"Karena tak ada istana dengan dua ratu di dalamnya"
--Miranda--
Matahari di ufuk barat masih belum tenggelam sempurna, tampak semburat mega melukis langit Surabaya sore ini. Mira mengantar para pekerja Sun Bakery keluar dari toko. Hari ini Mira memutuskan untuk menutup toko lebih awal mengingat sejak pagi toko sudah kebanjiran orderan. Dia yakin karyawannya pasti senang dengan hadiah kecil dari Mira, bisa pulang lebih awal di akhir pekan untuk berkumpul dengan keluarga. Para pekerja berpamitan, kembali ke rumah masing-masing.
"Malam ini lu pulang?" tanya Vina sambil berjalan menuju sepeda motor miliknya di area parkir.
"Belum tahu juga," jawab Mira.
"Mending lu pulang deh, Ra. Tante Risa khawatir sama lu kalau lu nginep di toko. Lu baru keluar dari rumah sakit lho."
"Gue gak apa-apa, Vin. Lagi pula, gue udah keluar sejak seminggu yang lalu, bukan baru kemarin."
"Iya, tapi kan gue tetep khawatir sama lu."
Mira mencubit pipi Vina, gemas dengan sikap sahabatnya ini.
"Gue gak apa-apa. Kalau gue sakit, lu jadi orang pertama yang gue telepon," kata Mira menenangkan Vina.
"Eh, gue? Bukan Bang Nusa?" goda Vina.
Kali ini, tangan Mira tepat sasaran menoyor kepala Vina. Pipinya menghangat, bersemu merah. Vina tertawa sambil memakai helm, puas menggoda Mira.
"Atau jangan-jangan, lu tutup toko cepat-cepat karena mau nge-date sama Bang Nusa?" tanya Vina masih terus menggoda Mira.
"Tuh kan, kebanyakan lihat sinetron. Pinter kalau ngehayal," omel Mira.
"Hahaha. Ya udah, gue balik duluan. Bye, Ra! Jangan tidur malam-malam," kata Vina berpamitan.
"Siap, Madam Vina," kata Mira.
Vina mengendarai motor matic miliknya, keluar dari halaman toko. Di antara empat sekawan, hanya Vina yang tidak bisa mengendarai mobil. Fakta lucu yang terkadang jadi bahan ledekan ketiga temannya.
Mira berjalan masuk kembali ke dalam toko. Dia naik ke lantai dua, membuka lemari dan mengeluarkan training hodie olah raga dengan celana legging hitam. Jogging sore tampaknya ide yang bagus untuk memperbaiki mood sekaligus menjaga kesehatannya. Entah sudah berapa lama ia tak berolah raga, tak salah rasanya jika kini kesehatan tubuhnya memberontak.
Selesai mengenakan baju olah raganya, Mira teringat bahwa sepatu runningnya ia simpan di kotak kardus di atas lemari. Dia mendongak, melihat kotak berwarna hijau itu. Mira berjinjit, mengangkat tangan setinggi mungkin mencoba meraih kotak di atas lemari. Saat berhasil meraih kotak sepatu, tangannya tak sengaja menyenggol sesuatu hingga benda itu meluncur jatuh di sampingnya. Bunyi kelontang cukup keras terdengar begitu benda itu menyentuh lantai.
Mira membungkuk, memungut kotak kaleng berwarna biru muda dengan hiasan gambar awan di tutupnya. Dia duduk di tepi ranjang, meletakkan kotak kardus sepatu di samping kakinya, dan mengalihkan perhatiannya ke kotak kaleng. Mira penasaran dengan isinya, bahkan dia sampai lupa jika pernah menyimpan benda seperti ini di atas lemari.
Kotak itu bedebu, tampak tak pernah tersentuh sekian lama. Mira mencoba membuka tutup kaleng, sedikit kesulitan karena bagian tepi tutupnya mulai berkarat. Begitu tutup kotak berhasil terbuka, hatinya kembali berdetak kencang, matanya nanar menatap isinya. Ada banyak sekali barang-barang yang telah mengisi sebagian besar hidupnya. Dua lembar tiket bioskop saat pertama kali dia dan Ryan berkencan. Jepit rambut pertama bermotif bunga yang dibelikan Ryan. Dan macam-macam hal yang Mira simpan sebagai kenangan kebersamaannya dengan Ryan.
KAMU SEDANG MEMBACA
PAINFUL LOVE [COMPLETE]
RomantizmCerita Sudah Lengkap dan Masih Utuh Tidak untuk DIJIPLAK !!! *** Mira dan Ryan, dua manusia yang saling mencintai. Bagaikan kisah romance Romeo dan Juliet, mereka berdua harus menyembunyikan kisah cinta mereka karena terhalang restu dari kedua kelua...
![PAINFUL LOVE [COMPLETE]](https://img.wattpad.com/cover/208167785-64-k865445.jpg)