Bertemu denganmu, adalah hal yang tak terduga. Merasa nyaman dalam genggamanmu pun, rasanya tak percaya. Tetapi ini nyata.
----
Detik demi detik, ruangan UKS yang sejak awal terasa sunyi, kini semakin bertambah sunyi ketika Alya dan Alvaro berada di dalamnya.Baru beberapa menit yang lalu mereka berdua sampai di ruangan beraroma obat ini. Bahkan baru saja, Alvaro menurunkan gadis bersurai coklat itu dari gendongannya, dan berjalan menuju lemari yang dipenuhi banyak obat obatan disana.
Alya yang masih terpaku, hanya mengikuti alur. Kaki nya yang memiliki luka di bagian lutut, kini terayun di udara seolah tak ada sakit sedikitpun.
Matanya menatap sekeliling, lalu kembali terfokus ke arah pria es tersebut yang kini tengah sibuk mengacak acak lemari, untuk mencari sesuatu yang dimaksud.
"Cari obat luka aja, ngaret banget!" Celetuk Alya tiba tiba dengan suara yang sangat kecil. Tapi sialnya, Alvaro mendengar hal itu sontak menengok, dan melemparkan tatapan tajamnya ke arah Alya.
Alya yang melihatnya, justru terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal sama sekali.
"Bercanda kali! Serem banget muka Lo, kaya kakek gayung!" Katanya.
Alvaro tak memperdulikan celoteh Alya yang tak berguna itu, lalu kembali terfokus mencari kotak obat yang di inginkan nya.
Setelah ketemu, Pria bertubuh tegap itu langsung berdiri dan menghampiri Alya yang masih terduduk di ranjang UKS dengan santai nya.
Alya melirik Alvaro sedikit yang masih fokus berjalan, lalu mengigit bibir bawahnya mencoba menahan kedutan dari kedua bibirnya.
Hatinya sekarang sudah bersorak senang. Karena dia berfikir, pasti Alvaro mau nolongin gue!Brug.
"Eh ayam ayam ayam!" Kaget Alya ketika dengan kasar kotak kecil bertuliskan P3K itu dilemparkan ke arahnya lalu terjatuh tepat di atas rok abu abu miliknya.
"Lo gila ya?! Kalo gue jantungan, Lo mau tanggung jawab?"
Jangankan mau ngobatin gue, ngasih obat nya aja ga ada sopan sopan nya banget! Sialan!
"biasanya juga Lo selalu jantungan kalo deket gue." Balas Alvaro enteng, lalu menyandarkan tubuhnya ke salah satu sisi tembok, dengan tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celana. Alya tidak bisa berbohong, jika saat melakukan hal tadi, Alvaro benar benar terlihat– sangat tampan.
"Bukan gue doang kali yang jantungan! Semua orang juga bakalan gitu kalo liat Lo muncul tiba tiba kaya jelangkung gitu!" Balas Alya tak mau kalah.
"Lo nya aja."
"Gue? Gue apa, hah?"
"Deketin gue terus."
"ENAK AJA–––"
"Gausah ngebacot, luka Lo mau dibiarin sampe besok?"
Ya seharusnya lo itu peka, bego!
"Ya-yaudah biarin aja sampe besok. Luka gue ini!" Balas Alya dengan nada acuh lalu membuang pandangannya dari Alvaro.
"Yaudah."
Dengan santai, cowok pecinta club Barcelona tersebut meninggalkan Alya, tanpa memperdulikannya sedikitpun. Bahkan wajah gadis itu sudah berwarna merah padam, bersiap untuk meledak.
Tahan dia Al, tahan! Bikin dia luluh!
"Ih masa harus gue paksa sih? Ntar kalo dia marah lagi, gimana?"

KAMU SEDANG MEMBACA
NEXSTARS
Random"Tadi pagi gue liatin Clarissa. Bukan lo. Ngga usah ge er. Gue gapernah tertarik sama lo. Lo bukan tipe gue." -Alvaro Bramashta. "Prinsip awalku adalah untuk diperjuangkan. Bukan memperjuangkan. Tapi kenapa takdir mengatakan sebaliknya?" -Alya Sya...