Welcome Baby

2.5K 100 4
                                        

Mira segera menyelonjorkan kaki begitu tubuhnya menemukan kenyamanan sofa ruang keluarga. Rasanya seperti berjalan berpuluh kilo, padahal hanya berputar-putar di mall. Nusa meletakkan semua tas belanjaan di atas karpet bulu lembut berwarna putih gading. Ia berjalan ke arah dapur, mengambil sebotol jus jeruk dan menuangkannya ke dalam gelas kaca.

"Ehm, Bang. Kenapa kamu tadi bilang seperti itu ke Mas Ryan? Apa pengirim bingkisan itu benar Mas Ryan?" tanya Mira penasaran saat Nusa sudah kembali duduk di sampingnya. Ia menerima segelas jus dingin dari tangan Nusa dan menenggak seperempat isinya.

"Entahlah." Nusa hanya mengangkat bahu.

"Loh? Kok?"

"Aku cuma coba-coba saja, Ra. Kalau memang Ryan, dia pasti tidak akan berani mengirimkan bingkisan untuk kamu lagi, karena berpikir aku sudah tahu semuanya."

"Oh gitu."

"Tapi kalau bingkisan itu masih terus datang, mungkin orang lain yang mengirimnya."

Mira mengangguk pelan, paham akan maksud Nusa. Nusa meletakkan gelasnya di atas meja dan tiba-tiba beringsut duduk bersila di bawah kaki Mira. Dengan perlahan Nusa mengangkat kaki Mira dan memangku keduanya, mulai memijat telapak kaki istrinya. Dia bersyukur, setidaknya menghabiskan waktu 5 jam berselancar internet untuk mempelajari cara pijatan ibu hamil, mampu membuatnya merasa menjadi suami yang dapat diandalkan untuk Mira saat ia kelelahan.

"Aduh, Bang. Gak usah kaya gitu," kata Mira yang merasa sungkan pada Nusa. Jelas tadi Nusa lah yang membawa semua tas belanjaannya, tentu Nusa tak kalah lelah dengan dirinya sekarang.

"Sudah, jangan menolak, Ra! Aku tahu kamu pasti capek kan jalan-jalan terus dari tadi," jawab Nusa yang masih terus memijat kaki Mira.

Mira tak lagi membantah, kini dia hanya menatap Nusa sambil tersenyum senang. Sungguh Mira merasa beruntung bisa menjadi istri seorang Nusa. Orang yang dengan sepenuh hati bersedia mencintainya, menerima segala kekurangannya, bahkan menerima janin yang jelas bukan darah dagingnya.

"Tuhan, kenapa tidak sejak awal aku mencintainya? Kenapa harus ada Mas Ryan sebelum Bang Nusa? Tapi aku sungguh bersyukur, segenap hati aku berterima kasih Kau menjodohkanku dengannya. Lihatlah Nak, aku yakin kamu akan bahagia memiliki ayah seperti dia," batin Mira sembari mengelus perutnya.

"Ayo kita ke Australia, Ra!" ajak Nusa.

"Apa?" tanya Mira memastikan ucapan Nusa.

"Aku mendapat tawaran dari teman kuliahku di sana, dia punya swalayan besar dan ingin aku mengelolanya. Setelah kamu melahirkan anak kita, jika kamu tidak keberatan, apakah kamu mau ikut denganku ke sana?"

Cukup lama Mira terdiam, mencerna setiap kalimat yang di ucapkan Nusa. Pergi meninggalkan Indonesia, berarti meninggalkan keluarga dan teman-temannya. Meninggalkan Sun Bakery yang telah ia bangun dari awal. Pikirannya jauh melayang, membayangkan bagaimana nanti jika ia ada di sana. Jauh dari segala hal yang akan ia rindukan bahkan jika hanya ditinggalkan sebentar saja.

Mira menatap wajah Nusa yang penuh dengan kesungguhan. Tentu saja pekerjaan Nusa nantinya akan semakin menjamin masa depan keluarga kecil mereka. Namun memikirkan jika ia akan berpindah benua, sanggupkah ia membesarkan anaknya sendiri tanpa bantuan keluarganya.

"Tentu saja aku akan menolaknya jika memang kamu keberatan, Ra," kata Nusa memecah lamunan Mira. "Aku akan tetap di sini bersama kamu jika kamu memang tak ingin pergi ke sana."

Mira menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.

"Aku mau kok, Bang," jawab Mira.

"Kamu, kamu serius, Ra?" Binar mata Nusa memastikan kesungguhan Mira.

PAINFUL LOVE [COMPLETE]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang