah gue kaya bidadari––"
"WOY ALYA, GUE TINGGAL DEH YAAAA!!!"
teriak seseorang dari luar pintu. Sudah ditebak, itu pasti suara Deva tentu saja. Lagipula mana mungkin vano akan berteriak seperti itu."SABAR NGAPE! RESE AMAT LO!" Balas Alya lagi dengan berteriak.
Diambilnya tas kecil berwarna silver, membuat warna nya sangat serasi dengan dress yang dipakai Alya. Dress dengan warna putih ditambah pita peach dibagikan tengahnya membuat dress itu terlihat sangat cantik. Persis seperti gadis yang memakainya.
"GUE ITUNG SAMPE TIGA KALO LO GA KELUAR LO BAKAL GUE––"
Tak berapa lama, pintu berpelitur coklat tersebut terbuka. Menampakkan Alya yang sedang memasang wajah datarnya.
"SUBHANALLAH ADEK GUE..." Kedua bola mata Deva kini sudah berbinar menatap adik nya tak percaya.
"Lo cantik banget hari ini dek, sumpah. Ga kaya biasanya! Ini beneran elo,kan al?!"
"Lo muji atau ngejek gue sih? Nyebelin banget ih." Jawab alya kesal.
"Sumpah deh gue gaboong. Lo cakep bet anjir!" Lagi lagi Deva memuji Alya yang memang hari ini, dia terlihat benar benar cantik nan anggun. Tidak ada wajah jutek nya sama sekali.
"Bacot lu––"
"Masih lama ga?" Ucap seseorang tiba tiba di belakang tubuhnya Deva. Disitu Vano yang terlihat gagah dengan tuxedo hitam nya sedang berdiri sambil menatap datar kedua adiknya.
"Nah kan bang vano dah nunggu daritadi. Ayok buruan. jangan bikin singa ngamuk geblek. Bahaya!" Kata Alya sambil tersenyum ke arah Vano.
"Yaudah yuk."
Ketiganya pun akhirnya berjalan beriringan untuk bergegas menuju mobil.
"Yaallah..anak anak bunda."
Ketika mendengar suara itu, ketiga nya pun berbalik. "Eh bunda?"
"Kalo kaya gini sih, bisa bisa anak bunda jadi bahan tontonan." Ledek bunda kepada Deva, vano, dan juga alya.
"He he he, bisa aja bunda. Kita pamit ya Bun."
Setelah mencium tangan bunda nya, mereka bertiga akhirnya pergi dan melesatkan mobil nya untuk menuju ke SMA Dharma Satya.
---
"Woy zah, Alya kemana sih? Daritadi kaga muncul muncul! Bukannya support gue kek, apa kek! Malah ngaret gini!" Gisel mengibas ngibaskan tangannya di udara karena hari semakin terik, ditambah lagi dengan pakaian yang berbahan panas yang sedang ia kenakan, membuat mereka benar benar tidak tahan.

KAMU SEDANG MEMBACA
NEXSTARS
Random"Tadi pagi gue liatin Clarissa. Bukan lo. Ngga usah ge er. Gue gapernah tertarik sama lo. Lo bukan tipe gue." -Alvaro Bramashta. "Prinsip awalku adalah untuk diperjuangkan. Bukan memperjuangkan. Tapi kenapa takdir mengatakan sebaliknya?" -Alya Sya...