"Kamu habisin aja, Jun. Aku makan di kantin."
Belum sempat Juna menjawab, Zetta sudah lebih dulu beranjak dari kursinya hingga menyisakan derit ngilu. Gadis itu tak lagi menoleh, langkahnya memacu cepat meninggalkan kelas.
Sepekan ini, Zetta selalu seperti itu. Bekal yang ia bawa tidak pernah disentuh melainkan Juna yang habiskan seorang diri.
Manik jelaga Juna menatap datar Zetta yang bediri persis di depan kelas bersama pacarnya. Huh, Juna tidak sadar sudah mendengkus dan menggeleng miris. Kedua remaja itu bercakap singkat sebelum bergandengan menembus keramaian koridor.
"Nggak usah nelangsa gitu, Jun, namanya juga orang kasmaran. Lagi manis-manisnya, ntar kalau bosen juga bakal balik sendiri ke habitat aslinya," celetuk Gea dari belakang. Gadis itu memutar bola mata malas pada arah hilangnya Zetta dan sang pujaan hati. "Lo mau ikut ke kantin nggak, Jun? Daripada sendirian di sini sementara teman makan lo lagi sibuk sama pacar barunya."
"Kalian aja."
Juna meraih kotak bekal berwarna biru milik Zetta yang teronggok di tengah meja gadis itu. Membuka penutupnya perlahan. Aroma sedap ayam kecap seketika menggelitik penciuman. Cacing-cacing peliharaan Juna sudah mengajukan protes minta segera diisi. Sambil menghela napas, diraihnya sendok yang terselip pada tas bekal. Menyuap makan siangnya hari ini dalam diam, dan keheningan.
Sementara di sisi lain, sang empunya bekal justru duduk bertopang dagu mendengar kelakar teman-teman barunya di sudut kantin sembari menunggu pesanan mereka dibawa Chandra.
Sejak resmi berpacaran sepekan lalu, Zetta jadi lebih akrab dengan mereka. Setiap jam istirahat, Ares akan mampir ke kelasnya, membawa gadis itu ke tongkrongan di warung belakang sekolah. Area keramat bagi anak baik-baik lantaran populasi yang mendiami tempat terlarang itu hanya para badung Darma yang suka membuat masalah.
Mereka biasa menjadikan kantin reyok berdindingkan kayu yang terletak beberapa meter dari gerbang belakang sekolah itu sebagai tempat pelarian dari jam pelajaran yang membosankan. Di sana mereka bisa bebas melakukan apa saja; merokok, bermain kartu remi, menghelat konser tunggal super kocak, pacaran dan sebangsanya. Entahlah, selama sepekan bertandang ke sana, Zetta hanya baru melihat hal-hal tersebut.
Dulu Zetta berjanji pada dirinya untuk tidak mendekati tempat keramat itu, melintas pun tidak usah, wajah penuh seringai para badung di sana membuatnya bergidik ngeri.
Tapi lihatlah, sekarang ia jadi salah satu dari mereka. Bahkan menikmati keriuhan, terhibur dengan kelakar yang mereka lempar. Seringai yang katanya mengerikan itu, kini terlihat seperti cengir kejenakaan. Walau yang sedikit menganggu kenyamanan Zetta di tempat itu adalah asap rokok pekat yang terkadang membuatnya sesak.
Di sana mereka bebas jadi apa yang mereka mau. Bernapas tenang dari aturan sekolah yang rasanya mencekik kebebasan. Motto yang mereka usung adalah, aturan ada untuk dilanggar.
Namun, Zetta masih sadar betul batasan. Dia hanya sekadar makan dan menikmati obrolan ngalor-ngidul yang diselipi umpatan Ares serta teman-temannya. Ia tidak ingin mengikuti gaya mereka. Dia masih Zetta yang patuh terhadap aturan. Ah, bahkan kini dia sudah melanggar satu peraturan—menyelinap keluar area sekolah.
Masih bisakah ia dikatakan patuh pada peraturan?
"Ares! Usil banget sih lo!"
Zetta tersentak dari lamunan. Ia menegakkan punggung, memutar mata ke arah satu lagi perempuan di meja panjang berisikan enam orang ini selain dirinya. Tanpa sadar, napas Zetta terhela berat. Dengan menekan suara setan yang menghasutnya, Zetta menyibukkan diri dengan memotong batagornya yang baru tiba menjadi potongan kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Arzetta #ODOC [COMPLETED]
Teen FictionArzetta Qirani Akbar hanya menginginkan sebuah kebebasan. Namun, begitu kebebasan dalam genggamannya, Zetta tidak merasa lega. Ia justru merasa hampa dan kosong. Ia kehilangan banyak hal. Copyright © 2019 by Welaharmy_21 --- [Sedang Dalam Proses Rev...
![Arzetta #ODOC [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/207174993-64-k534148.jpg)