Bestfriend

751 63 5
                                        

"Sahabat? Kumpulan orang yang bisa melakukan hal gila dan memalukan bersama-sama"

--Faya--


Mira, 18 tahun.

Hawa panas mulai menjalar di seluruh penjuru Surabaya. Betapa tidak, meskipun tiap kelas di SMA Kemala sudah memakai pendingin ruangan, nyatanya rasa gerah itu masih saja dirasakan oleh sebagian murid di sana. Terkecuali untuk sebagian siswa laki-laki yang memilih terus melanjutkan permainan futsal mereka di tengah lapangan yang tersengat terik matahari. Sebenarnya mereka itu kebal panas atau memang doyan kepanasan sih.

Ujian kelulusan sudah sangat dekat, murid kelas 12 terus memanfaatkan waktunya untuk belajar. Hasil ujian kali ini menjadi penentu untuk melanjutkan sekolah ke jenjang universitas. Namun berbeda dengan murid lainnya, Mira tampak lebih banyak melamun, menatap lurus ke luar jendela kelas dengan tatapan kosong, dan mengabaikan tumpukan soal latihan di hadapannya.

.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

.

"Ra, Mira!!" tegur Faya disampingnya.

"Hmm? Apa? Gurunya datang?" tanya Mira tergagap.

"Gurunya lari, Ra. Bosan lihat lu bengong dari tadi," jawab Yuna. Karibnya yang duduk di bangku depan meja Mira.

Vina yang duduk di sebelah Yuna,  hanya tersenyum melihat karibnya itu terus-menerus melamun. Untung saja Mira bukan murid yang bodoh, kalau saja dia bodoh dan terus melamun seperti ini, Vina yakin sahabatnya itu tidak akan bisa melanjutkan ke universitas.

Mira, Faya, Vina, dan Yuna. Empat sekawan yang ditakdirkan Tuhan berjodoh hingga bisa terus sekelas selama 6 tahun, dari mulai kelas 1 SMP hingga 3 SMA. Kebetulan yang menyenangkan, dan campur tangan Tuhan yang luar biasa. Dan ajaibnya, keputusan mereka dalam memilih universitas juga sama, hanya beda jurusan saja. Yuna dan Vina berencana mengambil jurusan akuntansi, sedangkan Faya dan Mira mengambil jurusan manajemen bisnis.

"Lu lagi mikirin apa sih, Ra?" tanya Faya.

Yang ditanya hanya tersenyum simpul.

"Lu gak lagi mikirin cinta pertama lu kan? Ra, please, itu cuma cinta monyet. Lu tahu monyet kan? Berbulu dan suka makan pisang," tutur Yuna.

"Apa hubungannya sih cinta monyet sama ciri-ciri monyet?" sergah Vina sambil menyenggol lengan Yuna.

"Sudah-sudah, kok malah jadi bahas monyet," kata Faya melerai, "Ra, lu harus belajar! Ujian sudah dekat. Kan kita sudah sepakat mau kuliah di tempat yang sama, kalau lu melamun terus seperti ini. Gimana nanti hasilnya?" kata Faya menasehati.

"Maaf, Fa. Akhir-akhir ini gue kepikiran terus sama Mas Ryan. Seperti akan ada hal yang terjadi antara gue sama Mas Ryan," jelas Mira merasa sedih. Faya benar, Mira harus fokus pada tujuannya sekarang, lulus ujian dengan nilai yang cukup untuk bisa masuk universitas.

PAINFUL LOVE [COMPLETE]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang