DIJEBAK

268 20 3
                                        

Bel istirahat berbunyi. Seluruh siswa berhamburan keluar menuju kantin untuk mengisi perut yang sedari tadi meronta-ronta.

Luna berjalan menuju kantin bersama Liah, mereka duduk di pojok kanan alasannya Luna ingin makan sambil mentap Raffi yang kebetulan bersebrangan tempat duduknya.

Dari kejauhan terlihat tiga gadis yang sedang berjalan ke arah Luna dan Liah.

"Oh, jadi ini yang namanya Luna, yang terus kabarnya lagi deket sama  Raffi, cih cantikan juga gue"
Gadis bernama Rasya tersebut menatap Luna tak suka.

"Gue ingetin ya sama lo, jangan pernah deket-deket sama Raffi kalo lo gak mau berurusan sama kita, ngerti lo!"
Ancam Rasya sambil menunjuk Luna.

Bukan Luna namanya jika takut dengan ancaman dan bentakan itu.
Luna bangkit dari kursinya, dan berjalan ke arah Rasya.

"Hello, gue gak kenal ya sama lo, dan soal Bintang terserah gue dong, emang lo emaknya seenak jidat ngelarang gue deket sama Bintang"
Luna menatap Rasya sambil tersenyum sinis.

"Oh, berani lo sama gue, lo gak tau gue siapa?"

"Siapa pun lo, gue gak peduli,mau lo anak pejabat kek anak siapa gue gak peduli, selagi gue gak salah, gue bisa lakuin apa yang gue mau, ngerti lo!"

Luna berkata dengan penuh penekanan. Seluruh isi kantin kagum pada Luna.

karena selama ini belum ada yang berani melawan Rasya seperti itu, hanya karena Rasya adalah cucu dari pemilik sekolah itu.

"Heh, gue itu cucu dari pemilik sekolah ini, gue gak akan segan-segan ngeluarin lo dari sekolah ini"

Lagi-lagi Rasya mengancam, Luna tertawa terpingkal-pingkal mendengar ancaman Rasya.

Rasya menatap Luna tak percaya, bisa-bisanya Luna menertawainya seperti itu.

"Aduh, sakit perut gue ketawa, lo cuman cucu dari pemilik sekolah? Bangga lo?
Lo denger ya, sehebat apapun lo mau ngeluarin gue, lo gak bakal bisa, coba lo pikir deh pake otak cerdik lo itu, emang ada ya pemilik sekolah ngeluarin murid yang sama sekali gak bermasalah dan buat onar di sekolah? Gak ada kan, aduh otak lo mana si cantik?"

Luna kembali menertawakan Rasya, bukan hanya Luna seisi kantin tertawa terbahak-bahak, Rasya disudutkan saat ini.

"Awas lo!"
Rasya langsung pergi meninggalkan kantin karena malu ditertawakan. Tidak ada yang salah dari Luna.

Dia hanya sekedar membela diri saat disudutkan seperti itu.
Raffi yang melihat kejadian diam-diam tersenyum tipis.

"Ternyata lo gak berubah, masih sama seperti Luna gue yang pemberani"
Raffi kembali memainkan ponselnya setelah perang ke-3 selesai.

               ***

Luna sedang duduk di kelas bersama Liah. Sesekali mereka tertawa terbahak-bahak berdua.

"Gilaa, lo berani banget lun sama Rasya,padahal selama ini gak ada yang berani lho ngelawan Rasya kayak lo"
Liah kagum pada temannya yang satu ini.

"Sekali-sekali mah, harus digituin tuh anak, biar gak seenaknya nyuruh orang"

"Iya juga sih, bangga gue punya temen kayak lo"

"Gue gak anggap lo temen gue ya, enak aja"
Luna terkekeh dengan candaannya barusan.

"Gue tabok lu ya"

"Ampyuun ampyunn"
Luna memperagakan gaya alay bin lebay.

"Cih najongg"
Sedetik kemudian mereka tertawa bersama.

Tak lama kemudian Rino dan Raka menghampiri dua gadis itu.

"Hay Lun"
Rino dan Raka langsung duduk di samping Luna.

"Jadi Luna doang nih yang disapa"
Liah sedikit menyindir Rino.

"Eh,kok ada suara tapi gak ada orangnya ya"
Rino mulai menjahili Liah.

"Gue masukin boncabe mulut lo mau? Orang cantik gini masa gak keliatan sih?"
Liah cukup kesal dengan candaan Rino.

"Cantik dari Hongkong"
Rino mengejek Liah. Liah yang kesal langsung meengejar Rino yang sudah lari duluan, terjadi lah aksi kejar-kejaran pemirsa.

"Yak, dunia serasa milik berdua, yang lain mah Bon"
Raka berteriak cukup keras hingga membuat Liah dan Rino langsung berhenti.
Luna dan Raka hanya tertawa  melihat Liah seperti ingin mencekik Rino.

                 ***
Bel pulang sudah lama berbunyi, tapi Luna masih belum pulang, alasannya dia ingin piket kelas terlebih dahulu.

Setelah selesai Luna berjalan ke arah parkir, sekolah sudah sepi hanya ada Luna seorang.

Tanpa sepengetahuan Luna, ternyata Raffi sedang mengawasi Luna karena takut terjadi apa-apa.

Terlihat Luna sedang menerima telepon dari seseorang. Raffi mendengar Luna berbicara dengan orang tersebut.

"Lun,ini gue Liah.bantuin gue dong, motor gue mogok nih. Ini gue aja pinjem ponsel orang, ponsel gue ketinggalan untung gue inget nomor lo. Bantuin gue ya"

"Iya, sekarang posisi lo dimana?"

"Gue di jalan Ahmad Yani, yah sekitaran situ deh"

"Ok gue otw sekarang"
Luna segera mengayuh sepedanya ke jalan Ahmad Yani, Luna menggunakan ponselnya untuk melacak lokasi.

"Jalan Ahmad Yani?, itu kan jalanan sepi, perumahan juga jarang-jarang ada disitu, apa iya yang nelpon Luna itu Liah. Cih bodo amat, gue gak peduli, biarin aja"

Raffi sedari tadi bicara sendiri. Karena Luna sudah pergi, Raffi pun memilih untuk pulang.
      
                ***
Luna sudah sampai di Jalan Ahmad Yani yang di arahkan oleh ponselnya. Karena sudah sore,di sekitaran jalan itu nampak seperti tidak berpenghuni.

Hanya terdapat rumah-rumah tua. Karena perasaan Luna tidak enak, dia pun menyalakan Perekam suara untuk berjaga-jaga jika nanti sesuatu yang buruk akan terjadi.

Lalu Luna simpan hpnya di kantong rok yang dia buat sendiri, kantong tersebut 100% tidak terlihat oleh siapapun.

Jadi orang tidak akan tau jika Luna menyimpan hp atau barang apapun di kantong itu. Ternyata seorang Luna jenius sekali otaknya.

Luna celingukan sambil mencari Liah. Luna tidak menyadari ada tiga orang yang membututinya.

Tanpa aba-aba seseorang sudah membekap mulut Luna dengan kain yang disemprotkan cairan bius.

Luna sempat memberontak, tapi tenaga mereka cukup kuat untuk melawan Luna. Seketika Luna pun pingsan dan tidak sadarkan diri.

               ***

FRIENDZONE Area (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang