TAMU TAK DIUNDANG

313 23 0
                                        

Luna baru saja sampai dirumahnya, hari pertama yang cukup mengesankan bagi Luna. Luna masih saja tersenyum mengingat ekspresi Raffi memarahinya.

"Mamih pasti belum pulang, oh iya gue telpon mamih ah, gue mau tanya alamat bunda Linda gue pengen ketemu sama bunda"
Luna pun mencari kontak mamihnya dan menelpon.

"Halo Assalamualaikum mih,Luna udah pulang, oh iya mih kirim alamat bunda Linda dong mih, Luna pengen kesana"
Ucap Luna melalui telponnya.

"Waalaikumsalam, kamu udah pulang, makan dulu gih makanan udah mamih siapin di meja makan, iya nanti mamih kirim alamatnya, mamih tutup dulu ya nak, assalamualaikum"
Riska menutup telpon secara sepihak.

"Waalaikumsalam mih"
Luna meletakkan ponselnya di atas meja dan segera ke kamar untuk ganti baju.

Setelah selesai Luna langsung menuju meja makan untuk makan siang.

Seusai makan, Luna berjalan menuju sepedanya. Mamihnya sudah mengirimkan alamat bunda nya.

Karena tidak terlalu jauh, Luna hanya menggunakan sepeda.

Cuaca hari itu cukup teduh,jadi tidak terlalu gerah. Luna bersepeda sambil sesekali bernyanyi dengan ria.

Luna pun sampai di depan rumah yang cukup besar dan modis.
Luna memencet bel dan mengucapkan salam.

"Assalamualaikum"
Terdengar sahutan dari dalam rumah dan pintu pun terbuka dan menampakkan wanita seumuran dengan mamihnya dan Luna sangat mengenali wanita itu.

"Bundaaa,ini Luna, Luna kangen banget sama bunda"
Luna langsung memeluk Linda, Linda cukup terkejut.

Riska memang sudah pernah mengabari Linda jika dia akan pindah lagi ke Jakarta, tapi Riska tidak memberitahu kapan dan tanggal berapa.

"Luna ini kamu sayang, ya Allah makin cantik kamu nak, bunda juga kangen sama kamu sayang"
Linda kembali memeluk Luna dengan penuh kasih sayang. Luna pun diajak masuk kedalam rumah.

"Raffi, turun dulu nak"
Teriak Linda dari ruang tamu.

Raffi pun keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju ruang tamu.
Melihat siapa yang datang Raffi langsung masuk lagi ke kamarnya.

"Raffi kok gak turun-turun ayo dong keluar"

"Gak bun, Raffi sibuk"
Teriak Raffi dari kamarnya tapi masih terdengar oleh Linda dan Luna.

Luna hanya tersenyum mendegar alasan Raffi. Luna tahu kenapa Raffi enggan untuk turun. Raffi tidak ingin menemuinya.

"Udah bun, Bintang itu masih marah sama Luna, Luna ngerti kok,Luna ke atas ya bun mau oet Bintang"
Ucap Luna sambil tersenyum dan segera ke atas menuju kamar Raffi.

Sampai di depan kamar Raffi Luna lansung menggedor pintu Raffi.

"Bintang, buka pintunya dong, kita jalan-jalan yuk".
Ucap Luna dari luar.

"Pergi lo,jangan ganggu gue"
Teriak Raffi dari dalam kamarnya.

"Gue masuk ya"
Luna membuka kamar Raffi dan duduk di atas kasur Raffi.

Raffi sedang rebahan di kasurnya sambil memainkan ponsel, melihat Luna yang sudah ada di kamarnya Raffi langsung duduk dan menatap Luna tajam.

"Gue gak nyuruh lo masuk ya, keluar lo"
Usir Raffi, begitu bencinya Raffi kepada Luna.

"Gak mau"
Ucap Luna sambil memeletkan lidahnya ke arah Raffi.

"Keluar gak! Apa perlu gue seret lo supaya keluar!"
Ucap Raffi dengan nada dinginnya.
Luna tidak merespon perkataan Raffi dia masih sibuk dengan ponselnya.

Raffi langsung berdiri dan menyeret Luna layaknya karung beras.

"Ih Bintang sakit tau"
Ucap Luna saat Raffi berhasil menyeretnya keluar kamar.
Raffi tidak merespon dan langsung menutup kaamrnya.

"Tidur yang nyenyak ya Bintang kecil ku".
Ucap Luna dari luar.

"Cih, najis"
Raffi mendecih mendegar ucapan Luna barusan.

Luna segera menuruni tangga dan menemui Linda yang sedang duduk membaca majalah.

"Bun, masak kue yukk"
Ajak Luna kepada Linda.

"Kue apa sayang"
Tanya Linda kepada Luna.

"Emm, Luna pengen Ayam panggang bun, yukk"
Rengek Luna.

"Itu bukan kue namanya"
Linda tertawa mendengar permintaan Luna.

"Hehe iya yah, intinya Luna pengen Ayam panggang buatan bunda"

"Yaudah, yuk kita ke pasar dulu beli bahan-bahannya"

"Kuyy bun"
Luna menggandeng Linda keluar rumah menuju pasar. Karena jaraknya cukup dekat Luna dan Linda memutuskan untuk berjalan kaki saja.

               ***

Raffi masih berdiam diri di kamar sambil memainkan ponselnya.
Karena Raffi sudah tidak memdengar suara Luna.

Raffi pun memutuskan untuk keluar kamar hanya untuk melihat apakah Luna sudah pulang atau belum.
Raffi tidak melihat siapa pun di ruang tamu.

"Bun, bunda dimana?"
Raffi memanggil Linda di ruang tamu, sambil mencari keberadaan bundanya.

"Eh den Raffi, si ibu lagi pergi den ke pasar"
Ucap asisten rumah tangganya Raffi.

"Oh makasih bi"
Raffi langsung kembali ke kamarnya, hanya untuk sekedar rebahan di atas kasurnya.

Tidak lama kemudian terdengar suara bundanya yang baru pulang.

Raffi bergegas turun menemui bundanya. Pemandangan tak enak langsung dilihat oleh Raffi, ternyata Luna masih ada dirumahnya.

"Eh kok lo belum pulang sih, pulang sana!!"
Kata Raffi mengusir Luna.

"Raffi, gak boleh gitu sama Luna".
Linda memarahi Raffi.

"Kenapa gak di usir aja si bun, nyusahin tau gak"
Rengek Raffi kepada Linda.

"Sekali lagi kamu mau ngusir Luna, uang jajan kamu bunda potong, mau?
Ancam Linda.

Luna diam-diam memeletkan lidahnya ke arah Raffi. Amarah Raffi sudah sampai di ubun-ubun, jika bukan karena bundanya Luna pasti sudah ditendang oleh Raffi.

"Yuk sayang kita ke dapur"
Ajak Linda sambil menggandeng tangan Luna.

"Yuk bun"
Luna berjalan menuju dapur bersama Linda. Raffi masih saja berdiri dengan tatapan tajam tak suka.

Luna sedang membantu Linda memasak ayam panggang. Karena tidak banyak yang harus dikerjakan.

Linda menyuruh Luna untuk ngobrol dengan Raffi diruang tamu. kebetulan Raffi masih duduk disana.

Luna berjalan ke arah Raffi, Raffi menyadari kedatangan Luna dan sedikutpun tidak peduli.

"Ngapain lo masih disini? Udah deh lo pulang aja"
Lagi-lagi Raffi mengusir Luna.

"Gak mau, segitu bencinya Bintang sama Luna sampai ngusir Luna kayak gitu?"
Tanya Luna kepada Raffi yajg memalingkan wajahnya.

"Iya, gue sangat-sangat benci sama lo Luna Atria"
Kata Raffi dingin.

"Jangan terlalu benci, ntar Bintang jatuh cinta sama Luna, Luna gak mau tanggung jawab ya"
Kata Luna dia sangat tidak peduli dengan apa yang dikatakan Raffi.

"Cih, jatuh cinta sama orang yang suka ninggalin tanpa kejelasan,najis"
Raffi mendecih.
Luna hanya tersenyum mendengarkan perkataan Raffi.

Setidaknya Raffi masih ingin meresponnya daripada mendiamkannya. Karena sudah terlalu lelah.

Luna langsung tertidur di tempat, Raffi sekilas menatap Luna yang sudah tertidur pulas.

"Kenapa sih Lun, lo harus hadir lagi di saat gue udah benci banget sama lo"
Sejujurnya Raffi tidak tega berkata kasar kepada Luna, hanya saja rasa bencinya lebih besar daripada belas kasihannya.

               ***

FRIENDZONE Area (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang